
...Nana yang mengetahui keadaan keluarga Arkan setelah Naga memberi kutukan kepada ibu dan kakaknya memutuskan untuk coba mempertimbangkan membantu Arkan. Mereka berdua langsung pergi untuk meminta izin kepada Nara sebelum pergi menemui Naga....
“Kak Nara!” sapa Nana yang langsung masuk ke dalam ruang kerja Nara setelah mengetuk pintu diikuti oleh Arkan.
“Hai Na, kamu lagi gak ada kesibukan di kampus?” tanya Nara ramah.
“Enggak kak, hoo iya ini Arkan adiknya mba Adler dan putranya bu Adinda.” jawab Nana sambil memperkenalkan Arkan.
“Halo kak Nara!” sapa Arkan yang mengangguk sambil terseyum dan dibalas Nara dengan senyum tipis.
“Ada apa Na, Arkan?” tanya Nara sambil melihat mereka berdua.
“Gini kak aku mau minta izin agar Nana bisa ikut aku untuk ngebujuk mas Naga terkait kutukan yang mas Naga kasih ke mamah dan kakakku kak.” jawab Arkan penuh harap sambil menatap Nara dengan mata berkaca - kaca.
“Kenapa gak kamu sendiri aja yang datang dan ngebujuk Naga?” tanya Nara penasaran yang tidak terkejut atas permintaan Arkan.
“Aku takut kalau aku yang menemui mas Naga, mas Naga akan langsung menyerangku atau mengutuk aku seperti mamah dan kakakku kak. Terlebih saat pengabdian masyarakat di desa Sukamanah, Nana adalah orang yang paling dekat dengan mas Naga dibanding kami semua.” jawab Arkan penuh harap.
“Aku tidak akan menutupi rasa kekhawatiranku jika Nana pergi menemui Naga untuk mewakili kamu dan membicarakan tentang keadaan keluarga kamu. Saran dari aku sebagai seorang psikiater yang pernah bertemu dan mengobrol dengan Naga, kamu sekeluarga harus bertanggung jawab terlebih dahulul atas apa yang keluarga kamu lakukan, setelah itu baru kamu ketemu dengan Naga dan bujuk Naga. Jika kamu melakukan hal itu ada kemungkinan Naga akan mempertimbangkan permintaanmu, tapi jika sebaliknya aku rasa Naga tidak akan memperdulikanmu termasuk Nana yang mewakilimu.” kata Nara ramah.
“Bagaimana aku dan keluargaku bisa bertanggung jawab jika keadaan mamah dan kakaku tidak bisa hidup normal kak? Aku janji akan bertanggung jawab atas semua kesalahan keluargaku, tapi aku ingin keluargaku bertanggung jawab dengan layak bukan dengan cara seperti ini.” jawab Arkan sambil meneteskan air mata.
“Aku mengerti Arkan, tapi dengan mempertimbangkan kepribadian Naga saranku adalah kesempatan terbaik yang kamu miliki saat ini. Aku juga yakin kamu tahu bagaimana caranya bertanggung jawab atas kesalahan keluargamu.” kata Nara ramah sambil menguatkan Arkan.
“Tidak bisakah kakak mengizinkan Nana membantuku hanya 1 hari saja?” tanya Arkan penuh harap sambil menatap Nara.
“Apa kamu berada bersama mamahmu atau kakakmu saat Naga memberikan kutukan kepada mereka?” tanya balik Nara.
“Aku sedang bersama mamaku saat mas Naga memberikan kutukan kepada mamah.” jawab Arkan lirih.
“Apa Naga melakukan sesuatu kepadamu?” tanya Nara kembali.
“Tidak, setelah memberikan mamah kutukan mas Naga langsung pergi begitu saja.” jawab Arkan lirih.
__ADS_1
“Itulah karakter Naga, jadi jika kamu meminta Nana, aku atau siapapun yang kamu kenal untuk bertemu dengan Naga mewakili kamu, Naga tidak akan memperdulikannya. Hanya kamu satu - satunya orang yang bisa menemui Naga untuk membujuk Naga tidak ada orang lain lagi yang bisa Arkan.” jawab Nara ramah.
“Baiklah kak, aku akan memikirkan cara lain. Maaf telah mengganggu waktunya.” kata Arkan kecewa yang langsung pamit pergi.
“Jika kalian tidak mau membantuku membujuk Naga padahal kalian bisa, maka akan aku pastikan kalian memanggil Naga dan membujuknya untuk menghentikan kutukannya kepada mamah dan kakakku.” bisik Arkan dalam hati dengan penuh tekad.
...
...Keesokah harinya saat Nana hendak pulang ke rumah tiba - tiba ada seorang pria yang membekap mulut dan hidung Nana dengan sebuah kain yang sudah diberi kloroform. Nana yang berontak mencoba melawan sekuat tenaga, tapi pria yang membekap Nana jauh lebih kuat daripada Nana sehingga 5 menit kemudian efek kloroform mulai terasa pada tubuh Nana yang membuat dia lemas hingga pingsan. Setelah pingsan Nana dibawa pergi ke suatu tempat dengan keadaan tangan diikat dan mulut ditutupi dengan lakban....
