Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#06


__ADS_3

Ainul yang biasanya sabar dan tenang hati, kali ini seperti sedang membawa amarah besar menuju kamar Humairo. Humairo telah menginjak-injak harga dirinya sebagai laki-laki. Cukup sudah diam dan sabarnya selama ini. Kali ini ia tak peduli jika para tetangga mendengar pertengkarannya dengan Humairo. Kali ini ia harus tegas, bahkan jika Humairo melawan ia akan mengusirnya dari rumah itu. Selama ini Humairo belum tahu jika sertifikat tanah dan kepemilikan rumah sudah diserahkan bu Salma kepadanya sebelum ia meninggal. Bukti fisiknya lengkap dan disaksikan langsung oleh pak kadus setempat. Ia tidak peduli Humairo harus menggelandang di luar sana. Humairo harus tahu kesabaran itu ada batasnya.


Ainul langsung menggedor pintu kamar Humairo sesampainya di depan kamar. Ia mencoba membuka pintu kamar, namun pintu kamar sepertinya terkunci. Ia mencoba berteriak, namun tak ada jawaban. Ainul terdiam sejenak sambil memegang dadanya. Amarahnya yang meluap membuat dadanya terasa sakit. Ia menghela nafas panjang dan berusaha menguasai amarahnya. Setelah merasa tenang, Ia kembali mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban. Tidak biasanya Humairo diam. Biasanya ia akan keluar dengan tatapan tajamnya, mengumpat atau yang paling Ainul takutkan, Humairo berteriak keras hingga terdengar tetangga. Ainul mencoba mengetuk pintu kedua kalinya, tapi tetap tidak ada jawaban. Ainul mulai was-was. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Humairo.


Ainul menoleh. Kursi kayu yang ada di ruang tamu kemudian diambilnya. Ia lalu meletakkannya di depan pintu dan menaikinya. Dan betapa terkejutnuya Ainul ketika melihat dari celah pintu bagian atas, Humairo tergeletak di lantai.


Ainul segera turun. Perasaannya tidak enak. Tapi ia tidak bisa masuk ke dalam kamar itu karna terkunci dari dalam.


Untuk sejenak Ainul terdiam mencari cara. Tidak ada cara lain selain mendobrak pintu. Ainul mengambil nafas dalam. Ia mundur beberapa langkah dan pintu itu didobraknya dengan kuat sehingga terbuka. Ainul melangkah maju dan mulai meraba stop kontak lampu dalam kamar Humairo.


Ainul melonjak kaget ketika melihat tubuh Humairo tergeletak lemah di bawah ranjangnya. Dia hanya memakai pakaian dalam dan terbuka bagian dadanya. Di samping tubuhnya, dua buah botol minuman keras dan kulit-kulit kacang berserakan di sisi tempatnya terbaring. Mulut Humairo terlihat mengeluarkan busa dan sudah mulai dikerubuti semut. Ainul panik. Dia tidak tahu dimana tadi ia meletakkan hp nya. Ketika ia ingat telah terjatuh di ruang tamu, ia segera berhamburan keluar dan mendapatkan hp nya di sana.


Ainul terlihat sibuk memeriksa beberapa nomor telpon di ponselnya. Dia mulai menghubungi seseorang.


Dua kali Ainul mencoba menghubungi seseorang namun tidak ada jawaban. Malam selarut ini membuatnya putus asa menghubungi nomor-nomor yang ada dalam ponselnya. Diperiksanya lagi beberapa nomor hp di ponselnya dan ia mencoba mulai menghubungi.


"Alhamdulillah," Ainul mengusap dadanya lega, "Maaf saya mengganggu malam-malam Pak, tapi istri saya keracunan dan harus mendapatkan perawatan sesegera mungkin. saya mohon Pak," pinta Ainul ketika orang di seberang mengangkat hp nya.

__ADS_1


Ainul tersenyum lega dan menganggukkan kepalanya sambil tak henti-henti mengucapkan terimakasih.


Ainul segera membopong tubuh Humairo ke atas ranjang. Beberapa pakaian dikeluarkannya dari lemari dan memasangkannya ke tubuh Humairo. Sambil menunggu seseorang yang dipanggilnya lewat hp datang, Ainul mondar-mandir di dalam kamar Humairo. Resah dan cemas.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ainul segera meraih tubuh Humairo dan membopongnya keluar. Dengan pelan ia memasukkan tubuh lemah Humairo ke dalam mobil. Para tetangga mulai berdatangan. Mulai bertanya tentang apa yang sedang terjadi, namun ia tidak punya waktu untuk menjawab. Ia hanya meminta tolong kepada tetangga sebelah rumah untuk menjaga rumahnya selama ia pergi.


