Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#22


__ADS_3

Jam di dinding berdentang. Sinar matahari terlihat menerobos di sela-sela bangunan dan menimpa rerumputan di taman kecil depan ruang tempat Ainul di rawat. Di luar, beberapa langkah kaki dan suara para penjenguk terdengar, membangunkan Humairo yang tak sadar terlelap usai shalat subuh tadi.


Humairo segera merapikan diri ketika terdengar suara ketukan dari arah pintu. Ia lalu bangkit dan membuka pintu.


"Selamat pagi, Bu. Atas nama pak Ainul?" kata seorang perempuan dengan seragam orange dari balik pintu. Humairo mengangguk. Perempuan itu mulai memeriksa wadah-wadah berisi makanan di atas troli yang di dorongnya. Setelah membaca nama-nama yang ditempel di plastik, perempuan itu mengambil satu wadah dan memberikannya kepada Humairo.


"Mari, Bu," kata perempuan itu sambil membalikkan troli dan pergi. Humairo tersenyum. Setelah menutup pintu, ia langsung membawa makanan dan meletakkanya di atas meja samping brangkar.


Humairo tersenyum ke arah Ainul yang hanya menatapnya. Kursi plastik dekat meja didekatkan ke brankar. Ia lalu duduk tepat disamping kepala Ainul.


"Bagaimana keadaanmu, Ainul. Sudah merasa baikan?" tanya Humairo lembut dengan senyum ramahnya. Ainul mengangguk pelan. Sekilas Humairo melihat senyum di balik bibir Ainul yang melekat rapat.


"Mau sarapan?" tanya Humairo.


Ainul menggeleng.


"Nanti saja," jawab Ainul pelan.


Humairo mengangguk. Selimut yang dipakai Ainul dirapikannya. Ia melirik ke arah jam dinding.


"Masih pagi. Kamu tunggu aku selesai mandi dulu ya, nanti kita sarapan bareng," kata Humairo. Ia lalu bangkit. Setelah mengambil handuk di dalam lemari, ia lalu melangkah menuju kamar mandi.


* * * * *


Setelah menaruh sepeda motornya di tempat parkir, Revi segera bergegas menuju pintu masuk klinik. Satpam yang sedang duduk langsung berdiri ketika Revi berhenti di depannya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Bu," kata satpam. Revi tersenyum.


"Hanya mau nanya, Pak. Kamar vip nomor 10 dimana ya , Pak," tanya Revi sambil memperhatikan catatan di tangannya.


"Silahkan ibu masuk. Kamarnya dekat kok dari sini. Ini urutan nomor satu. Ibu tinggal berjalan dan melihat nomor-nomor yang tertera di depan pintu masing-masing kamar," kata satpam itu seraya menunjuk ke arah kamar nomor satu yang terletak tak jauh dari pintu gerbang. Revi tersenyum.


"Terimakasih, Pak." Revi lalu melangkah masuk.


Humairo membuka tutup plastik yang menutupi wadah makanan. Sudah jam 8 pagi. Sudah waktunya Ainul sarapan. Ada tiga mangkuk berisi makanan yang tersedia di dalam wadah itu. Satu persatu Humairo letakkan di atas meja. Ia kemudian menaruh satu persatu lauk dan sayuran ke dalam mangkuk berisi nasi. Ia lalu duduk di kursi dekat Ainul.


"Ayo, sudah waktunya sarapan. Biar aku suapin," kata Humairo. Ainul terdiam menatap Humairo. Humairo tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Biar aku makan sendiri," jawab Ainul dengan suara serak. Humairo tersenyum.


"Aku yakin tanganmu belum terlalu kuat untuk mengangkat suapan ke mulutmu. Tapi gak apa-apa kalau mau dicoba," kata Humairo. Ia memberikan sendok yang dipegangnya kepada Ainul. Mangkuk makanan tetap ia pegang di tangannya.


Dengan tangan bergetar, Ainul berusaha mengangkat suapan ke mulutnya. Belum sampai ke mulutnya, tangannya yang bergetar membuat makanan di dalam sendok jatuh berserakan di pangkuannya. Humairo segera melepas mangkuk di tangannya dan sigap membersihkan makanan yang jatuh di tubuh Ainul.


Humairo tersenyum. Sendok di tangan Ainul di ambilnya.


"Gak apa-apa. Untuk satu dua hari ini biar aku yang suapin. Insya Allah, dua hari lagi kekuatannya akan kembali pulih," kata Humairo. Ia lalu mengambil mangkuk di atas meja dan mulai menyuapkannya ke mulut Ainul.


Terdengar suara ketukan dari arah pintu.


