Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#23


__ADS_3

Ainul menoleh lemah ke arah Humairo yang masih berbaring sambil menutup wajahnya. Gadis itu belum sarapan setelah menyuapinya tadi. Wajahnya pun terlihat agak pucat. Tentunya ia kurang istirahat karna menjaganya semalam.


Sementara itu. Di dalam selubungan selimut yang menutupi wajahnya, Humairo masih menangis dalam diamnya. Dia sudah berusaha menerima keadaan setelah diceraikan Ainul. Ia sudah mengikhlaskan jika ia dan Ainul ditakdirkan untuk berpisah. Tapi begitu mengetahui bahwa perempuan itu adalah calon istri Ainul, entah kenapa hatinya tiba-tiba memberontak. Sakit sekali ketika mengetahui ada wanita lain di hati Ainul. Wanita yang begitu dekat, dan mungkin saja, jika Ainul tidak sakit, mereka pasti sudah menikah.


Humairo memejamkan matanya. Air matanya deras mengalir tak tertahan. Ia tiba-tiba merasa tak pantas menunggu Ainul di tempat itu, sekalipun dengan niat untuk menebus kesalahan yang pernah ia perbuat kepada Ainul. Seharusnya, perempuan itu yang lebih pantas menjaganya, karna dia adalah calon istrinya.


Humairo mengusap air matanya. Ia menghela nafas dan mendesah panjang. Ada baiknya ia pergi dari tempat itu sambil mencari tahu keberadaan calon istri Ainul itu. Jika ia tetap di sana tanpa memberitahu yang sebenarnya kepada wanita itu, ia takut akan merusak hubungan mereka.


Humairo membalikkan tubuhnya dan membelakangi tempat tidur Ainul. Ia tidak ingin Ainul melihat matanya sembab sebab menangis tadi. Ia akan langsung ke kamar mandi dan mencuci muka. Setelah itu ia akan berpura-pura membeli makanan di luar untuk sarapannya. Ia tak perlu mengkhawatirkan Ainul. Ada perawat yang akan mengontrolnya. Panfers yang baru saja ia pasangkan juga cukup untuk menampung kotoran Ainul hingga malam nanti. Dia harus menemukan perempuan itu sebelum malam nanti.


Humairo membuka selimut yang menutupi wajahnya. Perlahan ia bangkit. Dengan posisi tubuh tetap membelakangi Ainul, ia berjalan pelan menuju kamar mandi. Ainul menoleh. Ada yang aneh dengan Humairo. Humairo seperti tak ingin ia melihatnya.


Setelah menunggu beberapa lama, Humairo keluar dari kamar mandi. Ainul termangu melihat wajah Humairo yang terlihat lebih cantik setelah keluar dari kamar mandi.


Ainul memalingkan pandangannya ketika Humairo menoleh ke arahnya. Humairo mendesah. Melihat wajah Ainul, ia merasa tak tega meninggalkannya.


"Kamu belum sarapan, belilah makanan di luar," kata Ainul ketika melihat Humairo melangkah menuju lemari tempat ia menyimpan pakaian. Ainul menyodorkannya selembar uang lima puluh ribu. Humairo menoleh. Ia terdiam sejenak. Beberapa pakaian yang ada di tangannya di masukkannya kembali. Ia lalu bangkit dan duduk di kursi samping Ainul.


"Simpan saja, aku masih punya uang simpanan," kata Humairo sembari tersenyum. Sapa Ainul membuatnya sedikit tenang.


"Ambillah, aku titip buah anggur kalau kamu keluar membeli sarapan," kata Ainul.


"Simpan saja, Nul. Kita tidak tahu berapa hari kamu disini. Simpan buat biaya rumah sakit,"


"Ambillah, kamu yang menjaga ku disini. Jadi aku menitipkannya kepadamu."


Humairo mendesah panjang. Setelah menatap tangan Ainul yang mulai lemah memegang uang, Humairo akhirnya mengambilnya. Ia lalu bangkit dan melangkah menuju pintu.

__ADS_1


"Humairo."


Humairo menoleh. Ia mengangkat kedua alisnya. Ainul terlihat tersenyum.


"Hati-hati. Banyak kendaraan di luar," kata Ainul. Humairo tersenyum.


"Jangan lama-lama. Cepatlah kembali." kata Ainul.


Humairo menatap Ainul. Ainul seperti tahu rencananya untuk pergi. Humairo merasa tak tega. Melihat sorot mata Ainul, terlihat jelas bahwa Ainul menginginkannya tetap di sana.


Humairo menganggukkan kepalanya. Tidak hanya isyarat buat Ainul bahwa ia akan kembali. Tapi untuk dirinya sendiri. Dia tidak akan kemana-mana. Dia akan kembali menemani dan menjaga Ainul. Terserah, apakah saat ini Ainul sudah mengikat janji dengan seseorang atau tidak. Ini masalah kemanusiaan.


