
Sebenarnya Ainul merasa berat melangkahkan kakinya ke masjid untuk shalat subuh. Ia merasa khawatir meninggalkan Humairo sendirian di rumah. Tadi malam ia tertidur setelah sebelumnya sesekali mendengar Humairo muntah. Jam tiga tadi ia berniat memeriksa keadaannya, namun ketika ingat bagaimana Humairo memarahinya tadi malam, ia mengurungkan niatnya. Beras yang sudah dikumpulkan tetangganya tadi malam sudah bisa ia masak. Hari ini tidak seperti hari sebelumnya. Hari ini ia tidak membuatkan Humairo nasi goreng, takut tidak sesuai dengan perutnya. Sebagai gantinya ia menggoreng ikan kering dengan tambahan sayur bayam. Ia berharap Humairo suka dan kesehatannya pulih kembali.
Hari ini mungkin hari terakhirnya sebagai marbot di masjid. Ia sudah memutuskan tadi malam untuk mengundurkan diri. Kejadian tadi malam membuatnya terpukul. Ia tak bisa lagi menasehati orang sedang istrinya sendiri tidak bisa ia nasehati. Perbuatan haram yang dilakukan Humairo, yakni mengkonsumsi minuman memabukkan telah memberinya nilai buruk di mata para tetangga. Dia harus segera memikirkan pekerjaan lain setelah pengunduran dirinya sebagai marbot dan pengurus masjid.
Jamaah telah menunggunya ketika ia tiba di masjid. Melihat kedatangan Ainul, seseorang dari jamaah bangun dan mengumandangkan iqomah.
Ainul menolak ketika dipersilahkan jadi imam. Ia beralasan masih kurang sehat. Ia mempersilahkan pak Haji yang berada di sampingnya untuk maju. Ainul sudah terlanjur malu. Ia merasa para makmum yang kebanyakan adalah tetangganya itu pasti sudah membicarakan satu sama lain tentang apa yang mereka lihat di rumahnya. Untuk selanjutnya, ia tak akan pernah mau menjadi imam lagi.
Tak terasa shalat subuh bersama ritual wiridnya telah usai. Seperti biasa, para jamaah menunggu Ainul untuk memberikan sedikit pengajian setiap selesai shalat subuh.
__ADS_1
Ainul mendesah. Disingkirkannya mikropon yang ada di depannya. Ia ingin mengatakan sesuatu yang hanya jamaah di dalam masjid saja yang bisa mendengarnya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudaraku semuanya yang dimuliakan Allah. Mohon maaf sebelumnya karna hari ini saya tidak bisa mengisi pengajian seperti biasanya." Ainul menoleh ke salah satu jamaah memakai kopiah putih yang bersandar di tiang masjid.
"Mumpung Pak Misbah selaku ketua pengurus masjid hadir pada pagi ini, saya pribadi ingin mengajukan pengunduran diri saya_" sontak jamaah yang hadir berbisik satu sama lain sambil menatap Ainul, membuat Ainul menghentikan pembicaraannya. Suara riuh terdengar di dalam masjid.
"Tidak seperti ini Pak Ustadz, dengan alasan apapun kami tidak menerima pengunduran Pak Ustadz,"kata salah seorang di antara jamaah. Haji Misbah mencoba menenangkan jamaah dan berjalan mendekati Ainul. Kali ini ia duduk menghadap Ainul.
"Ini bukan masalah upah yang saya terima. Ini juga bukan masalah bosan atau tidaknya saya sebagai marbot. Ini semua hanya karna saya takut Amarah Allah swt kepada saya. Amat besar murka Allah kepada orang-orang yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya." Ainul tertunduk malu.
__ADS_1
"Kami bersaksi Pak Ustadz adalah orang baik. Apa yang Ustadz katakan tidak ada yang meleset dari apa yang Ustadz perbuat,"kata salah seorang mencoba meyakinkan Ainul. Ainul tersenyum.
"Saya tidak bisa mendidik istri saya seperti apa yang sering saya ucapkan kepada saudara-saudara sekalian. Saya belum bisa menjadi tauladan yang baik untuk keluarga saya, bagaimana saya bisa jadi tauladan bagi masyarakat?"
Kembali Ainul menundukkan kepalanya. Ia terlihat mengusap air matanya.
"Justru Pak Ustadz telah memberian keteladanan yang baik kepada kami tentang sebuah kesabaran. Kami sudah tahu sifat dan kelakuan istri Pak Ustadz, tapi kami juga paham, Pak Ustadz punya pendekatan lain untuk merubah istri Pak Ustadz. Kami tahu, merubah seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ainul terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Ia mengusap air mata yang hendak mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Maaf telah bercerita tentang keluarga saya pada bapak-bapak dan ibu-ibu. Ini terpaksa saya lakukan karna Bapak-bapak dan Ibu-ibu telah menyaksikan sendiri keadaan rumah serta istri saya. Tapi saya mohon Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudaraku semuanya, mohon jangan menghakimi istri saya, jangan salahkan dia. Dia hanya butuh waktu untuk berubah."
Para jamaah yang hadir mengangguk. Mereka berusaha menghibur dan memberi dukungan kepada Ainul, sehingga perlahan Ainul merasa bersemangat dan bangkit kembali.