Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#20


__ADS_3

Ruangan itu berukuran 4 x 5 meter. Di dalamnya terbilang lengkap. Selain brankar tempat pasien tidur, di samping kirinya terdapat sofa panjang berwarna hitam tempat orang yang menjenguk duduk, terkadang digunakan juga untuk tidur penjaga pasien. Di samping kanan brangkar, terdapat lemari kecil aluminium dengan dua rak berdekatan dengan meja kecil tempat meletakkan makanan pasien. Sebuah tv datar menggantung di tembok menghadap langsung ke tempat tidur pasien. Juga sebuah kamar mandi lengkap dengan shower dan wc jongkok. Berada dalam ruangan itu, seperti sedang berada di rumah sendiri.


Humairo menghempaskan tubuhnya pelan di atas sofa. Dia membayangkan, di dalam kamar itu akan berjejer pasien-pasien dengan suara erangan kesakitan mereka. Tapi suasana di dalam ruangan itu terbilang hening dan tenang. Hanya sesekali terdengar tangisan anak-anak dari kamar sebelah.


Humairo mendongak ke arah AC berwarna putih di pojok ruangan. Karna hawa di dalam ruangan terlalu dingin, ia mengambil remot di atas meja dan menurunkan volumenya. Salah satu lampu yang menyala di dalam ruangan dimatikannya dan hanya menyisakan satu lampu dekat pintu masuk.


Ainul masih terdiam dalam tidurnya. Humairo bangkit dan memperbaiki selimut di tubuh Ainul. Dipandangnya sejenak wajah Ainul yang tenang, lalu kembali melangkah ke sofa. Perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Melihat suasana kamar yang tenang dan lengkap, Humairo mulai membayangkan jika suatu hari nanti, kamarnya akan seperti ruangan itu. Tapi bayangannya terbuyar ketika ia menyadari bahwa hubungannya saat ini dengan Ainul sudah berakhir. Dia di sini saat ini hanyalah untuk menjaga Ainul hingga sembuhnya. Dia hanya ingin rasa bersalahnya sedikit terhapus dengan menjadi pelsyan Ainul selama rawat inap di klinik itu.


Tok,tok,tok...,


Humairo segera bangun dan bergegas menuju pintu. Ia lalu membukanya. Tiga orang perawat masuk dan tersenyum ramah kepada Humairo.


"Selamat malam, Bu," sapa perawat itu. Satu perawat lagi menyalakan lampu. Humairo mengangguk tersenyum.


"Ini semua Ibu," tanyanya lagi. Lagi-lagi Humairo mengangguk.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya Pak," tanya Humairo.


"Untuk lebih jelasnya, kita masih menunggu hasil lab, Bu, tiga hari lagi, insya Allah hasilnya akan keluar," kata perawat itu. Tangannya mulai memompa tensimate di tangannya. Ainul terlihat membuka matanya lemah.

__ADS_1


"80," kata perawat itu.


Humairo mendesah lega.


"Alhamdulillah, sudah naik 20 Pak," kata Humairo terlihat senang. Perawat itu tersenyum.


"Untuk diagnosa awal, bapak menderita hypertiroid akut Bu, Hypertiroid ini juga menyebabkan pengumpulan air di jantung pasien sehingga menyebabkan berat badan pasien menurun drastis dan mudah lelah." Perawat itu membuka tensimet di lengan Ainul. Perawat yang satunya terlihat menyuntikkan cairan ke dalam infus.


"Kami sudah menyuntikkan obat ke dalam infus pasien. untuk obat luar, kita akan memberikannya setelah tensi pasien stabil," kata perawat itu. Ia memasukkan semua peralatannya ke dalam tas. Ia menatap Humairo.


"Jangan biarkan pasien terlalu banyak bergerak ya Bu, saran saya, pasangkan pasien pampers agar tidak bolak-balik ke kamar kecil," kata perawat itu sebelum beranjak pergi.


"Ustadz, kalau ada yang ustadz butuhkan, jangan ragu-ragu memanggil saya," kata Humairo sembari tersenyum. Ainul menatapnya lemah. Bibirnya terlihat bergerak namun tanpa suara. Humairo menutupi dadanya dengan selimut.


"Ustadz istirahat lagi. Alhamdulillah tensi ustadz sudah naik, mudah-mudahan besok, ustadz sudah punya tenaga lagi," kata Humairo. Ia lalu berbalik dan mematikan lampu.


