7 Kutukan

7 Kutukan
Kutukan Pembusukan


__ADS_3

... Nana yang mendapat kabar bahwa Nara terluka dan dilarikan ke rumah sakit karena terjadi insiden pembunuhan di kantornya langsung pergi menemui Nara yang tangan kiri bawahnya sudah membusuk. Pada awalnya dokter akan mengambil tindakan amputasi kepada tangan kiri bawah Nara, tapi setelah melihat hasil pemeriksaan yang menunjukan bahwa tangan kiri Nara tidak mengalami masalah dokter yang bersangkutan membatalkan rencananya. Nara yang sadar bahwa yang sedang menggerogoti tubuhnya adalah sebuah kutukan meminta bantuan para dokter untuk menutupi tangan kirinya dengan gips patah tulang....


“Kak Nara tangan kakak patah?” tanya Nana cemas yang baru tiba di rumah sakit.


“Tidak, sepertinya tangan kiri kakak terkena semacam kutukan.” jawab Nara sambil tersenyum ramah.


“Kakak sudah hubungi pak Ringgo atau kak Naga?” tanya Nana memastikan.


“Sudah tapi keduanya tidak diangkat dan pesan kakak belum Naga respon sampai saat ini.” jawab Nara lemah lembut sambil menatap Nana.


“Tangan kakak!” kata Nana yang melihat lengan kiri bagian atas Nara sudah mulai mengalami pembusukan dan gips yang digunakan juga mengalami pembusukan.


“Nara!” sapa Ringgo yang baru saja tiba sambil berjalan menghampiri Nara dan Nana.


“Pak Ringgo tangan kakak pak!” kata Nana panik yang membuat Ringgo langsung melihat kondisi tangan Nana.


“Maya tolong segera kesini bersama setidaknya 3 orang dari unit penanganan kriminal mistis!” pinta Ringgo melalui telepon setelah melihat pembusukan yang terjadi di tangan kiri Nara.


“Apa yang terjadi dengan tangan kak Nara pak?” tanya Nana cemas dengan mata berkaca - kaca.


“Ini kutukan pembusukan secara medis tubuhmu tidak mengalami masalah tapi kutukan ini akan membuat seluruh tubuhmu membusuk hingga benar - benar tewas. Melihat dari gips yang juga ikut membusuk karena berinteraksi dengan kulitmu sepertinya ini kutukam pembusukan level tinggi.” jawab Ringgo fokus sambil memikirkan beberapa solusi yang mungkin bisa diambil.


“Lalu bagaimana cara menyembuhkan kutukan ini pak?” tanya Nana cemas yang mulai meneteskan air mata.


“Kutukan ini tidak bisa disembuhkan dan sepertinya kaki kirimu juga sudah mulai membusuk Nara.” jawab Ringgo yang membuat Nara langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan terlihat kaki kiri Nara yang juga mulai membusuk.


“Sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini Nana!” pinta Nara penuh kelembutan dengan penuh senyuman.


“Enggak kak, aku gak akan ninggalin kakak. Apa benar - benar tidak ada cara untuk menyembuhkannya pak?” tanya Nana cemas sambil menangis.


“Sayang sekali tidak ada Nana!” jawab Ringgo sambil menggelengkan kepala pasrah.

__ADS_1


... Tidak lama kemudia Maya, Tora dan lima orang dari unit penanganan kriminal mistis datang ke ruangan Nara. Empat orang diantaranya langsung membuat penghalan kutukan di masing - masing sudut ruangan untuk mencegah kutukan tersebut meluas ke luar ruangan dan dua diantaranya berjaga di depan pintu masuk. Naga yang baru membaca pesan Nara langsung bergegas pergi menjenguk Nara....


“Naga!” sapa Nara sambil tersenyum manis ketika melihat Naga yang baru membuka pintu ruang rawat inap Nara dengan wajah bagian kiri yang sudah mulai membusuk.


“Tunggulah Nara!” pinta Naga yang langsung berbalik badan dan hendak pergi.


“Naga!” panggil Nara lirih yang membuat Naga melihat ke arahnya.


“Bisakah kamu menemaniku di sisa waktuku?” pinta Nara sambil tersenyum manis dengan mata berkaca - kaca.


