
Ainul masih mendapati makanan yang telah ia siapkan untuk Humairo di meja makan dapur. Masih utuh dan sama sekali belum disentuh. Itu artinya Humairo belum makan sama sekali sejak tadi pagi. Atau mungkin sudah karna ia punya makanan lain di dalam kamarnya, atau kemungkinan juga dia menyuruh tetangga membelikannya. Tapi untuk yang terakhir, kemungkinannya sedikit sekali. Humairo anti tetangga, apalagi tetangga yang sering membicarakannya.
Ainul melangkah ke kamar Humairo. Pintu kamar Humairo hanya diganjal lipatan-lipatan kertas di bawahnya sehingga ia bisa membukanya. Pintu kamar Humairo rusak akibat didobraknya tadi malam.
Ainul terdiam masih dalam posisi berdiri. Humairo masih berbaring di ranjangnya. Tak ada sisa makanan yang terlihat di dekatnya. Ia pun tidak tahu apakah saat ini Humairo sedang tertidur nyenyak atau pingsan. Sepi.
Ainul mendekat. Dia memberanikan diri memegang kening Humairo. Panas. Begitu juga sekujur tubuhnya. Ainul mencoba menggerak-gerakkan tubuh Humairo, tapi Humairo tetap diam. Ainul mulai panik. Dia segera keluar dan memanggil tetangga terdekat.
"Ustadz diam saja di sini tunggu ibu, takut terjadi apa-apa, biar saya yang cari perawat di gang sebelah," kata salah seorang tetangganya ketika Ainul menanyakan alamat perawat terdekat. Ainul agak ragu, tapi ketika tetangganya itu meyakinkannya akan secepatnya memanggil perawat, ia mengiyakannya.
"Jangan lama-lama ya, Bu. Saya khawatir dengan kondisi Humairo," kata Ainul. Perempuan itu tersenyum. Setelah memastikan perempuan itu benar-benar pergi, Ainul membalikkan tubunya dan kembali masuk ke dalam rumah. Ainul mendesah resah saat mendapati Humairo terdengar mengigau sambil menggigil kedinginan. Panasnya terlalu tinggi hingga ia harus cepat mendapatkan perawatan. Belum ada yang bisa ia lakukan selain melihat dan menunggu kedatangan perawat. Ingin sekali ia merebahkan tubuhnya di atas tubuh Humairo. Sedikit tidak Humairo akan sedikit merasa hangat dengan hawa tubuhnya. Tapi ia merasa tak enak. Ia merasa tak pantas melakukannya.
Setelah beberapa lama menunggu, tetangga yang bersedia memanggilkan perawat untuk Humairo belum juga datang. Ainul menjadi cemas. Ia berpikir, ia harus melakukan sesuatu sebelum perawat datang. Ainul melangkah ke dapur. Ia mulai memasak air dan mempersiapkan sapu tangan kecil yang ia ambil di atas meja Humairo. Ia akan mengompres kening Humairo agar panasnya yang tinggi kembali normal.
Humairo masih terdengar mengigau. Sapu tangan yang telah didinginkan kemudian diletakkan Ainul di kening Humairo. Humairo mengangkat tangannya perlahan dan meletakkannya di atas tangan Ainul. Jantung Ainul berdebar. Baru kali ini ia merasakan tangan Humairo menyentuh tangannya.
"David, kaukah itu," bisik Humairo dengan mata masih terpejam. Ainul menitikkan air mata. Bahkan dengan keadaan lemah seperti itu, ia masih saja mengingat David. Gadis itu masih membayangkan David ada di sampingnya. Begitu besarnya cinta Humairo kepada David sehingga disaat sakit dan lemah seperti itu, Humairo masih mengingat David.
Ainul memegang tangan Humairo dan meletakkannya kembali di atas dadanya. Tangan Humairo masih tak mau melepaskan tangannya. Sambil terus memanggil nama David, pegangannya semakin erat.
Ainul melirik ke arah hp Humairo yang tergeletak di lantai. Mungkin di dalam hp itu ada jawaban ada apa antara David dan Humairo. Ainul melepaskan pelan pegangan Humairo. Ia lalu mengambil hp itu dan mulai membukanya. Beberapa pesan singkat mulai dibacanya satu persatu, dan ia mulai mengerti. David sudah pergi ke benua yang sangat jauh dan tak akan kembali lagi. Ia sudah memutuskan secara sepihak hubungannya dengan Humairo, dan memohon kepada Humairo untuk belajar mencintainya.
