Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#21


__ADS_3

Humairo terbangun dari tidurnya. Matanya yang perlahan terbuka mulai memperhatikan sekelilingnya. Seperti ada suara yang membangunkannya dari tidurnya. Seperti suara menggeretas dari arah samping.


Humairo mengernyitkan keningnya ketika melihat bayangan sosok kurus duduk dengan kedua kaki menjuntai ke bawah brangkar.


Humairo segera melonjak bangkit. Ia baru ingat bahwa saat ini ia sedang berada di rumah sakit menemani Ainul. Melihat Ainul menurunkan kakinya dari brangkar, ia segera mendekat dan memegang tubuhnya. Botol infus yang tergantung terlihat bergoyang dengan kerasnya sebab tertarik oleh tangan Ainul.


"Kamu mau kemana?" kata Humairo sambil memegang gagang infus.


"Aku mau ke kamar mandi. Aku ingin buang air," jawab Ainul dengan suara serak. Humairo mendesah. Ia duduk di samping Ainul dan merangkul tubuhnya yang belum seimbang di atas brangkar.


"Kamu sudah pakai panpers, kenapa harus ke kamar mandi? kondisi tubuhmu masih lemah. Dokter melarangmu untuk bergerak," kata Humairo lembut.


Ainul terdiam. Ia menghela nafas panjang. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang dihibur ibunya. Ia mendehem lemah. Dahak di tenggorokannya menghalangi suaranya keluar. Humairo segera mengambilkan air botol kemasan dan meminumkannya.


"Kamu buang air di sini saja ya. Gak akan tembus kok," kata Humairo sambil tersenyum.

__ADS_1


Ainul menoleh kesana kemari. Ia malu mengatakan kalau panpers yang dikenakannya sepertinya sudah penuh. Ia berusaha tak menggerakkan tubuhnya, takut baunya tercium Humairo.


"Aku tidak terbiasa. Antarkan saja aku ke kamar mandi. Kamu bisa menungguku di luar," kata Ainul. Ia kembali menggerakkan kedua kakinya hendak turun dari brangkar. Humairo mendesah.


"Aku di sini ditugaskan pak Mahmud dan jamaah masjid untuk menunggu dan menjagamu. Ini adalah amanah bagiku. Jika terjadi sesuatu kepadamu, mereka akan mengira aku kesini hanya untuk tidur," kata Humairo. Ia memegang tangan Ainul, berusaha menahannya. Ainul menatap Humairo sejenak lalu kembali tertunduk.


"Sebenarnya..., panfersnya sudah penuh. Aku ke kamar mandi untuk melepasnya," kata Ainul lirih sambil menundukkan kepalanya. Humairo tersenyum. Dia tahu Ainul malu, tapi mau tidak mau ia harus memastikan Ainul tetap di tempat tidurnya.


Humairo turun dari brangkar. Salah satu tangannya tetap memegang tubuh Ainul. Setelah mengeratkan ikatan sarungnya, ia memegang tubuh Ainul dan membaringkannya perlahan. Ainul berusaha menolak. Panfers yang penuh dengan kotorannya membuatnya tak nyaman. Baunya pun perlahan mulai tercium.


"Ingat bagaimana dulu kamu memakaikan aku panfers saat aku sakit?" kata Humairo tersenyum berusaha mengingatkan Ainul. Ainul hanya terdiam. Ingatannya perlahan tertuju pada kejadian malam itu.


"Di sini juga gelap. Auratmu tetap terjaga dari pandanganku," sambung Humairo. Panfers yang dipakai Ainul sudah berhasil dilepasnya. Ia lalu memasukkannya ke dalam tas kresek dan membuangnya di tong sampah di luar ruangan.


Setelah itu Humairo masuk ke dalam kamar mandi. Mengambil secebok air dan kembali ke tempat Ainul. Dengan sigap dan tanpa berkata sepatah katapun, tangannya cekatan membersihkan tubuh bagian bawah Ainul. Ainul terlihat pasrah memejamkan matanya. Air matanya mengalir membasahi pipi kusamnya. Dia sama sekali tak menyangka Humairo akan seberubah itu. Tak ada rasa jijik sama sekali saat ia membersihkan kotoran yang menempel di pantat dan kedua pahanya. Humairo benar-benar sudah berubah. Ainul mendesah panjang. Kalaupun Humairo melihat semuanya, Humairo tak akan tertarik apalagi terangsang melihat tubuh kurus keringnya.