“Berhenti berbicara seperti itu!” jawab Naga dengan nada tinggi dengan mata berkaca - kaca sambil menatap Nara.


“Aku pasti akan menyelamatkanmu!” lanjut Naga yang langsung pergi.


“Ah, jangan - jangan!” kata Ringgo yang teringat dengan sosok Alisa adik angkat Naga yang tinggal di Ile Kururu bersama keluarga Zuru.


“Ada apa pak Ringgo?” tanya Nana penasaran.


“Adik angkat kak Naga?” tanya Nana memastikan.


“Iya, tapi sejauh yang aku tahu karena kutukan pembusukan itu sifatnya sama seperti kematian seharusnya dia tidak bisa berbuat apapun. Namun kita percayakan kepada Naga pasti ada sesuatu yang aku tidak tahu dan dia mengetahui caranya.” jawab Ringgo penuh percaya diri.


... Naga pergi ke Ile Kururu dengan sangat terburu - buru mengingat Nara tidak memiliki banyak waktu tersisa. Bagi Naga, Nara sudah menjadi seseorang yang istimewa bagi dirinya dan dia tidak ingin kehilangan Nara. Tanpa basa basi setibanya di kediaman keluarga Zuru, Naga langsung masuk ke dalam ruangan Stalin....


“Ada apa Naga kamu tampak terburu - buru tidak seperti biasanya?” tanya Stalin ramah sambil menatap Naga fokus.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, aku akan membawa Alisa pergi, jadi bukakan pintunya ketika aku tiba di depan ruangannya. Jika tidak aku akan langsung mendobraknya.” jawab Naga yang langsung pergi ke ruangan Alisa.


... Naga berjalan dengan santai hingga tiba di depan pintu ruangan Alisa berada dan Naga langsung melihat ke arah CCTV agar Stalin segera membukanya. Tidak lama kemudian Stalin langsung membukakan pintu ruangan Alisa dan langsung menutupnya kembali setelah Naga masuk....


“Kak Naga!” sapa Alisa sambil tersenyum bahagia melihat kedatangan Naga dan langsung berlari memeluk Naga dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Alisa!” balas Naga yang langsung memeluk Alisa dengan penuh kehangatan sambil tersenyum ramah membelai rambut adik angkatnya.


“Maafkan kakak ya karena sudah lama tidak menjengukmu.” lanjut Naga lemah lembut sambil terus membelai rambut Alisa.


“Tidak apa kak, kakek Givi sudah cerita bahwa kakak sedang ke Jepang untuk menolong banyak orang disana.” jawab Alisa yang mendongak menatap Naga sambil tersenyum bangga.


“Begitukah?” tanya Naga memastikan sambil tersenyum yang dijawab anggukan manja oleh Alisa.


“Hoo iya Alisa bolehkah kakak meminta tolong kepada Alisa?” tanya Naga lemah lembut sambil menatap mata Alisa.


“Tentu kak!” jawab Alisa sambil tersenyum penuh semangat.


“Maukah Alisa menolong teman kakak dan tinggal bersama kakak mulai hari ini?” tanya Naga lemah lembut yang membuat Stalin terkejut tidak percaya.


“Wah aku mau sekali.” jawab Alisa sambil tersenyum lebar.


“Aku sangat senang, sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum.” lanjut Alisa sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


“Kalau begitu biar kakak gendong dan pergi dari sini!” ajak Naga lemah lembut yang langsung menggendong Alisa di depan dadanya.


“Stalin buka pintunya!” pinta Naga tegas.


“Kamu tahu bukan bahwa bahaya membawa Alisa keluar dari tempat ini!” jawab Stalin dingin.


“Kamu juga tahu bahwa aku bisa melindungi Alisa!” jawab Naga dingin sambil menatap dingin ke arah kamera CCTV.


“Haruskah aku memaksa keluar dari tempat ini?” lanjut Naga dingin yang membuat Stalin langsung membukakan pintu untuk Naga.


“Kamu tahu bukan apa yang akan terjadi selanjutnya ketika Alisa terluka?” tanya Stalin ketika Naga masih berdiri di depan pintu ruangan Alisa.


“Tidak perlu khawatir aku akan selalu bersama Alisa!” jawab Naga dingin sambil menatap kamera CCTV penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2