
Humairo masih mengamati Ainul yang terbaring di ruang tamu. Ia mulai terdengar menggigil lagi setelah siang tadi, ia begitu pulas dalam tidurnya. Demamnya naik lagi setelah ia memaksakan diri mengambil air wudhu untuk shalat maghrib.
Ainul sama sekali belum menyentuh makanan yang ia hidangkan di sampingnya tidur. Makanan itu tadi diantarkan tetangga depan rumah. Beberapa lauk di dalam rantang, ia pisahkan dan menyisakan beberapa saja yang tidak berpengaruh pada asam urat Ainul.
Setelah dokter Kandar memberitahukan penyakit Ainul, ia langsung mencari tahu penyakit itu di internet, apa yang boleh dimakan dan yang tidak boleh. Beberapa buah wortel dan sayuran kol sengaja ia beli tadi sebelum maghrib di warung sebelah. Nanti malam ia akan belajar memasakkannya untuk Ainul.
Dari tadi, ia duduk di pinggir pintu kamarnya sambil terus memperhatikan Ainul. Ketika Ainul terbangun untuk shalat maghrib beberapa menit tadi, ia buru-buru masuk dan bersembunyi di dalam kamarnya. Ia malu Ainul melihatnya dan tahu kalau ia memperhatikannya. Walaupun sebenarnya ia khawatir Ainul terjatuh atau terjadi sesuatu kepadanya.
Ternyata sulit memulainya dari awal, ketika Ainul seperti masih trauma dengan sikapnya yang kasar dan membencinya. ia pun pada akhirnya merasa malu sendiri, dan hanya bisa berharap, esok atau esoknya lagi, Ainul akhirnya mengerti bahwa dia benar-benar telah berubah.
*
Perlahan malam mulai beranjak larut. Suara kokok ayam jantan di pertengahan malam, membangunkan Ainul dari tidur lelapnya. Badannya masih terasa panas, begitupun juga dengan tubuhnya yang masih terasa lemah. Tapi perutnya yang lapar memaksanya untuk bangkit perlahan dan bersandar di dinding.
Ainul menengok pelan ke arah kamar Humairo yang terbuka. Setelah mencicipi beberapa suap makanan di dekatnya, ia bangkit dan berjalan dengan langkah terhuyung ke kamar Humairo.
__ADS_1
Humairo terlihat sangat pulas sekali. Ketika Ainul melihat selimut yang dipakai Humairo tersingkap hingga memperlihatkan kedua pahanya yang putih, Ainul perlahan mendekat dan menutupinya kembali.
Ainul masih berdiri dengan satu tangan menahan tubuh lemahnya di pintu. Dipandanginya wajah Humairo yang nampak lelap. Bersih dan penuh gurat-gurat keceriaan. Dia sudah membayangkan, besok, wajah itu akan bertambah ceria, melebihi sinar mentari pagi di ufuk timur. Dia akan segera terlepas dari kekangan yang selama ini membelenggu ketenangannya.
Setelah puas memandang wajah Humairo, Ainul berbalik dan melangkah ke kamar mandi. Setelah mengambil air wudhu, ia kembali dan menggelar sajadahnya di tempat tidurnya. Takbir pertamanya membangunkan Humairo. Humairo bangkit. Dengan perlahan ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia melihat Ainul sedang melaksanakan shalat.
Humairo tersenyum. Ia sudah tidak melihat Ainul yang menggigil kedinginan di dalam sarungnya. Ia terlihat begitu tegak berdiri dan khusyuk dalam shalatnya. Dalam hati ia berharap, semoga Ainul pulih kembali dan bisa melakukan aktifitasnya.
Humairo melangkah kembali ke tempat tidurnya. Hp di dekatnya di raihnya. Dengan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar, tangannya mulai terlihat sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya. Ia mulai membaca dan memperhatikan dengan seksama beberapa menu makanan di layar ponsel. Sesekali ia tersenyum sambil menoleh ke arah Ainul yang sedang shalat.