“Maaf Na, aku harus melakukaknnya!” kata Arkan yang melihat Nana sudah siuman dalam keadaan terikat pada sebuah kursi dengan mulut yang masih ditutup lakban.
“Aku akan menelpon kakakmu agar dia mau membujuk Naga.” lanjut Arkan sambil memegang handphone milik Nana yang sudah dia ambil.
“Mmmmmmmm.” kata Nana berusaha berbicara yang membuat Arkan mendekatinya lalu melepaskan lakbannya secara perlahan.
“Kakakku tidak bisa menghubungi mas Naga, hanya pak Ringgo yang bisa menghubungi mas Naga.” kata Nana yang tetap tenang.
“Benarkah? Akan aku buat kakakmu bisa menghubungi Naga.” jawab Arkan yang langsung mencari kontak Nara di handphone Nana.
“Nana sedang tidak bisa bicara saat ini kak. Aku tidak berniat melukai Nana, tapi aku ingin kakak membujuk Naga dan setelah kakak membujuk Naga aku akan memberikan alamat keberadaan Nana agar kakak bisa segera menjemput Nana.” jawab Arkan ramah yang putus asa.
“Arkan?” tanya Nara yang tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Mohon bantuannya kak, aku akan menunggu sampai kapanpun hingga kakak berhasil membujuk mas Naga.” jawab Arkan ramah yang putus asa dan langsung mengakhiri panggilannya dengan Nara.
“Kondisi psikologis Arkan sedang tidak stabil, meskipun dia berbicara dengan ramah tapi suaranya menngambarkan seberapa besar keputus asaannya. Aku gak boleh gegabah, aku harus segera menghubungi Naga.” bisik Nara dalam hatinya yang langsung mengambil kartu nama milik Naga yang Naga berikan saat Naga makan malam bersama di rumah Nara secara sembunyi - sembunyi yang diletakan di dapus saat membantu Nara hingga akhirnya berhasil di temukan oleh Nara.
“Halo Naga!” sapa Nara setelah Naga mengangkat teleponnya.
“Sudah kuduga kamu bisa dengan cepat menemukannya.” jawab Naga puas.
“Iya, tapi bukan karena hal itu aku menghubungi kamu saat ini. Nana sedang diculik oleh Arkan dan dia ingin kamu menghilangkan kutukan yang kamu berikan kepada mamah dan kakaknya Arkan ...” kata Nara yang tetap tenang.
__ADS_1
“Aku akan ke tempatmu.” potong Naga yang langsung mengakhiri panggilan dan pergi ke tempat Nara bekerja.
“Tok ... tok ... tok.” suara ketukan pintu dan Naga langsung masuk ke dalam ruang kerja Nara setelah tiba di tempat Nara bekerja dengan kekuatannya.
“Naga!” sapa Nara yang langsung berjalan menghampiri Naga.
“Dimana Nana disekap?” tanya Naga tegas.
“Arkan belum memberi alamatnya, dia akan memberi alamatnya setelah kamu menghilangkan kutukan dari mamah dan kakaknya.” jawab Nara ramah.
“Apa kamu bisa menghubungi Arkan?” tanya Naga memastikan.
“Ya bisa.” jawab Nara sambil mengangguk.
“Tolong hubungi dia lagi!” pinta Naga ramah.
“Jiwa iblis - kutukan perkataan!” lanjut Naga yang mengambil megaphone dari sosok yang muncul di samping kiri kepalanya.
“Ada apa kak Nara?” tanya Arkan yang langsung mengangkap panggilan dari Nara.
“Naga ingin berbicara sama kamu.” jawab Nara sambil mengaktifkan loudspeaker.
“Berikan alamat Nana saat ini!” kata Naga dengan menggunakan megaphone kutukan.
“Nana sedang bersamaku di gedung Farmasi G yang berlum selesai di bangun ...” jawab Arkan yang langsung dimatikan oleh Naga dan Naga langsung berdiri untuk menuju lokasi keberadaan Nana.
“Tunggu Ga, aku ikut!” kata Nara yang membuat langkah Naga terhenti.
“Sebaiknya kamu membawa sesuatu untuk menjemput Nana, seperti minuman, makanan ringan, dan mungkin jaket atau selimut untuk menghangatkan tubuh.” jawab Naga sambil melihat ke arah Nara.
“Hoo iya aku ada selimut disini sambil aku mengambil makanan dan minuman ringan.” jawab Nara setuju yang langsung berjalan ke arah mejanya untuk membawa beberapa barang yang dia perlukan.
...Saat Nara sedang menyiapkan barang - barang yang hendak dia bawa, tiba - tiba pintu terkunci dan Naga sudah berada diluar. Nara yang mengetahui bahwa dirinya dikunci dari luar oleh Naga langsung berlari ke arah pintu....
__ADS_1
“Naga! Naga! Buka pintunya Naga!” teriak Nara sambil mengetuk - ngetuk pintu.