Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#18


__ADS_3

"Mungkin, yang ingin dibicarakan ustadz Ainul adalah terkait pembelian rumah milik saya di desa sebelah. Kebetulan ustadz Ainul mau membelinya. Beliau sudah membayar setengahnya." Pak Mujmal menatap ke arah Ainul. Ainul nampak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Humairo mengusap air matanya. Ia penasaran dengan rumah yang dibicarakan pak Mujmal.


"Maksud Bapak, ustadz Ainul punya rumah?" kata Humairo lebih mendekat.


"Benar Bu, saya kira ustadz belum menempatinya, eh, ketika tadi saya coba mengecek keamanan rumah, saya kaget karna mendapati ustadz dalam kondisi seperti ini,"


"Saya kok jadi bingung ni Bu, Maaf, ketika saya tanya ustadz kenapa membeli rumah baru padahal punya rumah di sini, kata ustadz, dia sudah bercerai dengan bu Humairo," sambung pak Mujmal seperti mencari kejelasan.


Sontak orang yang hadir di dalam rumah terkejut, terlebih lagi Humairo.Dia benar-benar tak menyangka akan mendengar berita seperti itu. Air matanya kembali. Ia bangkit dan segera berlari ke dalam kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya keras di atas ranjangnya. Ia begitu syok mendengar cerita pak Mujmal. Dia tidak pernah menyangka bahwa Ainul akan menceraikannya.


Orang-orang di ruang tamu saling menatap satu sama lain. Ainul sendiri terlihat menangis. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahu ia akan sulit membuat orang-orang mengerti.


Seorang laki-laki muda berdiri di depan pintu. Dia masih mencari jalan untuk masuk di antara orang-orang yang sedang duduk. Melihat itu, pak Mahmud menyuruh orang yang duduk di dekat pintu memberi jalan.


"Bagaimana Nak Pardi, apakah dokter Kandar bisa datang," kata pak Mahmud ketika laki-laki yang dipanggilnya Pardi itu sudah duduk di dekatnya.


"Dokter Kandar menyuruh kita membawanya ke klinik Namira Pak, katanya, ustadz Ainul harus rawat inap," kata Pardi. Pak Mahmud mengangguk dan menatap ke arah Ainul. Ainul menggelengkan kepalanya. Ia sepertinya menolak di bawa ke klinik.

__ADS_1


"Sudahlah Ustadz, kami mohon, Ustadz berkenan untuk kami bawa ke klinik. Ustadz harus segera mendapatkan perawatan. Kami sangat merindukan Ustadz kembali berkumpul bersama kami di masjid seperti sebelumnya. Kami sangat merindukan itu Ustadz," kata pak Mahmud sambil memegang tangan Ainul. Ainul terdiam. Melihat wajah-wajah penuh harap orang-orang di depannya, ia pasrah dan menyerahkan semuanya kepada pak Mahmud. Tapi yang kini mengganjal di hatinya, siapa yang akan menjaganya ketika berada di klinik nanti.


"Ustadz tak perlu khawatir, kami akan bergantian menjaga Ustadz," lanjut pak Mahmud seperti tahu apa yang ada dalam benak Ainul. Ainul tersenyum dan mengangguk kecil.


"Pardi, kita pakai mobilmu ya, kita akan bawa ustadz ke klinik malam ini," kata pak Mahmud. Pardi mengangguk dan segera melangkah keluar.


Pak Mahmud melirik ke arah kamar Humairo yang setengah terbuka. Tangisnya masih terdengar sesenggukan di dalam kamarnya. Ainul mengangkat tangannya lemah dan menunjuk ke arah seorang perempuan yang duduk di sisi pintu. Ia seperti mengarahkan perempuan itu ke arah kamar Humairo.


"Bu, coba kamu temui bu Humairo, mungkin ustadz ingin kita memberitahu bu Humairo," kata pak Mahmud mencoba menterjemahkan gerakan Ainul. Lagi-lagi Ainul mengangguk.


