(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Jamba


__ADS_3

Waktu terus berputar, Aku dan semua orang bersiap hendak ke rumah mertua ku dengan jamba. Di kampung ku, setiap menantu di malam penutup pesta akan datang ke rumah mertua mereka.


Sedangkan di tempat pengantin laki-laki saat itu, sedang di adakan Alek Induak Bako. Di karenakan Alek Induak Bako lebih harus dulu dilaksanakan kemarin nya di tempat perempuan.


Jamba yang di bawa tergantung kemampuan dan gaya pesta yang di lakukan. Jika hanya pesta satu malam boleh jamba 3, 5, atau 7. Sedangkan pesta di acara ku yang berlangsung 3 hari itu, aku bisa membawa jamba 5, 7, atau 11.


Apa sih yang dimaksud dengan angka ganjil itu?


Jujur, awalnya aku tidak tau dan tidak mengerti. Namun akhirnya dijelaskan pada ku.


Selesai magrib, aku dipasangkan baju selayar berwarna orange, namun baju anak daro merah menyala dan suntiang tetap dibawa, karena aku harus berganti pakaian kembali di tempat pengantin pria nanti.


2 rantang besar itu isi nya lauk pauk. Ya, Aku membawa jamba 11. Setiap rantang yang berlapis 4 itu isi nya lauk pauk. Mulai dari 11 telur mata sapi, 11 potong daging rendang, 11 ikan bakar, 11 goreng ayam, 11 goreng ikan, 11 potong ikan tempoyak, 11 goreng telur bulat, 11 goreng belut cabe ijau, 11 ayam bakar, 11 dendeng balado, 1 ekor full ayam singgang dengan hiasan.


1 tar kue pengantin, 1 piring pulut kuning dengan pinyaram (Dimasak dengan beras pulut yang ditambahkan gula merah), 1 piring pulut putih dengan kue kembang loyang, kue ikan serta kalamai (seperti dodol tapi lebih berminyak)


Nah, sekarang tau kan, apa artinya jamba? Jamba adalah oleh-oleh tangan, atau masakan yang akan diantarkan ke rumah keluarga laki-laki oleh mempelai perempuan di hari terakhir pesta dirumahnya, namun acara puncak di tempat laki-laki.


Saat aku datang, semua hidangan itu diletakkan di tengah-tengah pelaminan, semua Ibu-ibu mulai melirik, tentu saja ada yang memuji dan mengejek. Itulah sifat ibu-ibu para penggosip. Jadi saya tidak kaget.


“Wah, kue nya bagus ya.” ucap seorang Ibu yang terkesima melihat kue pengantin yang tinggi dan besar itu.


“Hah, cuma kue yang dibeli, apa bangganya.” balas Ibu yang disebelahnya.


Ingin rasanya ku sumpal mulut nya. "Emang nya situ bisa buat kue untuk mertua? Mau aku beli atau tidak, yang habiskan uang ku, yang lain pun juga beli kan? Emang aku ini hidup zaman Ibu ku? Harus bikin kue dan belajar bikin kue mati-matian, buat nyenengin mertua?" kesal ku dalam hati.


"Wah, enak ya punya menantu begini, bawaannya 11 jamba." ucap Ibu yang lain.


"Enak sih, tapi enak juga balasan nya." jawab Ibu yang lain.


Bla.. bla... bla.. Dan masih banyak lagi mulut-mulut yang berserakan, mulai dari mengejek dan memuji.


Aku menatap semua wanita-wanita yang menyalin makanan yang aku bawa dengan keluargaku itu ke wadah baru, tapi dari banyaknya wanita di sana, entah yang mana keluarga dekat suamiku, tepatnya mertua ku.


Aku di jodohkan, aku tidak kenal mertuaku. Dan hari ini, hari pertama ku berkunjung ke rumah mertuaku. Aneh sih, tapi sepertinya Allah terlalu memudahkan pernikahan serta pesta pernikahanku.


Apa ini yang di sebut dengan JODOH?

__ADS_1


Setelah semua tersusun indah, pantun pun mulai bersahutan. Aku dan pria asing berstatus suami itu, harus kembali memakai pakaian merah menyala dan suntiang emas. Dan Aku pun harus bersanding di rumah mempelai pria, di mulai dengan acara bedak dari Induak Bako (Keluarga dari ayah suami ku), sampai ritual lain nya.


