Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#19


__ADS_3

Suasana di jalan raya terlihat sepi saat mobil pick up yang membawa Ainul berbelok dan perlahan memasuki gerbang sebuah klinik. Petugas jaga terlihat berjalan dan mulai mengarahkan sopir untuk memutar mobilnya.


Dengan sangat hati-hati, pak Mahmud dan orang-orang yang ada di belakang mobil segera menurunkan Ainul dan membawanya masuk ke sebuah ruangan yang telah ditunjukkan petugas. Mereka lalu membaringkan tubuh Ainul di brankar rumah sakit. Seorang perawat laki-laki yang datang memeriksa, menyuruh orang-orang yang menemani Ainul untuk menunggu di luar.


"Saya minta hanya keluarga terdekat yang menemani pasien di sini, yang lain mohon untuk menunggu di luar," kata petugas itu. Humairo menatap pak Mahmud, seperti ingin meminta maaf. Ia malu karna merasa sudah bukan bagian dari hidup Ainul. Ia merasa pak Mahmud lah yang lebih pantas jadi orang terdekat Ainul. Tapi ia berharap, pak Mahmud dan orang-orang yang bersamanya keluar dan meninggalkannya sendirian menunggu Ainul.


"Ayo, bapak-bapak, kita di luar saja, biar bu Humairo yang menjaga Ustadz," kata pak Mahmud mengajak teman-temannya keluar. Humairo mendesah lega.Ia tersenyum ke arah pak Mahmud.


Petugas lalu memasangkan kanula dari liquid oksiygen tank ke hidung Ainul.


"Tensi 60," kata petugas. Humairo mendesah.


"Ibu istrinya?" tanya petugas itu lagi. Humairo mengangguk. Ia melirik ke arah Ainul. Ainul masih memejamkan matanya.


"Sejak kapan mulai sakit Bu,"


"Tiga hari yang lalu, Pak,"


"kenapa baru dibawa Bu," kata petugas itu sambil memeriksa detak jantung Ainul. Humairo mendesah dan menengok ke arah luar. Pak Abbas dan orang-orang yang bersamanya nampak sedang duduk di luar gerbang Klinik. Humairo tak menjawab.


Seorang petugas perempuan datang dengan membawa beberapa lembar kertas. Ia memanggil Humairo ke meja di ruang sebelah yang hanya disekat kelambu.


"Ibu istrinya pasien?" tanya petugas itu. Humairo mengangguk. Kertas dan bolpoin disodorkan petugas itu ke depan Humairo.


"Silahkan ditanda tangani ya bu,"


Humairo meraih kertas itu. Setelah membacanya sebentar, ia menanda tanganinya,"

__ADS_1


"Ibu sudah menyiapkan bpjs untuk pasien," tanya petugas itu lagi. Humairo menggeleng.


"Mau pakai jalur umum,"


Humairo terdiam. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karna petugas itu terus melihatnya sembari menunggu jawaban darinya, Humairo mengangguk.


"Baik Bu, ibu tinggal menunggu panggilan dari kasir untuk keperluan administrasi." Petugas itu tersenyum dan melangkah meninggalkan Humairo. Humairo kembali ke ruang tempat Ainul berbaring. Ainul masih memejamkan matanya. Ia sudah terlanjur memilih jalur umum untuk perawatan Ainul selama di klinik itu, sedangkan ia sama sekali tak memegang uang sepeserpun. Humairo terlihat gelisah. Tak ada jalan lain selain meminta bantuan kepada pak Mahmud.


Humairo keluar dan melangkah mendekati pak Mahmud. Melihat kedatangan Humairo, pak Mahmud dan orang-orang yang bersamanya langsung bangkit.


"Bagaimana keadaan Ustadz Bu," kata pak Mahmud.


"Masih menunggu hasil pemeriksaan Pak,"


Humairo terdiam. Ia menatap pak Mahmud ragu.


"Ada apa, Bu," tanya pak Mahmud.


"Maaf, Pak kalau saya lancang mendahului Bapak, karna saya tidak membawa Bpjs milik Ustadz Ainul, terpaksa saya memilih jalur umum," kata Humairo sambil menunduk.