__ADS_1


Humairo mendesah panjang sambil tersenyum. Setelah bagian bawah tubuh Ainul sudah tertutup, ia kemudian menyalakan salah satu lampu di dalam ruangan.


Humairo kembali duduk di samping Ainul. Ia tersenyum sambil meratakan selimut di tubuh Ainul. Ainul mencoba membalas senyuman Humairo. Tapi rasa malunya melihat keadaannya sendiri, membuatnya menunduk malu.


Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar sebagai penanda dekatnya waktu subuh. Humairo bangkit dan melangkah menuju lemari kecil di dekat kulkas. Ia mengeluarkan sajadah dan mukena dari dalamnya. Setelah meletakkannya di atas tadi ia berbaring, ia lalu melangkah menuju kamar mandi.


Ainul melihatnya penuh haru. Tapi pikirannya kembali kacau ketika bayangan Revi muncul setelah tubuh Humairo tak terlihat lagi di balik pintu kamar mandi. Saat ini Revi pasti sedang berusaha menghubunginya. Ponselnya ia tinggalkan di rumah barunya. Besok atau lusa, Revi mungkin akan tahu keberadaannya di Klinik itu.


Suara Tarhim mengalun lembut menggantikan lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an. Ainul memejamkan matanya seperti ingin menyelami nama siapa yang lebih dominan menggetarkan hatinya ketika mengingatnya.


Ainul mendesah panjang. Jawabannya tetap sama. Tak ada getaran yang ia rasakan saat mengingat Revi. Revi mungkin hanya pelariannya ketika tak ada harapannya lagi bersama Humairo. Awalnya ia tak terlalu memikirkan apakah harus ada cinta dalam sebuah hubungan rumah tangga atau tidak. Karna ia berprinsip, cinta yang sebenar-sebenarnya cinta akan datang dalam agama yang teguh. Jika seseorang memiliki agama yang kuat,maka tak ada lagi kreteria. Semua bersumber dan berakhir karna Allah. Tapi kali ini ia tidak bisa menafikan. Getaran yang ia rasakan saat bersama Humairo, bahkan ketika ia hanya membayangkan sekilas wajahnya, begitu besar. Bahkan bayangan Humairo mampu mengalahkan pesona Revi yang nyata-nyata menemaninya di sampingnya. Haruskah ia memilih Humairo dan kembali membuat Revi terluka? Batin Ainul. Ainul tersenyum ketus. Seperti sedang mencemooh dirinya sendiri. Belum tentu juga menginginkan dirinya. Dia saat ini hanya kasihan melihat keadaannya yang mengerikan. Atau mungkin ingin menebus kesalahan yang pernah ia lakukan kepadanya dengan merawatnya di rumah sakit. Atau ini adalah bentuk rasa syukurnya karna ia akhirnya bisa bebas karna telah diceraikan. Kamu tetap tak akan pernah pantas menjadi suaminya, Ainul. batin Ainul.


Sudahlah, semua sudah terlambat. Jika tidak lagi menjadi istrinya, Humairo akan jadi saudaranya. Segala kebaikan Humairo saat ini akan dibalasnya dengan kebaikan pula. Dia tak harus mengkhianati Revi untuk kedua kalinya. Jodoh sudah ditentukan Allah. Dia tak akan membebani pikirannya dengan sesuatu yang tidak pasti. Sekali lagi, Humairo saat ini sudah berubah lebih baik, dan tentunya ia ingin meminta maaf kepadanya dengan cara ini.


"Humairo," panggil Ainul lirih ketika Humairo keluar dari kamar mandi. Humairo terdiam sejenak memandang Ainul. Ingin memastikan bahwa Ainul memang memanggilnya.

__ADS_1


Ainul mengangkat tangannya menyuruh Humairo mendekat. Humairo tersenyum dan segera mendekat. Karna suara Ainul yang pelan, ia mendekatkan telinga ke mulut Ainul.


"Ingatkan aku mulai tanggal berapa aku tidak shalat. Agar aku bisa mengqodo'nya nanti," kata Ainul. Humairo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


__ADS_2