Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#14


__ADS_3

Humairo membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Udara terasa dingin. Tidur di teras rumah, membuatnya menggigil kedinginan. Humairo menengok ke arah jam dalam ponselnya. Sudah jam 11 malam. Kokok ayam jantan mulai terdengar bersahut-sahutan. Humairo bangun dan bersandar di dinding teras. Seharusnya, seperti malam-malam sebelumnya, Ainul sudah pulang dari masjid. Kalau tidak jam 10, jam 11 ia sudah menemukan Ainul terbaring di teras rumah. Ia mulai merasa ada hal aneh yang terjadi sama Ainul. Dalam kondisi sakit seperti itu, mungkin saja telah terjadi sesuatu kepadanya. Pingsan di jalan barangkali.


Penuh dengan pikiran yang tidak-tidak tentang Ainul, Humairo semakin resah. Ia segera bangkit dan langsung masuk ke dalam rumah. Senter kecil dan jaket di dalam lemari ia keluarkan. Setelah mengunci pintu rumah, Humairo mulai berjalan menyusuri gelapnya malam. Ia merasa sudah tidak tahan bila terus menerus menunggu dalam cemas. Ia harus mencari Ainul, atau setidak-tidaknya untuk memastikan keberadaannya.


Humairo terus melangkah. Sesekali ia menunduk mengambil batu-batu kecil ketika beberapa anjing berkeliaran di depannya. Suasana sepanjang jalan begitu gelap. Sesekali suara kerikil yang beradu dengan langkahnya, memecah hening malam.


Humairo menghentikan langkah kakinya ketika sampai di depan gerbang masjid. Perlahan ia mendorong pintu gerbang masjid, namun sayang pintu itu terkunci.


Humairo mendesah kesal. Ia kemudian mengarahkan sinar senternya ke arah anak tangga teras masjid. Ada sepasang sandal jepit terlihat di sudut tangga. Hunairo terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Itu mungkin sandal Ainul, walaupun ia tidak pernah meihat sama sekali sandal yang sering Ainul gunakan di rumah. Ia yakin, Ainul tidak akan kemana-mana. Masjid itu adalah rumah pertama bagi Ainul, ketika di rumah keduanya ia tidak mendapatkan kenyamanan.


Humairo kembali mendesah. Walaupun kecewa, ia merasa sedikit tenang karna Ainul sudah ia pastikan berada di dalam masjid. Setidak-tidaknya, malam ini ia juga akan tidur tenang karna tidak lagi mencemaskan keberadaan Ainul.

__ADS_1


Humairo berbalik dan memutuskan kembali ke rumahnya.


*


Humairo menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setibanya di rumah. Ia mendongak menatap langit-langit kamar. Ia merasa begitu lelah malam ini. Apa yang ia lakukan, dan segala usaha untuk menarik perhatian Ainul sejak subuh tadi terasa sia-sia dengan tidak pulangnya Ainul malam ini. Walaupun ia sendiri belum begitu yakin dengan cara pendekatannya terhadap Ainul, tapi setidak-tidaknya, ketika Ainul ada di rumah, ia punya kesempatan untuk melakukannya.


Mungkin Ainul sudah jenuh dengan sikap dan tingkah lakunya selama ini. Ainul sudah mati rasa dan tak menginginkannya lagi. Terlalu banyak hal kasar ataupun kata tak pantas yang ia ucapkan untuk Ainul. Tentu Ainul punya batas kesabaran. Dan inilah mungkin batas kesabaran Ainul.


Tanpa sadar, air mata Humairo mengalir di pipinya. Dia sudah berusaha semampunya untuk menganggap masalah yang kini dihadapinya adalah masalah sepele. Masalah yang tak perlu ia pikirkan sedalam itu. Tapi rasa takut kehilangan Ainul semakin besar menguasai hatinya. Rasa takut yang akan membuatnya malam ini sulit memejamkan matanya.


inikah cinta itu? ataukah rasa yang kini dirasakannya hanyalah efek dari rasa bersalahnya? atau saat ini ia hanya merasa kasihan saja kepada Ainul. Ainul yang sakit dan tak punya siapa-siapa. Ainul hanya orang asing, yang kebetulan ditugaskan pesantren tempatnya menimba ilmu untuk mengamalkan ilmunya di desa itu. Orang-orang di kampungnya merasa Ainul punya kemampuan agama di atas rata-rata, sehingga nasib baik mengantarnya sebagai pengurus masjid, serta dapat bonus spesial menikahinya.

__ADS_1


Lantas, kenapa saat ini ia merasa takut kehilangan Ainul. Kenapa sampai selarut ini ia masih saja tak bisa memejamkan matanya karna mencemaskan Ainul? Di masjid itu, mungkin hanya ada tikar tipis, dan mungkin saja ia tidur berbantal kumpulan sarung yang ia kumpulkan dalam kresek plastik. Ainul akan kedinginan, apalagi saat ini ia sedang sakit. Ia membayangkan, di sana kini ia akan menggigil kedinginan.


Yah, Ainul memang sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu. Ia sudah terbiasa tidur di teras rumah. Ia sudah biasa tidur dimanapun kantuk mendatanginya.


Tapi, masalahnya kini tak seperti hari-hari sebelumnya. Hari-hari yang penuh caci makinya kepada Ainul. Kali ini sangat berbeda. Dia tidak bisa lagi membendung tangisnya jika ia ingat Ainul. Ia tidak bisa menenangkan hatinya ketika rasa cemasnya tentang Ainul memenuhi seluruh ruang dalam hatinya. Rasa tidak tenang itu seakan-akan ingin meledak, karna tak bisa lagi ditampung hatinya.


Terkadang ia harus mengumpat Ainul. Kenapa ia tidak pulang malam ini. Mengumpat malam, kenapa tidak mengeluarkan hal-hal menakutkan, sehingga Ainul takut meninggalkan rumah. Mengumpat angin, kenapa ia tidak berhembus sedingin-dinginnya sehingga Ainul tetap mencari kehangatan di dalam rumahnya.


Sulit, dan tetap tak bisa. Bayangan Ainul bermain-main di pelupuk matanya. Dan ia tidak bisa memastikan, besok Ainul akan kembali ke rumah. Dia mulai tak terbiasa jika membayangkan, esok ia tidak bertemu dengan Ainul.


Humairo bangkit dan duduk di depan cerminnya. Rambutnya urak-urakan. Wajah yang ia rias, yang ia pertahankan dan perbarui setiap kali luntur, kini diusapnya keras dengan kedua tangannya. Dia merasa, kini ia termasuk korban dari perkataan orang bijak; terlalu membenci seseorang, hingga orang yang paling ia benci saat ini, telah menjelma menjadi mesin penyiksa yang telah mencuri ketenangannya.

__ADS_1


Humairo meletakkan kepalanya di atas meja. Kembali ia terisak-isak dalam tangisnya.


__ADS_2