
“Ros!” panggil Umi lagi, saat melihat ku ingin membuka kamar ku setelah menghidangkan kue tersebut.
Aku pun berjalan dengan malas ke arah Umi. “Ada apa Umi?” tanya ku.
“Ayo, sekarang buatkan sarapan untuk Suami mu.” ajak Umi menggandeng tanganku ke arah luar. Tepatnya di sana ada tungku yang terbuat dari batu.
Tiga buah batu sungai yang cukup besar di susun membentuk segitiga. Di sana ada panci besar, kuali besar, dan semuanya sangat besar.
“Kupas dan iris ini!” perintah Umi menyerahkan bawang merah dan bawang putih padaku.
“Nah, ini juga.” lanjutnya, memberikan bawang prai dan beberapa biji cabe merah dan rawit.
Umi mengulek beberapa biji bawang merah dan putih, ada juga beberapa yang aku tidak tahu. Setelah bumbu itu halus, Umi mengambil nasi di dalam panci yang sangat besar itu, di daerah ku namanya Dandang.
Nasi itu di aduk-aduk Umi dengan sendok, katanya agar nasi nya berderai. Setelah itu, ia menuangkan sedikit minyak ke dalam kuali itu, menumis bawang putih lalu bawang merah yang sudah aku iris itu, menumisnya hingga harum, lalu memasukkan bumbu yang telah ia giling, kemudian cabe merah dan cabe rawit iris, lalu nasi dan bawang prai.
“Ini telurnya Uni.” ucap Mama kepada Umi yang baru datang membawa banyak telur.
“Goreng telur nya, Ros.” pinta Umi pada ku, dan ia masih fokus akan pekerjaan nya.
Aku menatap Mama, ia pura-pura tidak tau, bersenandung memasukkan semua telur ke dalam panci kecil, dan ingin merebus nya.
“Ini semua, goreng mata sapi.” perintah Umi lagi memberikan beberapa butir telur dalam ember yang sudah di sisihkan Mama.
“Umi...” rengek ku.
“Belajar Ros. Kamu sudah menikah.” ucap Nenek mengelus kepala ku dari belakang. Entah sejak kapan Nenek menguping pembicaraan kami.
“Aku gak bisa, Nek...” Aku mengadu pada Nenek yang selalu memanjakan ku itu, berharap kali ini beliau juga akan membela. Nihil, sekarang beliau tidak berpihak pada ku.
__ADS_1
“Nenek di sini, sekarang waktu nya belajar Sayang. Nanti, Suami kamu kalau lapar mau di kasih makan apa? Gak mungkin kan Ibu atau Nenek yang masak kan? Atau pun makan di beli? Seorang Suami itu akan lebih suka jika yang memasak itu Istri nya.” tutur Nenek.
Dan akhirnya, Aku belajar memasak dadakan.
Aku mencoba menggoreng telur ceplok. Saking deg-degan nya, aku telah memasukkan telur sebelum minyak panas. “Ah, ini akibat terlalu dimanjakan. Masak telur saja tidak bisa!” celetuk Paman galak ku yang entah mengapa dia datang ke dapur ini.
“Jelas-jelas tempat masak itu untuk perempuan. Ngapain sih kesini? Pasti cuma buat marah-marahin aku. Dasar Yhudis!!!” dongkol ku dalam hati.
Ya, aku memberi nya nama Yhudis. Nama tokoh si jahat dalam film Saras 008, yang jahat sama my loveku jeklin. Film yang sering aku tonton waktu kecil, film anak zaman 90 an.
“Aaahhhh!!!” Aku berteriak dan cepat berdiri menjauh karena cipratan Minyak panas.
Bergegas Umi mengerjakan pekerjaan yang aku telantarkan itu. Nenek dengan cepat mengoles pasta gigi di tangan ku, kemudian Mama mengambil alih menggoreng telur ceplok, menggantikan pekerjaan ku yang tidak becus itu. Karena tak ingin melihat Umi memasak sekali dua dengan repot.