"Kita mau bawa kemana ini Pak Ustadz," tanya sopir di depan.


"Rumah sakit Namira Pak,"jawab Ainul singkat. Hanya itu yang ia ingat. Nyawa Humairo harus tertolong dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.


Laju mobil kijang warna hitam melaju kencang di jalanan sepi. Ainul memegang tangan Humairo erat. Ia lihat tubuh Humairo mulai bergerak dalam kegelapan.


"Insya Allah sebentar lagi Pak Ustadz," kata pak Manto.


"Di mana aku." Humairo tersadar dan bingung melihat sekelilingnya. Bertambah bingung ketika menyadari ia sedang berada di dalam mobil. Ia ingin bangun, namun tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pusing.


"Kami akan membawamu ke rumah sakit. Tadi kamu sempat pingsan". Humairo membelalakkan matanya. Sadar jika orang yang ada di sampingnya adalah Ainul, ia bangun dan berteriak.

__ADS_1


"Turunkan aku di sini, turunkan. Cepat!"


Pak Manto menoleh seperti meminta pertimbangan Ainul.


"Kamu gak punya urusan denganku. Cepat, aku akan melaporkan ini sebagai penculikan."


Ainul menepuk pundak pak Manto, memberi isyarat untuk berhenti dan memutar arah.


"Dan kamu, kamu pindah ke belakang. Aku gak sudi bersentuhan denganmu,"kata Humairo memberi perintah agar Ainul pindah ke kursi belakang. Pak Manto mengernyitkan dahinya dan hanya menatap heran dari kaca spion mobil. Ainul mengalah dan pindah ke kursi belakang. Tidak beberapa lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah. Para tetangga yang baru saja selesai membersihkan rumah, masih duduk-duduk di halaman.


Humairo membuka pintu dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia masih terlihat lemah, tapi Ainul tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak mau Humairo marah dan memancing perhatian warga. Dibiarkannya saja Humairo berjalan sendiri ke dalam.


"Terimakasih banyak Pak Manto, sekaligus saya ingin minta maaf atas kejadian tadi,"kata Ainul sambil melangkah mendekati pak Manto. Satu lembar uang seratus ribu diselipkannya di saku baju pak Manto, tapi pak Manto menolak dan mengembalikannya kembali kepada Ainul.


"Gak usah Ustadz, Ustadz ambil lagi untuk berobat ibu." Pak Manto meraih tangan Ainul dan meletakkannya ke dalam genggaman Ainul.


Suasana di luar rumah sudah sepi. Orang-orang yang tadinya masih berkumpul sudah pulang ke rumah masing-masing. Ainul masuk ke dalam rumah. Ditengoknya kamar Humairo. Sudah tertutup. Ainul mendesah. Ia sudah tidak punya urusan lagi walaupun ia merasa cemas dengan keadaannya. Humairo telah menempatkannya pada situasi yang sulit. Lebih baik ia keluar dan merenung di teras rumah sambil memikirkan sebuah jalan keluar.

__ADS_1


Malam ini ia harus membuat keputusan. Tadi, saat ia melihat banyak sekali tetangganya yang membantunya membersihkan rumah, tentunya banyak hal aneh yang mereka temukan di dalam rumah. Mulai dari beras yang berceceran, potongan-potongan uang kertas juga botol minuman keras di kamar Humairo. Dua buah botol minuman keras itulah yang amat mengacaukan pikirannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran tetangganya kini ketika melihat semua itu. Tadi ia begitu panik dan tak punya banyak waktu menyembunyikannya. Entah apa saja yang dibicarakan tetangganya terkait hal itu, yang jelas kini ia merasa malu. Sebagai seorang yang dipanggil ustadz, yang ceramahnya selalu di dengar di masjid setiap selesai maghrib, subuh dan zuhur, kejadian yang terjadi di rumahnya telah mencoreng nama baiknya sebagai pengurus masjid. Apa yang terjadi di rumahnya tentu tidak mencerminkan apa yang keluar dari mulutnya.


Ainul mulai membaringkan tubuhnya. Walaupun sesekali terdengar seperti orang muntah dari arah kamar Humairo, ia memilih diam dan melanjutkan tidurnya.


__ADS_2