
Aku benar-benar lelah, gerah dan sangat ngantuk. Untung sekali, malam ini sudah di izinkan mandi, tidak hanya membasuh-basuh saja. Aku merasa sangat lega sekali.
Aku dan Suami ku mandi bergantian, setelah itu kami makan bersama, makanan itu sudah di siapkan oleh Umi ku. Sedangkan yang lain nya membereskan peralatan pesta, mulai menyusun kursi satu persatu sampai lain-lainnya.
Tante-tante ku mulai bergotong royong mencuci semua yang kotor, padahal sudah malam. Tapi mereka masih rajin, dan malam ini mereka hanya ditemani dengan musik speaker. Karena, malam ini kami tidak menyewa artis atau pun pendendang Ronggeang lagi.
Setelah makan, Aku benar-benar sangat mengantuk sekali. Aku langsung masuk ke dalam kamar ku, tanpa mengajak suami ku. Ini semua bukan ku sengaja, Aku benar-benar lupa dan belum sadar sepenuhnya, akan status ku sekarang.
Aku sudah tertidur nyenyak, namun tidur ku terganggu oleh Ibu dan Tante-tante ku yang lainnya, mereka mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.
“Ros!!!”
“Ros!!!”
“ROOOOOSSSSS!!!" Suara panggilan itu makin tinggi dan menyebalkan.
Aku membuka pintu dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan, sungguh kesal sekali rasanya tidurku di ganggu.
“Kau ini ya, tega nya kau!” Berkata dengan berkacak pinggang. “Kau membiarkan Suamimu tidur di luar? Apa kata orang? Hah??" ucap Ibu ku, lalu mengeluarkan jurus capit kepiting nya yang menempel di daun telinga ku.
“Ros, kau ini gimana sih? Sana, bawa Suami mu masuk ke dalam kamar!” perintah Mama, adik Ibu ku.
“Jangan sampai orang-orang bergosip, masih banyak orang lain dan tetangga di rumah kita bantu-bantu loh.” sambung Amak, adik ibu ku yang baru datang menyusul.
“Iya nih, udah besar juga. Apa kau mau di gosipkan orang, kalau kalian baru nikah sudah bertengkar dan pisah ranjang?” tanya Uncu, lalu mengeluarkan jurus capit kepiting juga di daun telingaku.
“Aduuu...dudu..duuhh... Aduh Sakit." jawab ku mengelus-elus dua daun telinga ku, mungkin sekarang telingaku sudah berwarna merah.
“Sana, cepat!" perintah Ibu lagi.
Mereka membuntuti ku, berkacak pinggang dan memelotot. “Cepat, ajak suami mu pindah ke dalam kamar!!!” ucap Ibu masih memelotot.
“Iya...” jawab ku pasrah.
“Parah nih, semua emak-emak di keluarga ku udah kayak emak-emak bar-bar, cuma gara-gara menantu nya aku tinggalin tidur.” gumam ku.
Namun Uncu malah mendengar gumaman ku, dan akhirnya telinga ku harus mendapatkan jeweran lagi.
“Dasar Bodoh, cepat bawa suami mu. Bangun kan dia!”
Lalu, Uncu, Ibu, dan lain nya sedikit menjauh, namun masih mengintip apa yang aku lakukan. Jika mereka tidak mengintip, aku akan menendang kaki pria asing ini, seperti Aku membangunkan Adik-adik ku.
Ya, biasanya Aku membangunkan Adik-adik dan teman-teman ku memang begitu, menendang kaki mereka, atau memukul mereka, sampai mereka terbangun.
__ADS_1
Aku melihat nya yang sudah tertidur lelap beberapa saat, bulu mata lebat, hitam dan panjang, Ia tertidur pulas di atas sofa. Aku menarik lengan baju nya beberapa kali sembari menyuruhnya bangun.
“Hei, bangun.” ucap ku beberapa kali.
Aku menjadi kesal rasanya, seharusnya dia sudah bangun kan? Kenapa sih susah sekali, padahal Aku sudah melihat alisnya berkerut beberapa kali.
“Eh, bangun!" ucap ku ketus, menarik lengan baju nya agak kuat.
Dia membuka mata nya dan langsung menatap wajah ku. Ya, wajah ku memang sangat dekat dengan wajah nya sekarang. Tadi, saat dia belum bangun, aku sempat mendekat dan berniat menutup hidungnya agar tidak bisa bernafas. Menurut ku itu adalah ide paling bagus, iya kan?
Dia menatapku lekat. Aku pun juga terpana beberapa detik.