Mama dan Umi sangat gesit sekali, tangan mereka begitu lihai. Aku menonton pertunjukan hebat itu, biasanya aku jarang ke dapur. Bisa di bilang, aku tidak tau proses memasak yang di kerjakan Ibu selama ini. Yang aku tau, hanya memakan nya saja.
“Lihat! Kenapa orang bisa dan kenapa kamu tidak bisa? Mulai besok kamu harus belajar memasak.” ucap Paman, lalu berjalan menjauh membawa satu teko air putih.
Saat aku menghidangkan nasi goreng itu, dia memegang tanganku yang di oleskan pasta. “Kena cipratan minyak panas ya?” tanyanya.
“Iya.” balas ku mencoba melepaskan tangan nya.
Dia langsung berdiri. “Kemarilah.” panggilnya yang masuk ke dalam kamar. Kemudian ia memberikan aku sejenis minyak dalam botol kecil.
“Cuci dulu pasta nya ya, lalu oleskan minyak ini, agar cepat sembuh dan tidak meninggalkan noda hitam bekas cipratannya.” ucapnya. Lalu ia kembali ke luar.
Dan aku pun melakukan apa yang ia ucap kan barusan.
Setelah selesai mengoles tanganku, aku membaringkan tubuh ku di ranjang, lelah sekali. Tidur baru beberapa jam, sekarang harus melakukan ini dan itu repot sekali.
__ADS_1
Dan akhirnya aku tertidur dengan posisi kaki menjuntai di lantai. Entah berapa lama aku tertidur, sehingga aku terbangun mendengar sebuah suara memanggilku.
“Rosa!” Elvina dan Filya telah memukul-mukul paha ku. “Woy bangun, tukang tidur!" ucap mereka berkacak pinggang.
Setelah aku menyadari kalau itu suara temanku. Aku langsung menaikkan kaki ku yang menjuntai ke atas kasur dan membenarkan tubuh ku, berbaring dengan nyaman membelakanginya.
Elvina masih saja cerewet memekakkan gendang telinga ku, begitupula dengan Filya menepuk-nepuk kakiku. “Rosa, bangun woyy!!! Sebentar lagi kau harus di rias, tamu sebentar lagi akan datang.”
“What? Tamu??” Ahhhhhhh!!! Aku terlonjak kaget, benar aku masih menjadi pengantin. Masih panjang penyiksaan yang harus ku jalani sampai pesta ini berakhir.
Aku memijat pelipis ku yang tiba-tiba berdenyut, kepala ku mendadak pusing, mungkin karena langsung duduk saat terbangun.
“Cepatlah, cuci muka mu.” Elvina menyeret tangan ku.
Ya, setelah aku mencuci wajahku. Tukang rias sudah berada di dalam kamar ku. Dan sekarang waktu nya untuk di poles wajah seperti topeng, bedak tebal, lipstik tebal, dan pasti merah menyala lagi.
Haaaah!!! Aku menghela nafas panjang, kemudian berbaring. Setelah aku berbaring, perias mulai mengotak-atik wajah ku. Mulai dari bilas pakai spon basah, alas bedak tebal yang bikin wajah pucat kek hantu, sampe coret-coret mata ku atas bawah.
Proses yang sangat lama, sampai aku tertidur kembali beberapa saat. “Ros, bangun. Malah tidur lagi si tukang tidur ini!” ketus Elvina.
“Biar aja gak apa-apa Kak, mungkin kecapekan begadang semalam. Biasanya memang begitu karena kurang tidur.” bela perias.
“Dia begadang atau pun tidak, memang si tukang tidur Kak.” jawab Filya yang tidak terima ucapan perias itu.
“Dasar teman ku yang menyebalkan ini, cerewet sekali.” semburku.
“Bangun Ros!!”
“Iya, iya, aku sudah bangun.” ketus ku.
__ADS_1
“Eh, Kakak sudah bangun. Ayo Kak, kita ganti baju nya, pagi ini kita pakai baju ini dulu sampai siang, siang sampai sore baju ini, malam baru kita pakai baju anak daro lagi ya.” jelas perias itu.
Kemudian segera mengambil baju dan aksesoris baju yang akan Aku pakai.