Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#09


__ADS_3

Ainul masih duduk di teras rumahnya, Setelah shalat ashar, tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Aktifitas yang bisa ia lakukan di masjid, terpaksa ditinggalkannya karna ia tak bisa meninggalkan Humairo sendirian di rumah, apalagi dengan kondisi Humairo yang masih diinfus. Perkiraannya mungkin besok infus yang tersisa akan habis. Ia berharap Humairo bisa sembuh secepatnya.


Ainul mendesah. Benar-benar membosankan. Kopi yang ia seduh tadi sebelum ashar sudah mulai dingin. Ainul menyeruputnya sedikit. Setelah itu ia berdiri dan mengambil Al-qur'an kecil yang terselip di atas pintu. Ainul mulai membacanya.


"Ainul!" Terdengar teriakan memanggil dari dalam rumah. Ainul segera bergegas masuk. Ia lihat Humairo sudah berdiri dan bersandar di tembok kamar dengan tangan kanannya memegang infus. Ainul mendekat, namun tak ada yang bisa Ainul lakukan sesampainya di depan Humairo. Ainul harus menunggu Humairo memerintahkan sesuatu. Ia takut salah. Ia takut Humairo marah.


"Antar aku ke kamar mandi," perintahnya. Ainul masih berdiri. Bukannya tidak mendengar kata-kata Humairo, tapi ia masih bingung bagaimana memegang Humairo. Seperti yang pernah dikatakan Humairo, tangannya nakjis.


Kemarin, ia berani mengganti pakaian Humairo karna ia tahu Humairo tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi kali ini ia trauma dengan tatapan mata segar Humairo, ia takut Humairo akan membentaknya.


"Ayo, kenapa diam saja," kata Humairo sambil menyodorkan tangan kanannya. Ainul segera meraih tangan Humairo.


Setelah mengantar Humairo sampai di depan kamar mandi, Ainul menutup pintu dan meninggalkan Humairo.


"Jangan terlalu jauh, aku takut." terdengar lagi teriakan Humairo dari dalam kamar mandi. Ainul menghentikan langkahnya dan memilih duduk di kursi plastik tak jauh dari kamar mandi.


"Buka pintu." Terdengar lagi panggilan. Ainul bangkit dan segera membukakan Humairo pintu. Tanpa diperintah, dipegangnya tangan Humairo dan memapahnya menuju kamarnya.


"Jangan tutup pintu, biarkan saja terbuka agar aku bisa memanggilmu," kata Humairo ketika sudah berbaring kembali di tempat tidurnya. Ainul hanya mengangguk dengan banyaknya permintaan Humairo. Ia kembali ke teras rumah dan melanjutkan membaca Al-qur'an.

__ADS_1


Ainul menutup Alqur'an di tangannya dan meletakkannya kembali di atas pintu. Setelah itu ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Jari-jari tangannya digerakkannya satu persatu dan ia kembali mendesah. Tinggal tujuh hari lagi, desahnya.


"Ainul, aku mau makan." Humairo memanggil lagi. Ainul menoleh dan bangkit. Ditengoknya Humairo dari arah pintu.


"Aku mau makan, belikan aku nasi di rumah makan padang. Kunci ada di meja, pake motor biar cepat." Ainul tersenyum dan berjalan mengambil kunci motor di atas meja. Setelah memanaskan motor beberapa saat, suara motornya terdengar semakin menjauh.


Beberapa menit kemudian Ainul sudah tiba kembali di rumah. Dia segera bergegas menuju dapur, mengambil piring dan sendok, lalu kemudian menuju ke kamar Humairo.


Ainul kembali ke teras rumah setelah memastikan apa yang nantinya dibutuhkan Humairo ada di dekatnya dan tak perlu memanggilnya lagi.


Ainul mendesah. Ia tersenyum. Humairo begitu cantik ketika ia bisa memandangnya sedekat itu. Cantik, walaupun ia dalam keadaan sakit, bahkan ketika ia baru bangun tidur. Ia merasa mulai dekat dengan Humairo sejak sakitnya dua hari lalu. Ia memiliki waktu bersama walaupun tidak sedekat layaknya suami istri. Tapi itu menyisakan rasa yang berbeda dalam hatinya. Sebuah rasa yang berbeda dari rasa sebelumnya. Jika sebelumnya ia melakukannya karna kesabaran, kini ia merasakan tidak adanya pamrih pahala dari apa yang ia lakukan. Tidak lagi mengharapkan apa yang dilakukannya akan merubah Humairo agar mau berdamai dengan dirinya. Tapi ia melakukannya karna keihklasan dan hati yang bahagia ketika Humairo memintanya melakukan sesuatu. Inikah yang namanya cinta? batinnya bertanya.


Sang Muhabbah cinta menanyaiku


Apa yang kau dapatkan dari mencintai orang yang tidak mencintaimu?


Aku menjawab


Aku tak akan mendapatkan apa-apa

__ADS_1


sebab aku melaksanakan fitrah


bukan memberi lalu berharap dibalas.


Sang Muhabbah itu tersenyum dan berkata


Kau keliru anak muda


justru kau dapati banyak kemenangan


Kau dapati jiwa yang tulus dalam dirimu


Kau dapati keikhlasan dalam dirimu


dan Kau dapati juga ketabahan hati.


Ainul kembali tersenyum, tapi tiba-tiba raut mukanya berubah layu. Senyumnya hilang dalam ******* panjangnya.


Tinggal menghitung hari saja dan semuanya akan berakhir. Dia sudah berjanji akan memberikan kebebasan penuh kepada Humairo untuk menentukan hidupnya sendiri. Humairo harus bahagia dan lepas dari ketertekanannya menikah dengannya.

__ADS_1


Sambil menunggu waktu itu tiba, ia akan berbuat yang terbaik untuk Humairo. Ini mungkin bisa membebaskannya dari janjinya kepada almarhumah bu Salma. Inilah batas kemampuannya ketika yang dijaga tak menginginkan kehadirannya di rumah itu.


__ADS_2