Perempuan itu segera bangkit dari duduknya da melangkah ke kamar Humairo. Ia melihat Humairo masih berbaring telungkup di atas ranjangnya. Dengan pelan ia mengetuk pintu. Humairo menoleh dan perlahan mengangkat tubuhnya. Ia mengusap air matanya dengan ujung selimut di sampingnya.


"Bu," Terdengar lagi panggilan dari luar kamar. Kali ini dari pak Mahmud. Humairo bangkit dan melangkah keluar kamar. Orang-orang yang duduk memandangnya. Humairo melirik sedih ke arah Ainul. Ainul menatapnya lemah.


"Ya, Pak," kata Humairo.


"Kami terpaksa harus membawa ustadz Ainul ke klinik, ini semua atas saran dari dokter Kandar, insya Allah, kami akan bergantian menjaga pak Ustadz," kata pak Mahmud. Humairo mengangguk lemah dan kembali ke kamarnya. Tangisnya kembali pecah saat ia sudah berada di dalam kamar. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar merasa sudah seperti orang asing di antara orang-orang yang berada di rumahnya. Yang membuatnya semakin sedih, ia merasa tak berhak diikutkan menjaga Ainul di rumah sakit.

__ADS_1


Terdengar suara mobil di luar rumah. Pak Mahmud segera memerintahkan beberapa laki-laki untuk menggotong tubuh Ainul ke atas mobil. Yang lain lagi ia perintahkan untuk mengambil bantal dan tikar untuk persiapan Ainul selama di rumah sakit. Suara-suara itu semakin memiriskan hati Humairo.


Suara-suara itu perlahan mulai tak terdengar seiring dengan terdengarnya kembali suara mobil di luar rumah. Rupanya mereka akan segera berangkat membawa Ainul ke rumah sakit.


Humairo tiba-tiba bangkit. Ia berlarian keluar rumah. Ia berteriak ke arah mobil yang perlahan bergerak maju.


"Tunggu!" teriak Humairo. Melihat. Ia melambaikan tangannya kepada orang yang duduk di belakang bak mobil pick up. Humairo memanggil salah satu perempuan yang berdiri tak jauh dari rumahnya.


"Tolong suruh mereka berhenti Bu, bilang, saya mau ikut," kata Humairo. Perempuan itu segera bergegas mendekati mobil itu. Humairo sendiri buru-buru masuk ke dalam rumah. Beberapa pakaian dikeluarkannya dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas.


"Bu, saya titip rumah saya untuk beberapa hari. Di dalam kulkas, ada beberapa sayur dan ikan, ibu boleh mengambilnya," kata Humairo. Ia menyerahkan kunci rumah itu dan bergegas menuju mobil. Orang-orang di atas mobil memberikan tempat duduk untuk Humairo pas di sebelah kanan kepala Ainul yang sedang terbaring. Pak Mahmud yang berada di bagian depan menoleh. Ia menawarkan Humairo untuk duduk di depan, tapi Humairo menolak.


* * *


Mobil pick up itu melaju dengan cepat membelah sunyi malam. Angin yang berhembus kencang akibat laju mobil yang cepat, membuat orang-orang, termasuk Humairo bersedekap mencari kehangatan di balik baju mereka. Duduk mereka saling merapat, mencoba menghalangi tubuh Ainul dari angin hempasan angin.


Humairo mengeluarkan selimut dari dalam tasnya dan menghamparkannya pelan di atas tubuh Ainul. Dalam kegelapan, Ainul menatapnya sedih. Dia sama sekali tak pernah menyangka Humairo akan ikut mengantarnya ke rumah sakit. Dia terlihat sudah berubah, mungkin sejak kepergiannya. Hanya saja, rasa percaya dirinya atau mungkin juga karna traumanya atas sikap kasar Humairo selama inilah yang membuatnya terus berprasangka tidak baik kepada Humairo.

__ADS_1


Tapi itu sudah terjadi. Waktu sepuluh hari yang telah di janjikannya untuk Humairo sudah berakhir, dan talakpun sudah diambil. Kini, dengan berubahnya Humairo, ia berharap bisa sembuh dari penyakitnya.


__ADS_2