Seperti di tempat ku, kini jari-jemari suami ku sudah seperti pedagang emas, penuh berlimpah. Bahkan ada yang membawa wajan dan kuali, selimut, piring. Ahhhhh, pokoknya semua pecah belah lengkap.


"Kenapa sih, di setiap kampung, pestanya begini? Kenapa gak kasih uang aja, biar gak ribet dan repot kan?" pikir ku.


Acara mereka pun selesai. Sekarang mereka makan, dan kami masih menebar senyum Pepsodent kepada semua tamu, sebentar berdiri, lalu duduk. Pokoknya melelahkan.


Hingga malam pun semakin larut. Tamu sudah mulai sepi, tidak terlalu ramai lagi, Aku pun bisa duduk santai, dan mulai menikmati musik yang terdengar dari pentas di ujung sana.


Lama-lama ku dengar, aku pun akhirnya kesal sendiri dengan nyanyi itu. Bagaimana tidak, artis itu mengingatkan aku pada Uda Qian, mantan yang masih aku cintai.


Beginilah sedikit lirik nya.


Kalau lah siang tabayang-bayang,


Tibo lah malam jadi rasian,


Oi Da Kanduang, Uda den Sayang,


Lah padiah Denai di seso bayang,


Uda nan di nanti tak kunjuang Tibo,


Sadangkan buruang nan tabang tinggi, kalau nyo rindu babaliak pulang.


Jika siang terbayang-bayang,


Datang malam jadi mimpi,


Uda, Uda yang ku Sayang,


Aku sakit tersiksa bayang,


Aku rindu siang dan malam,


Uda ku tunggu, tak datang juga,

__ADS_1


Sedangkan burung saja jika rindu, kembali pulang.


“Ah, dasar tuh penyanyi. Bikin galau aja. Kan aku jadi kepikiran Uda Qian kembali.” gumam ku dalam hati, sambil menggoyang-goyang kaki ku.


“Kamu capek ya, Dek?” tanya pria disamping ku, siapa lagi kalau bukan suami ku, membuat aku tekejut saja.


“Lumayan.” jawab ku singkat.


Lalu, kami kembali duduk dan hening melanda.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 12 malam lebih. Aku dan rombongan ku kembali ke rumah ku, meninggalkan acara yang masih berlangsung ramai di rumah keluarga mertua ku.


Suamiku?


Tentu saja Aku bawa. Di daerah ku, jika seorang suami sudah di antar dengan Adat, dia sudah menjadi milik ku. Begitu!!! Hehehehe.


Berbeda dengan film yang aku tonton, Istri akan di bawa sang suami ke rumah mertua, apalagi kalau film kerajaan zaman dulu yang aku tonton, sang Istri makan hati karena tinggal di rumah mertua.


Di daerah ku sangat berbeda. Karena, semua suami akan dibawa pulang ke rumah mempelai perempuan.


Kecuali, laki-laki itu merantau dan sudah memiliki rumah, baru bisa hidup menyisih, itupun harus menunggu 1 sampai 2 bulan dengan izin keluarga, baru boleh pindah.


Akhirnya, Aku dan rombongan sampai di rumah ku. Di rumahku juga sedang ada Alek Mamak (Malam pesta penutup yang isi nya Mamak, Datuak, Sumando, dan beberapa laki-laki tertentu, yang berkepentingan).


Mereka akan membakar kemenyan dalam piring lalu merapal Do'a, lalu setelah itu makan bersama. Setelah makan, setiap piring akan di telungkupi dan di tinggalkan amplop di dalam sana.


Ada satu yang membuat ku bingung, apakah membakar kemenyan itu penting saat kita melakukan Do'a? Bukan kah itu terlihat seperti....???? Ah, sudahlah. Aku jadi bingung.


**


Hallo Syafi Lovers🤗


Salam kenal ya semuanya🌹


Tetap dukung selalu ya, dengan meninggalkan like, vote, rate bintang lima dan komentar positif nya...


Dan hadiah, sangat-sangat boleh bangeeeeeeeet loh🌹

__ADS_1


Makasih Syafi Lovers 🌹🤗


Semoga terhibur.


__ADS_2