Humairo kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. Selimut yang telah ia keluarkan dari dalam tasnya kemudian ia hamparkan di atas tubuhnya. Ia berbaring dengan memiringkan tubuhnya menghadap Ainul. Ia takut tak melihat Ainul ketika ia butuh bantuannya.


Humairo mendesah panjang. Yang ia pikirkan saat ini adalah, bagaimana ia harus memasangkan pampers buat Ainul. Tidak hanya dia, Ainul tentunya pasti akan malu jika harus melihat Humairo membuka pakaiannya. Tapi, tak ada orang lain di tempat itu yang pantas melakukannya selain dia. Mau tidak mau, Ainul suka atau tidak, ia harus melakukannya. Malam ini ia harus memikirkan cara semudah mungkin agar dia maupun Ainul tidak akan merasa risih.


Humairo mulai menguap. Rasa kantuk mulai mengganggu keawasan matanya. Perlahan matanya terpejam.

__ADS_1


Kretek, Kretek...


Humairo membuka matanya. Ia menoleh ke arah pembaringan Ainul. Dalam remang-remang di dalam ruangan, ia melihat tubuh Ainul bergerak-gerak.


Humairo segera bangkit dan menyalakan lampu. Dilihatnya Ainul hendak mengangkat tubuhnya hingga hampir-hampir gagang besi tempat menggantung infusnya jatuh menimpa tubunya sebelum akhirnya Humairo sigap berlari menahannya.


"Kamu mau kemana Ainul. Katakan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu," kata Humairo. Ainul menggeleng. Ia memberi isyarat dengan tatapan matanya ke arah kamar mandi.


"Kamu sudah pakai pampers, Ainul. Gak apa-apa buang air di sana. Kata dokter, kamu gak boleh terlalu banyak bergerak. Ayo, aku bantu kamu berbaring," kata Humairo. Ia memegang tubuh Ainul yang lemah dan hendak membaringkannya kembali, tapi Ainul menolak dengan tetap terpaku pada duduknya.


Humairo mendesah. Ia duduk di sisi ranjang menghadap Ainul.


"Gak usah malu. Kamu selama ini sudah merawatku. Sekarang kamu sedang sakit. Jadi, percayakan kepadaku untuk mengurusmu. Aku bukan Humairo yang dulu lagi. Aku sudah berubah. Sekali lagi, gak usah malu. Buang airlah di sana, biar aku yang membersihkannya nanti," kata Humairo berusaha membuat Ainul agar terbiasa dengannya. Ainul menatap Humairo. Humairo tersenyum. Ia kembali memegang pelan tubuh Ainul dan membaringkannya.


Suara jam dinding di dalam ruangan berdentang. Tak beberapa lama setelah itu, suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar mengalun lembut dari speaker mushalla dalam kelinik. Humairo kembali merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk mulai menderanya. Ia akan istirahat sejenak sambil menunggu waktu subuh tiba. Tanpa disadarinya, dalam keremangan dalam ruangan, Ainul menatapnya haru. Betapa malam ini ia melihat bagaimana kesungguhan Humairo menghabiskan waktunya menunggunya di rumah sakit. Dia menyalahkan dirinya yang tidak bersabar sedikit saja menunggu perubahan Humairo. Kini semuanya sudah terlambat. Ia sudah terlanjur mentalaq Humairo dan kembali lagi merajut kasih dengan mantan pacarnya. Bahkan, dalam waktu dekat, jika Allah memberikan kesembuhan dari penyakitnya ini, mereka berjanji akan menikah dan akan menempati rumah yang baru di bayarnya setengah. Revi mungkin belum tahu kalau dia dibawa ke klinik Namira. Tapi lambat laun dia akan mencari tahu keberadaannya. Ia tidak bisa membayangkan perasaan keduanya saat bertemu di tempat itu. Revi pasti menganggapnya berkhianat kembali karna menjumpai Humairo bersamanya di tempat itu.


Segalanya tiba-tiba menjadi serumit itu. Dia tidak peka menangkap perubahan pada Humairo. Rasa tidak percaya dirinya membuatnya selalu menganggap Humairo benci kepadanya. Dia gagal melatih kesabarannya.


Ainul mendesah pelan. Ia menatap ke arah infus di sampingnya. Dia merasa tidak lagi selemah beberapa jam lalu. Mudah-mudahan malam ini tidak ada gangguan apa-apa pada dirinya. Dia tidak ingin membangunkan Humairo yang sudah lelap dalam tidurnya.


Ainul menguap pelan. Perlahan matanya terpejam. Suara detak jam dinding membawanya perlahan ke alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2