
... Lucifer, Abyad, dan Awar silih bergantian menyerang Naga serta Yuri yang membuat mereka saling menyerang, bertahan, juga menghindar dengan sangat cepat. Lucifer, Abyad, dan Awal yang licik juga berusaha mengejar Nara serta Nana yang sedang berlari menjauh dari mereka, tapi selalu berhasil Naga halangi. Bahkan Naga dan Yuri berhasil menghempaskan mereka agar menjauh dari arah Nara serta Nana hingga membuat mereka frustasi dan fokus menyerang Naga dan Yuri....
“Apa semua orang sudah cukup jauh noona?” tanya Naga ramah sambil menatap para iblis di depannya dengan tatapan tajam.
“Sudah Naga.” jawab Yuri dengan suara mencekam.
“Baiklah ini waktunya kita menghabisi mereka bertiga.” kata Naga dengan penuh percaya diri yang seketika membuat katananya menjadi hangus dan mengeluarkan asap hitam.
“Mustahil! Apakah ini kutukan neraka jahanam? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengusasinya?” bisik Awar dalam hatinya terkejut merasakan hawa panas yang tidak asing disekitarnya ketika katana Naga berubah.
“Tidak salah lagi ini kutukan neraka jahanam!” kata Abyad terkejut.
“Kak Nara apa kak Nara merasa tenggorokan kakak kering? Apakah udaranya tiba - tiba menjadi panas atau hanya perasaanku saja ya?” tanya Nana yang masih berlari dengan bantuan kekuatan Maya.
“Ini artinya kita belum cukup jauh dari area pertarungan Naga!” kata Zuma yang baru tiba untuk membantu mengevakuasi mayarakat sekitar.
“Zuma apa kamu bisa membantu dengan kekuatanmu?” tanya Maya memastikan.
“Iya, aku datang kesini memang untuk itu!” jawab Zuma penuh percaya diri.
“Kutukan kelembutan - tanah melayang.” lanjut Zuma yang membuat tanah seluas dua meter persegi di depannya menjadi sebuah karpet terbang.
“Ayo naik!” ajak Zuma diikuti oleh Maya, Nara, dan Nana yang naik karpet terbang tersebut dan langsung pergi dengan cepat.
__ADS_1
“Tampaknya udaranya sudah kembali normal.” kata Nana sambil bernapas lega.
“Tidak, hanya saja kita sudah diluar jangkauan kekuatan Naga.” jawab Zuma penuh percaya diri sambil berdiri melihat ke arah Naga yang jauh.
“Kutukan pandangan - visual jarak jauh.” kata Maya yang seketika memunculkan kamera di sekitar Naga sehingga mereka bisa melihat pertarungan Naga.
“Naga benar - benar berada di level yang berbeda, bahkan dia bisa menguasai kutukan neraka jahanam.” kata Zuma terkejut kagum melihat katana Naga yang hangus dan mengeluarkan asap hitam selayaknya benda yang baru terbakar hingga padam.
“Bagaimana kamu yakin bahwa itu salah satu kutukan neraka? Tidak ada informasi apapun tentang hal tersebut karena kutukan tersebut berada di level yang hampir mustahil dikuasai ataupun dimiliki oleh manusia.” tanya Maya penasaran.
“Betul, tapi hawa panas tadi adalah salah satu buktinya dan lihat benda - benda di sekitar Naga serta para iblis tidak sedikit yang meleleh karena kepanasan. Satu - satunya jawaban yang bisa menjelaskan hal itu adalah kutukan neraka dan dengan area yang sangat besar tadi aku cukup yakin itu adalah kutukan neraka jahanam.” jawab Zuma penuh percaya diri sambil fokus melihat Naga dan para iblis yang hendak bertarung satu sama lain.
“Apakah Naga akan baik - baik saja ketika menggunakan kekuatan tersebut?” tanya Nara cemas sambil menatap Zuma yang membuat Zuma juga melihat ke arah Nara dengan raut wajah penuh keraguan.
... Dengan kekuatan kutukan neraka jahanam pada katananya, Naga langsung menerjang menyerang para iblis yang ada di depannya bersama Yuri. Para iblis yang tidak tahu dampak serangan kutukan neraka jahanam yang ada pada katanan Naga berusaha menghindar ketika Naga mulai mengayunkannya ke arah mereka. Seketika mereka dibuat terkejut ketika tebasan dari bilah katana Naga yang mereka hindari bisa membelah awan yang ada di langit menjadi dua....
“Ini bukan waktu yang tepat untuk kalian terkejut!” kata Naga sambil menatap Awar tajam dan langsung menebasnya secara vertikal yang langsung melenyapkan tubuh Awar hingga tak bersisa.