“Sudah bangun ya? Ayo, pindah. Tidur di dalam kamar.” ajak ku. Kemudian berjalan lebih dulu.
Beberapa saat Aku menunggu, Ia masih belum masuk. Dengan kesal aku berbalik kembali keluar hendak menjemput nya. Barangkali, dia kembali tertidur lagi.
Bruk!!!
“Aaaahhh, sakitnya!!!” seru ku setengah berteriak, kesal bercampur perih di kening ku, membuat emosi ku meledak.
“Maaf, maaf, Dek. Sini lihat.” ucap pria asing yang menabrak ku itu. Kening ku terjedot dengan sikutnya.
Kenapa bisa? Seharusnya kalau orang bertabrakan itu kan terhempas nya di dada sang cowok. Lah Aku, malah sikut mencium kening. Benjol deh!
“Ayo, duduk dulu. Biar Uda kompres ya.” ucap nya, lalu mengambil handuk kecil dan es, menempelkan di keningku.
“Maaf ya Dek, tadi Uda menguapnya gak lihat-lihat, jadi pas mengangkat tangan nya terlalu tinggi, malah kena jidat Adek. Tadi, Uda gak lihat Adek. Maaf ya.” ucap nya lagi, sembari mengompres jidat ku.
“Ya, gak apa-apa.”
“Sakit banget gak?” tanya nya.
“Gak. Udah ya, aku mau tidur.” balas ku.
“Hm, iya.”
Aku langsung tidur dan menyelimuti tubuhku, Dia pun juga tidur di samping ku.
**
Ribut-ribut terdengar suara dari luar, Aku dan Dia terbangun jam 10 pagi. Sangat luar biasa sekali untuk pengantin baru, membuat pikiran orang-orang traveling.
Setelah itu, Aku dan Dia pun bergantian mandi di kamar mandi ku.
__ADS_1
Hal pertama yang menyambut ku di luar kamar adalah para penggosip. Mereka mengira Aku bangun jam 10 pagi karena habis olahraga malam. Busyeet dah!
“Ehem-ehem." kode keras.
“Uhuk-uhuk." batuk jaim.
“Kenapa kalian? Apa kalian mau mati? Kalau sakit, sana berobat, jangan mengantarkan virus penyakit ke rumah ku.” ucap ku ketus.
Teman-teman ku itu malah tertawa, dan tentu saja pemimpinnya Elvina dan Filya.
“Ros, gimana malam pertama nya? Sakit gak?” tanya Elvina memulai perbincangan.
Aku menatap temanku itu. “Kalau kau penasaran, sono nikah sama pacarmu!” sahutku.
“Namanya juga penasaran Ros, sakit gak?”
“Iya, sakit banget. Sampe-sampe gak bisa bangun.” jawab ku judes.
“Waaah, perkasa sekali ya, suami mu Ros.” sambung teman ku yang lain.
“Ini obat pereda nyeri.” ucap Filya memberikan obat. Entah obat apa, Aku pun tak tau, dan tak peduli.
Hadeeeehh!!! Malah mereka menanggapi ucapakan ku dengan serius, apa mereka gak bisa baca ekspresi wajah kesal ku, ataukah mereka benar-benar bodoh?
“Bodoh!” ucap ku kesal, lalu meninggalkan mereka.
Mereka membuntuti Aku.
“Ngapain kalian membuntuti Aku? Pergi sana! Aku mau makan.” usir ku ketus.
“Kau ini, Ros!!!" protes mereka. Namun masih saja membuntuti aku.
“Ros...” Elvina mendekat memanggilku.
“Ros.”
“Rosa!”
“Aaaaahhh!!! Kalian ini!!!” pekik ku kesal.
“Apa kalian bodoh? Apa kalian gak bisa pintar sedikit, kalau kalian penasaran, kawin kalian semua sana. Noh, tanya sama Filya, dia kan udah punya Anak sama Revand.” ucap ku ketus.
“Kalian kan pernah pacaran! Kalian kan pernah nonton film legenda kamar, kalian kan pernah baca komik dewasa, kalian kan pernah baca majalah suci, ahhhhh!!! Apa musti aku jelaskan juga???”
__ADS_1
“Apa kalian melihat tubuh ku merah-merah? Kalian pikir aja deh, siapa yang sanggup olahraga tambahan setelah adakan resepsi pernikahan yang ribet dan melelahkan itu? Kalau ada, itu orangnya udah kebelet banget mah!!”
“Kalau aku sih, gak kebelet! Nikah ini aja, karena dijodohkan!” jelas ku kesal, lalu mengambil nasi dan lauk.