Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#13


__ADS_3

Humairo membuka tudung penutup makanan di atas meja. Sudah hampir zuhur, namun Ainul yang ditunggu-tunggu kepulangannya, tak kunjung juga datang. Dia sendiri belum makan sejak tadi pagi. Hanya beberapa coklat yang ia simpan di lemari untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Humairo mendesah pendek. Seharusnya Ainul sudah duduk di kursi plastik biru yang telah ia persiapkan. Ia akan menemaninya makan dengan perasaan malu di sudut meja. Ia akan memperhatikan makanan mana yang ia masak, yang paling disukai Ainul. Itu yang ia bayangkan malam tadi. Ia sudah bela-belain tak makan, hanya agar ia punya kesempatan untuk makan bersama Ainul hari ini.


Humairo mendesah dan duduk. Ia tidak tahu kapan Ainul akan pulang. Ia harus makan walaupun hanya beberapa suap saja. Tak apa. Jika nanti Ainul pulang, ia masih punya kesempatan untuk makan bersama.


Assalamualaikum!


terdengar salam dari luar rumah. Humairo menoleh. Setelah minum beberapa teguk air, ia melangkah keluar. Bu Marhamah, tetangga samping rumah terlihat berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, ada apa Bu" sapa Humairo ramah. Ini pertama kalinya ia bertutur sapa dengan tetangganya sejak ia menikah dengan Ainul. Sebelumnya, ia merasa benci melihat tetangga-tetangganya yang sibuk membicarakannya. Mungkin saja bu Marhamah akan merasa aneh dengan perubahan sikapnya hari ini.


"Maaf Bu, ini ada titipan buat ustadz Ainul," kata bu Marhamah sambil memberikan sebuah bungkusan kepada Humairo.


"Apa ini Bu," tanya Humairo.


"Itu ikan mas bakar pesanan ustadz. Kemarin ia pesan sama ibu, katanya ustadz kepingin sekali makan ikan mas. Cuma saya yang lupa Bu, baru tadi pagi inget," kata bu Marhamah sambil tersenyum.


"Enggak usah Bu, itu kami ambil di kolam, memang kami tangkap khusus untuk ustadz Ainul," kata bu Marhamah. Iapun segera pamit.

__ADS_1


Humairo kembali melangkah lemah ke arah dapur. Sesampainya di depan meja, Ia mengeluarkan tiga ekor ikan mas bakar dari dalam kresek dan meletakkannya ke dalam piring.


Ia kembali duduk. Ia mamandang ke arah makanan yang belum habis ia cicipi. Ia sudah tak bersemangat lagi untuk memakannya. Ia menutupnya kembali dan memilih ke kamarnya.


Hari ini Humairo benar-benar merasa kesepian. Ainul yang tak kunjung pulang, padahal sebelum-sebelumnya hal yang biasa Ainul lakukan, menjadi sesuatu yang meresahkan baginya. Ainul sudah terbiasa pulang larut malam, tapi dengan kondisinya saat ini, Humairo sangat mengkhawatirkannya. Lebih meresahkan hatinya dari kehilangan seorang David.


Humairo menangis. Kata-kata terakhir almarhumah ibunya kini menjadi kenyataan. Pesan tulus seorang ibu yang telah ia sia-siakan karna mencintai seseorang yang bersumber dari sesuatu yang baik secara zahir. Mutiara yang berkilauan tidak serta merta dilihat dari kaca pajangan yang mewah. Ia terlebih dahulu ditemukan di dasar tanah yang tersembunyi dan menjadi sesuatu yang berharga ketika berada di tangan yang tepat.


Tak terasa waktu begitu cepat berputar. Ketika ia masih larut dalam tangis dan ratap menyesalnya, azan maghrib terdengar mengalun merdu, membuat tangis Humairo semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Humairo mengusap air matanya. Ia lalu bangkit dan melangkah keluar rumah. Ia kemudian duduk di sudut teras, tempat dimana Ainul biasa tidur. Ia mengusap-usap lantai sembari membayangkan Ainul sedang terbaring di sana. Ia akan menunggu Ainul di sana, sampai kapanpun ia pulang. Ia ingin merasakan bagaimana kedinginannya Ainul saat tidur di sana. Bahkan jika ia harus sakit, ia akan tetap di sana menunggu Ainul pulang.


__ADS_2