... Diwaktu yang sama pertarungan antara Ringgo melawan Khanzab juga berlangsung sengit dimana mereka saling menyerang satu sama lain. Kekuatan kutukan iblis yang dialirkan diseluruh tubuhnya untuk menyerang dan bertahan dapat diimbangi Ringgo dengan kekuatan hukuman budha miliknya. Namun setelah banyak serangan yang berhasil Ringgo tangkis, Ringgo baru menyadari semakin banyak dia menangkis atapun terkenan serangan Khanzab pandangannya semakin buram dan pikirannya semakin sulit untuk fokus....
“Apa kamu pikir selama bisa menahan seranganku dan membalas seranganku dengan kekuatanmu maka kamu lebih unggul?” tanya Khanzab yang menyadari efek kutukan iblis miliknya sudah menyebar masif di tubuh Ringgo sambil tersenyum sinis.
“Kekuatan kutukan iblisku adalah kutukan fokus dimana semakin banyak kamu menerima serangan dariku baik itu berhasil ditahan kamu akan secara bertahap kehilangan fokus. Memang terdengar remeh, tapi dalam sebuah pertarungan jika kamu tidak bisa fokus maka kamu sama saja sudah mati.” lanjut Khanzab sambil tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Akan sangat menyenangkan bermain - main denganmu sebelum kamu mati!” tambah Khanzab yang berjalan perlahan mendekati Ringgo.
... Tiba - tiba muncul serangan telapak tangan raksasa dari langit dengan gelombang kejut yang sangat kuat hingga membuat Khanzab mengalami shock dan tanah sekitarnya hancur membentuk bekas telapak tangan. Belum sempat Khanzab sadar akan shock yang dia rasakan tiba - tiab serangan telapak raksasa kembali menyerang yang kali ini dua kali sekaligus. Tidak selesai sampai disitu setelah serangan kedua kemudian muncul tiga serangan beruntun, empat serangan beruntun, hingga lima serangan beruntun telapak tangan raksasa....
“Seperti yang kamu katakan kekuatan kutukanmu memang terdengar remeh, tapi sangat mematikan. Beruntung teknik hukuman budha miliku bisa mengetahui dengan pasti keberadaan iblis sepertimu yang berada di dekatku. 15 tahun adalah usia titik balik dimana seorang anak akan memulai perjalanan kehidupannya diawali dengan dunia putih abu - abu.” kata Ringgo yang langsung rebahan karena kutukan fokus yang diterimanya masih memiliki efek yang sangat besar setelah berhasil memusnahkan Khanzab.
... Mathun yang memiliki kutukan peniru untuk membuat manusia saling mengadu domba, mencela, mencaci, memaki, hingga menyebarkan fitnah berkali - kali merepotkan Givi dan Stalin yang membuat mereka saling serang satu sama lain. Hingga membuat mereka bertarung saling memunggungi satu sama lain dan setiap kali mereka melancarkan serangan mereka akan kembali saling memunggui terlebih dahulu sebelum menyerang kembali. Dengan demikian ketika ada salah satu mereka yang muncul dari depan maka bisa dipastikan itu merupakan kutukan peniru milik Mathun....
... Masuth memiliki kekuatan kutukan imajinasi yang berasa dari over thinking para manusia sehingga dia bisa menciptakan sesuatu diluar nalar termasuk merubah kondisi lingkungan sekitar selayaknya dunia ilusi. Cara bertarung saling memunggungi satu sama lain juga mereka gunakan agar mereka tidak termakan oleh dunia imajinasi yang Masuth buat. Setelah kedua belah pihak menerima banyak serangan mereka saling memahami satu sama lain dan bertarung menggunakan siasat....
“Apa persiapannya sudah cukup?” tanya Givi memastikan dengan tampilan yang sudah cukup babak belur.
“Iya, aku sudah siap!” jawab Stalin penuh percaya diri sambil mengepalkan kedua tangannya selayaknya pemain tinju yang akan melakukan pertandingan.
“Hukuman langit - cakar rajawali!” kata Givi yang seketika membuat kedua tangannya seperti cakar elang dengan energi kutukan.
“Bersiaplah tunggu aba - aba dariku!” pinta Givi yang langsung berlari menerjang ke arah Matuhn.
... Ketika Givi mulai berlari, Masuth dan Mathun juga langsung berlari ke arah Givi. Masuth menciptakan sebuah batu besar yang langsung ditendang oleh Mathun ke arah Givi, tapi berhasil Givi hancurkan dengan mudah. Setelah batu tersebut dihancurkan ternyata itu hanyalah sebuah kabut yang berbentuk seperti batu sehingga ketika batu tersebut hancur kabut tebal langsung menyelimuti Givi bersama Masuth dan Mathun. Tidak lama setelah itu Givi langsung melompat keluar dari area berkabut dan kembali berdiri di samping Stalin....
“Seranganku gagal, kabut ini membuatku meleset.” kata Givi merasa bersalah.
“Tidak apa - apa kakek serahkan padaku!” jawab Stalin penuh percaya diri.
__ADS_1
“Hukuman alam - tinju penghancur keseimbangan alam!” teriak Stalin yang langsung memukul Givi dengan sekuat tenaga yang telah dia siapkan sebelumnya.