Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#16


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari begitu cepat berganti malam, pun juga sebaliknya. Perasaan manusia selalu berubah. Tak ada yang menjamin segalanya seperti apa yang kita harapkan. Kita hanya dituntut bijak menyikapi hidup. Terkadang apa yang tidak kita sukai hari ini, semua bisa berubah esok hari. Inilah yang kini dirasakan oleh Humairo. Ia merasa tiba-tiba saja berubah. Perasaannya yang sepertinya tidak bisa menerima sosok Ainul, kini ketika ia terbangun dari tidurnya, sosok Ainul lah yang lebih dahulu terlihat.


Humairo menatap langit yang gelap di ufuk maghrib. Malam ketiga ia menunggu kepulangan Ainul. Ia masih berharap Tuhan merubah keadaan. Jikapun Tuhan tidak menakdirkannya bersama Ainul, ia sudah berikrar untuk menjalani hidup sendiri. Dia tidak akan mengisi hatinya dengan laki-laki lain selain Ainul.


Humairo menunduk lemah. Wajahnya terlihat pucat dan kusam. Tubuhnya semakin kurus karna selera makan yang mulai berkurang. Hati yang gelisah dan tak tenang, seakan-akan telah memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti melakukan aktifitas apapun. Dia merasa kini telah menerima karmanya. Dia telah menerima hukuman yang setimpal karna menjadi istri paling durhaka di dunia ini. Ia harus menerimanya, bahkan, tak mengapa jika ia harus mati perlahan sebab rasa menyakitkan itu. Tak apa. Ia sadar harus menghabiskan hukumannya di dunia agar terbebas dari hukuman yang lebih berat di akhirat kelak. Sekarang ia mulai sadar, dia lelah dengan kesenangan yang telah dijalaninya selama ini. Dia tiba-tiba merindukan kebersamaan. Dia baru menyadari rumah itu terasa hangat dan lebih hidup jika ia mau menerima Ainul. Setidak-tidaknya untuk menemaninya ngobrol menjelang tidur. Dia sudah bosan bermain gadget. Malam-malamnya terasa kosong dan membosankan. Tak ada manfaat apapun. Hanya kegelisahan karna seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.


Humairo membalikkan tubuhnya pelan. Ia mendesah dan melangkah lunglai ke dalam rumah. Pintu kembali dibukanya lebar-lebar seperti malam-malam sebelumnya. Dia berharap, suatu malam nanti, Ainul akan pulang dan menutup sendiri pintu itu.

__ADS_1


Malam semakin larut. Gelap menghampar. Suara lolongan anjing sesekali memecah hening malam.


Humairo mendesah panjang. Ainul benar-benar tak menyisakan sedikitpun kenangan untuk dilihatnya saat kesepian. Mencari photonya pun kini sama sulitnya dengan mencari keberadaannya kini. Di media sosial pun, ia tak meninggalkan jejak sedikitpun. Ia benar-benar tersembunyi dan tertutup. Seandainya saja ia menyimpan photo Ainul saat ini, tentu itu bisa sedikit mewakili perasaannya saat ini. Setidak-tidaknya ia bisa bercerita tentang betapa merindunya ia kini kepadanya. Kini ia mulai sadar, cinta tidak bisa dilawan dengan kebencian. Seburuk dan sejelek apapun orang yang menaruh perasaan pada kita, kita tak harus menyikapinya berlebihan jika kita tak menghendakinya. Kita tak pernah tahu apa rencana dan kehendak Tuhan. Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Kini ia merasakannya sendiri. Setelah sekian lama membenci Ainul, hatinya begitu tersiksa karna terlalu merindukannya.


Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Humairo menoleh sembari memasang pendengarannya dan menyimak dengan seksama langkah-langkah kaki yang terdengar semakin mendekat. Sayup-sayup ia mendengar beberapa suara perempuan di luar rumah. Suara-suara itu semakin terdengar riuh. Dada Humairo berdebar. Nafasnya tertahan.


"Bu Humairo! Bu Humairo, keluar Bu." Humairo mengernyitkan dahinya. Itu seperti suara salah satu tetangga depan rumah. Sudah jam 3, ada apa mereka memanggil malam-malam begini, batin Humairo. Mungkin tetangganya itu memperhatikan pintu rumah yang terbuka sehingga ia berteriak menyuruh menutupnya. Tapi tak mungkin, suara-suara itu terdengar semakin ramai dan membuatnya takut.

__ADS_1


"Ada apa Bu," kata Humairo kepada salah satu perempuan yang berdiri bersedekap di teras rumah. Perempuan itu mendekat.


" Pak Mahmud tadi yang menyuruh saya membangunkan ibu, saya juga gak tahu Bu," kata perempuan itu.


Belum sempat melanjutkan pertanyaannya, tiba-tiba terlihat beberapa orang dengan langkah cepat, seperti sedang membopong sesuatu menuju ke rumahnya. Semakin dekat, beberapa orang itu langsung masuk kedalam rumah. Humairo masih terlihat kebingungan, namun beberapa orang di teras ikut masuk dan berkumpul di dalam rumah. Ia masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Tolong, yang lain keluar, kalau kita terus berkumpul seperti ini, ustadz Ainul kesulitan bernafas," kata pak Mahmud sebagian dari mereka keluar.

__ADS_1


Demi mendengar nama Ainul di sebut, Humairo berbalik dan segera menerobos masuk, membuyarkan kerumunan orang-orang di dalam rumah. Ia terdiam dengan mulut setengah menganga. Ia merasakan kakinya terasa lemas dan tanpa disadarinya, ia jatuh bersimpuh di dekat Ainul berbaring.


"Tolong, seseorang, nyalakan lampu," kata pak Mahmud.


__ADS_2