"Silahkan masuk," kata Humairo. Ia berpikir, itu perawat yang biasa memeriksa Ainul . Biasanya mereka akan membuka sendiri pintunya ketika ada ijin dari penghuni ruang.

__ADS_1


Perlahan pintu terbuka. Revi muncul dari balik pintu. Humairo yang tak pernah melihat Revi hanya tersenyum. Bukan perawat yang biasa masuk memeriksa keadaan Ainul. Pakaiannya pun seperti pakaian pengunjung. Mungkin dia pengunjung yang sedang mencari keluarganya yang sedang dirawat di Klinik itu. Tapi ada yang aneh ketika Humairo melihat tatapan mata perempuan itu yang bergantian menatapnya dan menatap Ainul. Saat menoleh ke arah Ainul, dia melihat ada yang aneh juga pada tatapan Ainul. Sepertinya, baik Ainul maupun perempuan itu sama-sama saling mengenal.


"Mau cari siapa, Kak," sapa Humairo ketika melihat perempuan itu hanya berdiri sambil tetap memegang daun pintu. Perempuan itu hanya terdiam. Tatapannya kini terfokus pada Ainul. Ia nampak menggelengkan kepala. Humairo mengernyitkan dahinya. Ia melihat perempuan itu seperti menangis. Baru saja Humairo hendak mendekatinya, perempuan itu mundur dan menutup pintu.


Humairo menoleh ke arah Ainul seraya telunjuknya diarahkan ke arah pintu. Seperti sedang ingin meminta penjelasan. Ainul mendesah dan menundukkan kepalanya.


"Apa kamu mengenalnya?" tanya Humairo ketika telah duduk kembali di dekat Ainul. Untuk beberapa saat Ainul masih terdiam hingga kemudian mengangguk lemah.


"Dia Revi, calon istriku," jawab Ainul lirih. Humairo kaget. Spontan ia bangkit dan segera berlarian ke arah pintu. Setelah membuka pintu, ia kembali berlari mengejar Revi.


"Kak, tunggu!" teriak Humairo dengan nafas tersengal-sengal. Ia memegang dadanya sambil terus melambaikan tangannya agar Revi berhenti, tapi Revi sudah terlanjur menaiki sepeda motornya dan melesat cepat meninggalkan area parkir klinik.


Humairo menghela nafas panjang dan mendesah pelan ,berusaha menstabilkan nafasnya. Perutnya tiba-tiba terasa sakit sebab berlari tadi. Ia berbalik dan melangkah menuju ruangan Ainul.


Humairo menatap Ainul lemah sambil bersandar di pintu. Dia masih terlihat kelelahan. Ainul menundukkan wajahnya. Revi pasti kecewa melihatnya bersama Humairo. Ia pasti mengira kalau dia berbohong telah menceraikan Humairo. Ia mendesah pasrah.


Humairo mendekat dan kembali duduk. Ia kembali mengambil mangkuk makanan. Saat hendak menyuapi Ainul, Ainul mengangkat tangan mencegahnya.


"Cukup, aku sudah kenyang. Terimakasih," kata Ainul lemah.


"Tapi baru dua kali suapan, Ainul. Makanlah lagi, biar tenagamu cepat pulih," kata Humairo. Ainul menggelengkan kepalanya. Humairo mendesah. Ia melepaskan mangkuk di tangannya di atas meja. Ia kemudian menatap Ainul lekat. Dia tahu perasaan Ainul saat inu sedang kacau karna kejadian tadi. Calon istri Ainul pasti beranggapan yang tidak-tidak kepada mereka. Tapi seharusnya, dengan kondisi Ainul seperti itu, seharusnya ia tak cepat-cepat pergi seperti itu tanpa meminta penjelasan.


"Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Kalau kamu punya nomornya, biar aku telpon dia," kata Humairo. Ainul sedikit tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.


"Gak usah. Yang sudah terjadi biarlah terjadi,"

__ADS_1


"Jangan bilang begitu, Ainul. Ternyata cepat menyerah dan berpasrah diri adalah kelemahanmu, Ainul. Kamu berpasrah sebelum benar-benar bertekad mengejarnya."kata Humairo. Ainul menatap dalam wajah Humairo. Kedua matanya tampak berlinang. Bibirnya bergetar hendak mengatakan sesuatu. Tapi air matanya keburu tumpah. Humairo mendesah. Ia menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangan. Ia menyesal telah mengatakan itu pada Ainul.


"Maafkan aku," desah Humairo lirih. Ia lalu meletakkan mangkuk makanan di atas meja. Ia kemudian melangkah ke bangku panjang tempatnya tidur tadi malam. Ia kemudian merebahkan tubuhnya perlahan. Ia kemudian menutup wajahnya dengan selimut. Dalam diamnya, Humairo menangis.


__ADS_2