"Ya, gak apa-apa Bu, kita pakai jalur umum saja biar Ustadz Ainul nyaman selama perawatan," kata pak Mahmud sambil tersenyum.


"Tapi, Pak, saya sama sekali tidak membawa uang," kata Humairo dengan nada pelan.


Pak Mahmud tersenyum dan mengajak Humairo duduk di sisi taman kecil samping pos jaga.


Pak Mahmud mengeluarkan bungkusan kertas warna putih yang diikat karet. Ia lalu membuka ikatannya.

__ADS_1


"Ibu tidak usah khawatir, selain gaji sebagai pengurus masjid, Ustadz juga punya tunjangan kesehatan dari masjid. Ini, uang sepuluh juta ibu bawa dulu untuk keperluan ustadz dan ibu selama di sini, insya Allah, besok, saya akan mengumpulkan iuran dari jamaah pengajiannya Ustadz," kata pak Mahmud sembari memberikan uang di tangannya kepada Humairo.


"Sekali lagi, Ibu tidak perlu khawatir mengenai biaya Ustadz Ainul, insya Allah, orang baik seperti dia, rizkinya sudah dijamin Allah. Orang-orang menyayangi ustadz dan mereka berharap Ustadz cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dimasjid," kata pak Mahmud. Humairo tersenyum.


"Terimakasih Pak,"


"Oh ya Bu, kalau begitu, kami pamit pulang dulu, insya Allah besok kami datang lagi. Kalau Ibu butuh teman, besok saya suruh anak saya menemani Ibu,"


"Gak usah Pak, insya Allah saya bisa merawat Ustadz," kata Humairo.


Pak Mahmud kemudian pamit.


"Mari, Bu, salam kami buat Ustadz," kata pak Mahmud. Ia kemudian mengajak teman-temannya menaiki mobil. Humairo masih berdiri menatap mereka mobil itu hilang dari pandangannya.


Malam beranjak larut. Suasana terasa hening. Humairo masih duduk menatap Ainul yang masih berbaring. Selang infus sudah menancap di punggung tangan kanannya. Ia begitu pulas dalam tidurnya. Humairo bersedekap. Ia menatap ke arah AC di atasnya. Ia lalu mengeluarkan selimut dari dalam tasnya dan melangkah menuju pembaringan Ainul. Dengan pelan, ia menutupi tubuh kurus Ainul dengan selimut itu.


Humairo mendesah. Ia kembali menatap wajah Ainul lekat. Wajah cekung dan tubuh yang kurus. Perubahan yang sangat drastis. Beban apakah gerangan yang dipikirkan Ainul sehingga tubuhnya kurus seperti itu? batinnya mulai bertanya. Orang butuh berminggu-minggu dalam sakit ketika kondisi tubuhnya seperti itu. Mungkinkah itu semua karna sikapnya selama ini yang sangat kasar kepada Ainul?


Jika benar itu semua karnanya, maka ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sampai Ainul mati. Ainul harus hidup. Ainul harus kembali seperti semula. Ia tidak akan pulang dari klinik itu sampai Ainul benar-benar sembuh dan sehat seperti sebelumnya. Ia memang tidak punya uang untuk membiayai Ainul selama di rumah sakit, tapi ia punya rumah yang bisa ia jual jika sudah tidak ada lagi harapan lain. Baginya kini, hidupnya tak berarti lagi tanpa Ainul, walaupun pada akhirnya ia bukan lagi berstatus sebagai istrinya Ainul.


"Bu Humairo,"


Terdengar panggilan dari arah samping. Seorang petugas perempuan berdiri di luar kelambu kamar sebelah. Humairo bangkit dan melangkah menghampiri.


"Ibu selesaikan dulu administrasi untuk pasien di ruang depan. Nanti, kalau sudah selesai, Ibu ke ruang sebelah," kata petugas itu. Humairo mengangguk dan segera berjalan ke ruang yang di tunjukkan. Dua orang petugas datang dan memindahkan Ainul dari tempat tidurnya.


Suara jam dinding terdengar berbunyi memecah hening dalam ruangan. Sudah jam 3 malam. Setelah menyelesaikan administrasi di ruang kasir, Humaio dan beberapa orang petugas membawa Ainul ke kamar perawatannya.

__ADS_1


"


__ADS_2