A LEADER : Seorang Pemimpin

A LEADER : Seorang Pemimpin
Sebelum Terjadi Part 3


__ADS_3

Setelah pelajaran pertama selesai dan di lanjutkan dengan pelajaran yang kedua, Harlin masih tetap memikirkan Fina hingga Ibu Rani menegurnya dan membuat dia sadar jika dia sedang melamun. Setelah pulang sekolah Harlin tetap berjalan tanpa menyapa siapun yang dia lihat di jalan.


Sesampainya di rumah, Harlin langsung masuk ke kamar dan dia tertidur sampai pagi. Keesokan paginya Harlin bangun dan dia sadar kalau tadi malam dia tidak makan apa pun. Akhirnya Harlin berjalan ke dapur untuk melihat makanan.


Saat Harlin melihat meja makan, hanya ada telur dan roti di atas meja. Akhirnya Harlin mengambil telur dan roti untuk dijadikan sarapannya. Saat Harlin sementara memanaskan air untuk telurnya, Ibunya datang dan mengagetkannya dari belakang Harlin hanya tersenyum sambil memandang Ibunya.


Ibunya mengatakan jika ada sesuatu yang ia butuhkan silakan memanggilnya di kamar tidur Harlin hanya menganguk dan lanjut melihat roti yang ia panggang.


Saat Harlin kembali melihat telurnya, Harlin tiba tiba merasakan sakit di bagian dada dan tangan kanannya. Harlin yang tidak dapat menahan rasa sakitnya langsung jatuh ke lantai dan pingsan.


Saat Harlin terbangun dia sudah ada di tempat tidur. Ibunya memandangnya dan mengatakan kenapa dia bisa pingsan, Harlin menjawab bahwa dia merasakan sakit di dada dan di tangan kanannya. Itu sebabnya dia pingsan. Ayahnya menghampirinya lalu mengelus dan mencium jidatnya sambil tersenyum, lalu beranjak pergi dari kamar tidur. Harlin bertanya apa Ayahnya baik baik saja? kakeknya mengatakan bahwa Ayahnya hanya khawatir dan sedang menenangkan diri.


Ibunya kembali mengelus kepala Harlin dan menyuruh Harlin untuk kembali beristirahat. Harlin pun menutup matanya dan tertidur. Di ruang tamu, Sarah datang dan mengatakan kepada Devid bahwa mereka harus memberitahukan kebenaran yang sebenarnya tentang rasa sakit yang harlin rasakan.


Tapi Devid mengatakan waktunya belum pas untuk Harlin mengetahuinya. Dilon pun setuju dengan apa yang dikatakan Devid tetapi Sarah bersikeras untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Harlin.

__ADS_1


Sarah juga mengatakan sebelum Harlin mencapai umur 19 tahun dia harus tahu siapa dia sebenarnya, keluarganya seperti apa, dan dia berasal darimana. Karena Sarah takut jika Harlin sendiri yang mengetahuinya maka Harlin mungkin tidak akan menerima kebenarannya dan malah menjauh dari mereka.


Dilon mengatakan bahwa mereka harus menunggu Harlin sampai bangun dari istirahatnya. Dilon yakin bahwa Harlin akan menerima tentang siapa dia sebenarnya. Keesokan paginya Harlin masih lemah tetapi dia bersikeras untuk pergi sekolah


"Harlin, dengar Ibu sayang, kamu masih lemah dan kamu harus istirahat." Dengan nada yang cemas.


"Ibu, aku tidak mau ketinggalan mata pelajaran, aku sudah sehat sekarang tolong biarkan aku pergi."


"Baiklah jika kamu memaksa, Ibu sudah siapkan bekalmu dan air minummu. Kamu harus meminum air ini sebelum kamu makan ok."


Membalas lambaian tangan Harlin "Dah sayang, hati hati."


Di Ruang Kerja Dilon


"Apa Harlin pergi sekolah?."

__ADS_1


"Iya, tapi kapan kita beritahukan tentang rasa sakitnya? Aku punya perasaan yang tidak enak saat melihat Harlin pergi kesekolah."


"Tenanglah, Harlin akan baik baik saja, saat dia pulang aku sendiri yang akan memberitahukannya."


"Apa kamu yakin Ayah."


"Percayalah, Ayah bisa meyakinkan Cucu Ayah."


Setelah diskusi itu selsai, Sarah, Devid, dan Dilon kembali ke aktivitas mereka sehari hari. Namu tetap masih memantau Harlin dari jarak jauh. Di sekolah Harlin yang melihat Fina langsung memeluknya dan menangis karena dia khawatir terhadap Fina.


"Hey, tenang kawan, aku baik baik saja. Maaf membuatmu khawatir. Kemarin apa kamu sakit?."


"Ya kemarin aku sakit tetapi sekarang, aku sudah sehat ayo masuk kelas." Sambil menggandeng Fina.


Harlin dan Fina tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2