Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#11


__ADS_3

Ainul nampak menggigil kedinginan di sudut mimbar masjid. Ketika tadi ia hendak pulang, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya lemah dan kepalanya terasa pusing. Ditambah lagi dengan rasa nyeri dan sakit di bagian perut dan pinggang sebelah kanannya. Ia terpaksa mematikan alarm yang membangunkannya tengah malam tadi dan memilih tetap meringkuk dalam selimutnya.


Seseorang menyalakan lampu bagian dalam masjid. Ainul masih terdiam. Suara langkah kaki seseorang itu seperti melangkah ke arahnya dan berhenti di dekat tempat ia terbaring. Seseorang itu membangunkannya. Ainul membuka sarung yang menutupi wajahnya. Ia terlihat masih meringis kesakitan.


"Pak Ustadz, sudah waktunya tarhim," kata laki-laki di depannya. Ainul bangun dan bersandar di dinding mimbar.


"Eh, pak Mahmud, tolong di nyalakan saja mesinnya Pak, saya lagi kurang sehat," kata Ainul sambil memegang pinggang kanannya. Rasa sakit tidak dapat lagi ia sembunyikan dari orang di depannya. Pak Mahmud yang melihat Ainul kesakitan segera memegang Ainul.


"Pak Ustadz sakit," tanya pak Mahmud. Ainul hanya mengangguk sedikit. Pak Mahmud panik melihat Ainul tiba-tiba terjatuh dari sandarannya dan menggelepar kesakitan memegang pinggangnya. Dua orang laki-laki yang baru saja masuk ke masjid segera dipanggilnya.


"Cepat, kita bawa ustadz pulang ke rumahnya," kata pak Mahmud. Ketiganya lalu menggotong tubuh Ainul dan membawanya pulang.


*


Humairo terjaga dari tidurnya setelah mendengar beberapa langkah kaki dengan irama cepat dari luar rumah. Suara langkah yang disertai dengan suara beberapa orang laki-laki itu terdengar semakin dekat.


Suara ketukan cepat terdengar dari arah pintu. Humairo segera bangkit melangkah menuju pintu. Suara ribut-ribut ternyata ada di luar rumahnya. Humairo membuka pintu dan melihat orang-orang sedang menggotong Ainul. Humairo panik.


"Dimana kita baringkan pak Ustads Bu," kata pak Mahmud. Humairo menoleh kesana kemari memperhatikan tempat.


"Di kamar saja Pak," kata Humairo sembari menunjuk ke arah kamarnya yang terbuka.

__ADS_1


Pak Mahmud segera mengarahkan orang-orang ke dalam kamar dan membaringkan Ainul di atas ranjang.


"Bu, saya temukan pak Ustadz tadi sedang kesakitan di masjid. Saya sudah panggilkan pak Kandar untuk memeriksanya. Semoga sebentar lagi datang," kata pak Mahmud. Humairo mengangguk.


"Kalau begitu kami ke masjid dulu Bu, insya Allah, nanti kami datang menjenguk lagi," kata pak Mahmud pamit.


"Terimakasih banyak Pak telah membawa pak ustadz pulang," kata Humairo seraya tersenyum kepada pak Mahmud.


Humairo mendekat dan duduk di samping Ainul terbaring. Ainul masih meringis kesakitan memegang pinggang sebelah kanannya sambil menggigil kedinginan. Humairo membuka lipatan selimut di dekatnya kemudian meletakkannya di tubuh Ainul.


"Dimana aku," kata Ainul. Ia tampak memperhatikan sekelilingnya.


"Di rumah, tadi orang-orang membawamu dalam keadaan pingsan dari masjid," jawab Humairo.


"Kenapa mereka membawaku ke sini. Maaf Humairo, aku tidak pernah menyuruh mereka,"


Humairo hanya terdiam menatap Ainul. Ini semua akibat perbuatannya yang kasar, mengata-ngatainya nakjis sehingga Ainul trauma masuk kamarnya.


Ainul berusaha bangkit, namun Humairo mencegahnya.


"Gak apa-apa, untuk sementara waktu, tidurlah di sini sampai kamu sembuh,"

__ADS_1


Ainul tidak memperhatikan ucapan Humairo. Ia merasa tidak nyaman berada di ruangan itu. Ia kembali berusaha bangkit. Humairo yang terlihat cemas, tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku harus mengambil obatku," rintih Ainul menahan rasa sakitnya.


"Diamlah di sini, biarkan aku ambilkan obatnya. Beritahukan aku di mana tempatnya." Humairo memberanikan diri menahan tubuh Ainul.


"Tidak Humairo. Kamu tidak tahu tempatnya, biar aku saja," kata Ainul sambil terus berjalan menggunakan sandaran tembok kamar. Humairo yang khawatir,mengikutinya dari belakang. Di atas pintu rumah, di samping Alqur'an, Ainul mengambil beberapa bungkus obat dan membukanya. Humairo buru-buru mengambilkannya air. Setelah meminum obatnya, ia melangkah ke teras rumah dan mengambil tikar di sudut teras. Humairo masih memandangnya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Dengan langkah terhuyung, ia kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menggelar tikar yang dibawanya di ruang tamu.


Ainul menatap Humairo dengan tatapan lemah.


"Ijinkan aku tidur semalam saja di sini sampai kondisiku membaik."


Sebelum benar-benar mengakhiri kata-katanya, Ainul terhuyung dan rebah di atas tikarnya. Humairo buru-buru mendekat dan memegangnya. Ia panik ketika melihat Ainul tidak bergerak dengan mata masih terpejam. Humairo bangkit dan terlihat mulai mondar-mandir di teras rumah. Beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman hanya bisa melihatnya. Diapun masih sungkan untuk meminta bantuan, mengingat sikapnya selama ini kepada para tetangganya.


Seorang laki-laki berperawakan sedang, dengan seragam serba hijau terlihat di ujung jalan seperti hendak menuju ke rumah. Dari penampilannya dan beberapa barang yang dibawanya, mungkin dia itu dokter Kandar yang dimaksud pak Mahmud subuh tadi.


"Mungkin asam urat pak ustadz kumat lagi Bu. Hasil USG dan cek lab pak ustadz, selain asam urat, beliau juga menderita batu ginjal dan karangan. Mungkin ustadz gak kontrol menu makannya," kata dokter Kandar sambil mengeluarkan tensimet dari dalam tasnya.


"Tensi pak ustadz 70." Dokter Kandar memeriksa beberapa obat yang dikeluarkannya dan mencatatnya satu persatu. Ia lalu menyodorkannya pada Humairo.

__ADS_1


"Tolong minum obatnya dikontrol ya Bu. Kalau nanti ustadz masih saja merasa sakit, segera bawa ke klinik," sambung dokter Kandar. Tensimate dan beberapa peralatan yang dikeluarkannya kembali dimasukkannya ke dalam tas. Ia lalu pamit.


__ADS_2