Humairo mendesah mantap. Ia lalu melangkah keluar. Tapi baru saja ia keluar dari pintu kamar, terlihat pak Mahmud bersama para pengurus masjid memasuki gerbang klinik.


Pak Mahmud dan orang-orang yang bersamanya satu persatu mendekat menyalami Humairo.


"Mau keluar sebentar cari makanan, Pak,"kata Humairo sambil memperbaiki ujung jilbabnya.


"Apa ustads gak sedang tidur,Bu," tanya pak Mahmud.


"Gak, Pak. Ustadznya baru saja selesai sarapan. Silahkan saja masuk. Ustadznya tadi minta di belikan buah. Sekalian saya mau cari sarapan," kata Humairo. Pak Mahmud tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengajak orang-orang yang bersamanya masuk.


Ainul tersenyum ketika melihat pak Mahmud bersama beberapa pengurus masjid muncul di balik pintu. Pak Mahmud dan orang-orang yang bersamanya nampak senang melihat keadaan Ainul yang agak membaik. Terlihat lebih baik daripada saat membawanya tadi malam.


"Alhamdulillah, Ustadz. Kami berharap Ustadz lekas sembuh agar bisa berkumpul lagi di masjid seperti kemarin-kemarin. Terus terang, ada yang terasa hilang tanpa kehadiran ustadz," kata pak Mahmud sambil memegang tangan Ainul. Ainul tersenyum. Ia menatap satu persatu orang-orang yang menjenguknya.


"Terimakasih Bapak-bapak. Tidak hanya saya, semoga Bapak-bapak sekalian juga tetap sehat," kata Ainul. Serempak mereka mengucap amin.

__ADS_1


"Oh ya, Ustadz. Kemarin, bu Revi mencari Ustadz, apakah dia sudah kesini?" kata pak Mahmud. Ainul terdiam. Ia menatap pak Mahmud.


"Belum, Pak. Mungkin besok saja besok ia kesini," jawab Ainul. Ia tak mau memperpanjang pembahasan jika ia mengatakan bahwa Revi memang pernah ke tempat itu. Walaupun mungkin saat ini berbagai pertanyaan dari orang-orang, terutama pengurus masjid terkait hubungannya dengan Revi dan Humairo, menjadi bahan perbincangan mereka, tapi ia merasa belum saatnya menjelaskan kepada mereka.


Ainul mengangkat tangannya lemah seperti hendak memegang tangan pak Mahmud. Pak Mahmud yang mengerti segera mendekatkan tangannya.


"Pak, saya mungkin hanya empat hari di sini. Biar saya berobat di rumah saja. Dengan Fasilitas seperti ini, tentu biayanya akan mahal sekali. Biar saya pulang saja, Pak," kata Ainul. Pak Mahmud tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ustadz tahu apa kata jamaah ketika mereka menyerahkan sumbangan mereka untuk biaya berobat Ustadz?"


Pak Mahmud menoleh ke arah orang-orang di sampingnya.


"Saksinya adalah bapak-bapak pengurus ini. Mereka bilang, mereka akan menyalahkan saya jika tak membawa Ustadz pulang dalam keadaan sehat, pun juga dengan kondisi seperti sebelum Ustadz sakit," lanjut pak Mahmud.


Salah satu pengurus masjid yang duduk di samping yang lain brangkar Ainul ikut mempertegas.


"Uang sumbangan dari jamaah mukim khusus untuk biaya pengobatan Ustadz lebih dari cukup. Satu bulan pun Ustads di rawat di sini, uang itu tidak akan habis." kata pak Mahmud.


Ainul mendesah panjang. Ia mengusap air mata di ujung matanya. Ia menatap satu persatu ke arah pak Mahmud dan pengurus lain.


"Terimakasih, Pak. Titip salam sama jamaah, semoga Allah membalas kebaikan mereka," kata Ainul. Pak Mahmud dan yang lainnya menganggukkan kepala.


Pandangan mereka serempak berpaling ke arah pintu ketika terdengar suara salam. Humairo tersenyum. Beberapa tas kresek berisi buah-buahan ia letakkan di atas meja. Ia kemudian mengeluarkannya dan memindahkannya ke dalam piring.


"Mari, silahkan bapak-bapak. Dicicipi dulu buahnya. Maaf, saya lupa bawa termos. Bapak-bapak jadi gak bisa ngopi," kata Humairo.


"Gak usah repot-repot, Bu. Nanti kami bisa ngopi di luar. Buahnya disimpan saja untuk Ustadz," kata pak Mahmud yang langsung disambut anggukan semua pengurus masjid.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Pak. Saya cuma ingin makan anggur saja. Ayo, Pak. Biar kita makan sama-sama" kata Ainul mempersilahkan orang-orang di depannya. Pak Mahmud kemudian menyodorkan piring berisi buah-buahan kepada teman-temannya.


__ADS_2