
Malam kembali membentangkan sayap gelapnya. Humairo berdiri bersedekap di teras rumah sehabis maghrib. Tiga hari diinfus dan hanya bisa berbaring di kamar, membuatnya bosan dan akhirnya memilih jalan-jalan di depan rumah. Dia bosan namun tak punya keinginan untuk pergi lebih jauh. Bukan karna ia sudah tidak bisa lagi menemukan David, dan bukan juga karna harapannya untuk hidup bersama David yang sudah kandas. Dia hanya merasakan ada ikatan yang membelenggu tubuhnya untuk tidak meninggalkan rumah.
Tiga hari kebersamaannya yang intens bersama Ainul, walaupun tidak terlalu dekat, membuatnya mulai terbiasa dan ada sesuatu yang, entah, ia sendiri ingin menolaknya. Ia merasa gengsi, dan sisa ketidak senangannya pada Ainul masih ada, walaupun yang tersisa hanya sedikit.
Kini Ainul kembali menghilang seperti biasanya. Kemarin ia telah mengorbankan waktunya untuk menjaganya selama sakit. Dan ia hanya bisa menemukan nanti larut malam ketika ia pulang dari masjid. Laki-laki itu begitu tulus merawatnya, walaupun seringkali kata-katanya yang kasar dan tidak sepantasnya, ia keluarkan dan pastinya akan menyakiti Ainul. Tap Ainul selalu tersenyum dan seolah tidak peduli dengan semua itu.
Ia merasa tiba-tiba saja merindukan Ainul. Lucu memang, setelah apa yang telah ia lakukan selama ini kepada Ainul.
Dan kini ia tak mengerti, berdirinya kini di depan teras, seperti menunggu kepulangan Ainul. Bahkan motor yang biasa diparkirnya di tempat dimana Ainul sering tidur, sudah dipindahkannya ke pojok yang lain. Tidak hanya itu, ia juga sudah membersihkan debu-debu yang menempel bekas kotoran roda motornya.
Perubahan yang tidak ia sadari dan seperti begitu saja.
__ADS_1
Humairo melangkah masuk ke dalam rumah. Lampu di ruang tamu dinyalakannya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang selalu gelap. Dulu, ia mematikan seluruh penerangan di dalam rumah dan hanya menyisakan lampu kamarnya saja, dengan harapan Ainul tidak bisa masuk ke dalam rumah. Itu juga signal agar Ainul tidak berusaha menyentuhnya, walaupun secara akad mereka sudah sah sebagai suami istri. Kali ini ia berharap Ainul masuk dan tidur di dalam rumah.
Tak terasa malam telah mulai beranjak larut. Suara kokok ayam jantan seirama dengan bunyi jam dinding yang berdentang membelah malam.
Humairo membaringkan tubuhnya pelan di atas ranjangnya. Malam ini sepinya sangat terasa. Ia jadi membayangkan Ainul kini duduk menselonjorkan kakinya di dekatnya. Tapi cara memulainya agar seperti pasangan suami istri saat malam pertama, masih membingungkannya. Dia sudah terlanjur bersikap kasar dan memposisikannya sebagai pembantu yang menjijikkan. Jika harus menunggu Ainul memulainya, ia tidak begitu yakin Ainul akan melakukannya. Ia tipe laki-laki pemalu, yang tidak akan memulai pembicaraan sebelum ada yang memulainya. Apalagi dengannya yang mungkin di mata Ainul adalah wanita menakutkan.
Ainul kembali melirik ke arah jam dinding. Ia mendesah panjang. Rasa kantuknya tak juga datang merayu matanya agar segera tertidur.
*
Ainul terlihat mengendap masuk ke dalam rumah. Humairo masih memperhatikannya di balik pintu kamarnya. Ainul kini terlihat membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas. Ia kini melihat Ainul hanya berdiri di depan lemari. Dia seperti mendengar isak tangis.
__ADS_1
Ainul hanya diam saja ketika suara langkah kaki Humairo semakin mendekat ke arahnya. Bahkan, ketika Humairo menyalakan lampu, Ainul masih tetap berdiri di tempatnya.
Humairo melihat mata Ainul sembab oleh tangisnya. Humairo mencoba memegang Ainul, tapi Ainul menolak dan menepis tangan Humairo. Humairo bertambah heran karna tiba-tiba Ainul melangkah meninggalkannya.
Humairo berteriak memanggil Ainul yang semakin menjauh. Karna Ainul tak juga mempedulikannya, Humairo menjerit histeris.
Tidaaaaak!
Humairo melonjak kaget. Keringat dingin mengalir di tubuhnya. Dadanya seperti ditindih sesuatu yang berat dan ia masih merasakan kesulitan bernafas. Rupanya ia mimpi buruk. Mimpi tentang Ainul yang pergi meninggalkannya.
Humairo bangkit dan segera keluar. Dengan pelan, ia menyingkap kelambu jendela ruang tamu. Tak ada siapapun yang terbaring meringkuk di teras rumah seperti malam-malam sebelumnya. Ainul menoleh ke arah jam dinding di belakangnya. Sudah jam tiga malam. Waktu dimana Ainul biasa bangun untuk shalat. Kemana dia hingga sampai selarut ini belum pulang? Dia tidak pernah terlambat. Tak pernah lebih atau kurang dari jam dua belas malam. Sesibuk apapun dia di masjid. Apakah ini ada kaitannya dengan mimpinya malam ini? Pertanyaan demi pertanyaan mulai meresahkan pikirannya. Ingin rasanya ia menyusulnya ke masjid hanya untuk memastikan dia memang benar-benar ada di masjid. Tapi jaraknya terlalu jauh. Terlalu banyak anjing yang akan menggonggong ketika melewati jalan menuju masjid.
__ADS_1
Humairo berbalik melangkah ke kamarnya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya resah. Mimpinya tadi mulai menjadi topik yang tak dapat ia hilangkan dalam pikirannya. Rasa resahnya tak akan hilang sebelum melihat Ainul pulang ke rumah. Ia berkesimpulan, ia benar-benar merindukan Ainul. Ia ingin Ainul ada di sisinya malam ini. Ia ingin berubah dan hidup layaknya suami istri bersama Ainul.