__ADS_1
Ainul meletakkan kembali hp milik Humairo di atas lantai. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di tembok kamar. Pandangannya tak berkedip menatap wajah Humairo. Sampai sebeginikah luka karna cinta? Benarkah kiranya kisah tentang Qais dan Layla? Seperti mustahil bisa terjadi, tapi ia kini sedang berada di dekat Layla yang terbaring. Beruntungnya David karna dicintai begitu besar oleh Humairo. Dan begitu bodohnya David karna meninggalkan cinta Humairo yang tulus.
Terdengar suara perempuan mengucap salam dari luar rumah. Ainul segera bergegas, nampak bu Rahma, tetangga yang membantunya mencari perawat datang dengan seorang perempuan muda berpakaian putih. Setelah mengucapkan terimakasih, Ainul mengajak perawat itu masuk ke dalam kamar Humairo.
Setelah memperhatikan keadaan Humairo yang lemah terbaring, perawat itu duduk. Masker di mulutnya dilepas dan memandang Ainul.
"Kenapa gak segera dibawa ke puskesmas Pak, kondisinya lemah sekali, dia harus diinfus,"
Ainul mengangguk.
"Kalau boleh infusnya di sini saja Bu, soalnya kalau di puskesmas, takut gak ada yang jaga, maklum saya di masjid terus Bu."
"Pak, untuk sementara Bapak fokus dulu sama istri Bapak. Tugas Bapak di masjid biar ada yang gantikan sementara waktu, untuk saat ini istri Bapak sedang butuh perhatian." Perempuan itu mengeluarkan beberapa botol infus dan dari dalam tasnya. Juga beberapa obat yang telah ia resepkan.
"Pak, untuk sementara ini saya tinggalkan dua infus ini untuk istri Bapak. Tinggal dipasang seperti tadi itu Pak."
Ainul mengangguk faham.
"Kalau begitu saya pamit Pak," kata perempuan itu. "O ya, Pak, pakaian istri Bapak juga harus segera diganti, ganti dengan yang lebih longgar. Kasihan kencingnya belum dibersihkan." Setelah mengatakan itu, perempuan itu langsung pergi.
Ainul melirik ke arah celana levis yang digunakan Humairo. Dia mulai gelisah, bingung bagaimana caranya ia harus melepaskan pakaian Humairo. Tapi mau tidak mau ia harus melepaskannya, semakin mendekat, bau kencing menyeruak menembus lubang hidung.
__ADS_1
Ainul menutup pintu kamar dan kembali mendekati Humairo.
Humairo membuka matanya ketika sadar seperti ada yang sedang melepaskan celananya. Ia ingin menggerakkan kakinya, tapi ia merasa begitu lemah dan hanya bisa melihat seseorang sibuk melucuti pakaian yang dikenakannya.
"David, Kaukah itu." Ainul tersenyum.
"Tuan David masih di luar Nyonya. Ini saya pembantu Nyonya, Ainul," kata Ainul sambil terus tersenyum.
Mata Humairo yang sedikit terbuka, serta gerakan kakinya yang spontan mengisyaratkan bahwa ia mungkin kaget mendengar nama Ainul.
Ainul melirik. Melihat dengan seksama wajah Humairo. Mungkin dia panik begitu sadar dialah yang kini melepas dan mengganti pakaiannya, bukan David. Ainul mulai membayangkan, jika saja Humairo saat ini tidak dalam keadaan lemah seperti itu, tentu ia sudah ditendangnya.
"Tenang Nyonya, aurat Nyonya terjaga dari pandangan saya."Ainul membawa pakaian kotor yang telah ia lepaskan dari tubuh Humairo dan membawanya ke kamar mandi.
Saat ia kembali, ia mendapati Humairo menatap ke arahnya. Entah, tatapan apa itu. Air muka Humairo sudah begitu pucatnya sehingga ia tidak bisa membedakan ekspresinya saat ini. Ainul hanya bisa menyimpulkan sifat dasar Humairo yang tidak menyukainya. Ainul kemudian mengambil selimut di dalam lemari kemudian menghamparkannya di atas tubuh Humairo.
Ainul duduk di samping Humairo. Humairo menatapnya lemah.
"Untuk saat ini jangan berpikiran yang bukan-bukan. Mungkin kamu jijik aku menyentuhmu, tapi untuk saat ini, lupakan itu. Yang penting kamu sehat dulu," kata Ainul setengah berbisik. Humairo masih tak berpaling menatap Ainul. Ainul jadi serba salah.
"Sekarang tidurlah, semoga besok kamu cepat sehat." Ainul bangkit. Setelah menutup pintu,ia keluar meninggalkan Humairo.
__ADS_1