Ia akan menunggu sampai Ainul tidur lagi, dan tanpa sepengetahuannya nanti, ia akan memasak beberapa menu yang ia dapatkan di internet. Ia sudah membayangkan Ainul akan duduk manis sambil menikmati masakan yang akan ia hidangkan di meja dapur. Sekalipun mungkin tidak enak, tapi ia yakin, Ainul tidak akan menyisakan sedikitpun makanan itu di dalam piringnya. Itu harapannya.
*
*
__ADS_1
Malam semakin larut. Ainul masih duduk bersila di atas sajadahnya. Tatapannya lekat ke ujung sajadah. Sesekali ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sudah sepuluh hari, dan ia harus menepati janjinya kepada Humairo. Walaupun berat, dan mungkin salah di mata Tuhan, ia tetap akan melakukannya. Ia merasa , inilah batas kemampuannya. Ia sudah tidak boleh lagi serumah dengan Humairo.
"Maafkan aku bu Salma," desah Ainul parau.
Ainul menoleh ke arah kamar Humairo yang masih terbuka. Ia lalu bangkit dan merapikan sajadah serta menggulung tikar tempatnya tidur. Tas hitam yang ia simpan di dalam lemari kecil di belakangnya, ia keluarkan dan mengeluarkan sebuah map dari dalamnya. Map itu kemudian ia letakkan di atas tv tak jauh dari tempatnya tidur. Beberapa potong pakaian yang terbungkus dalam tas kresek, dimasukkannya ke dalam tas.
Ainul bangkit dan perlahan berjalan ke kamar Humairo. Humairo masih dilihatnya tertidur pulas. Pulas dan tanpa beban. Ingin sekali ia mencium kening putih itu sebagai tanda perpisahan, atau sekedar membelai rambutnya, tapi ia takut nanti Humairo terbangun dan marah. Ainul tersenyum, namun air matanya mulai terlihat mengalir di wajah kusamnya. Setelah untuk beberapa saat memandang wajah Humairo, Ainul menutup pintu kamar dan melangkah pergi.
*
Suara tarhim terdengar dari arah masjid. Bersamaan dengan itu, vibrasi dari dari alarm yang distel Humairo di ponselnya bergetar membangunkannya. Ia melonjak kaget dan segera bangkit dari berbaringnya. Setelah sejenak merapikan rambut dan pakaiannya, ia segera bangun.
Humairo mengamati sekitarnya. Masih gelap. Ia mencoba melihat dengan seksama ke arah dimana Ainul tidur. Tidak seperti yang ia lihat sebelumnya. Kosong, dan tak tampak orang sedang tidur. Munginkah Ainul sudah bangun dan pergi ke masjid? tanyanya dalam hati. Ia belum benar-benar sehat. Tak seharusnya ia keluar rumah dalam kondisi masih sakit seperti itu. Apalagi angin yang bertiup di luar sana terdengar agak kencang.
Humairo mendesah dan melangkah menuju dapur. Beberapa sayuran yang ia beli sesudah maghrib tadi, mulai ia bersihkan. Sambil melihat beberapa menu masakan di hp yang ia letakkan di atas meja, ia mulai sibuk memilih beberapa bahan-bahan memasak. Beberapa wadah dan piring yang menumpuk di dalam bak, secara bergantian ia cuci dan letakkan di atas rak. Sebagian lagi ia letakkan di atas meja makan.
__ADS_1
Humairo tersenyum. Masakan yang baru saja ia cicipi tidak terlalu mengecewakan. Sudah sesuai resep yang ia dapatkan di salah satu aplikasi. Nasi yang ada di magic com juga sudah masak. Humairo mulai memindahkan sayur yang dibuatnya ke dalam piring-piring kosong di atas meja. Humairo tersenyum. Tumben ia masak sebanyak itu. Ada sop-sopan, dan ada sambal dengan campuran mentimun, wortel dan brokoli. Juga ada telur rebus yang sudah ia pisahkan kuningnya. Dia tidak ingin asam urat Ainul kambuh. Apa yang ia baca di internet sebelum tidur tadi, sudah ia lakukan semua. Ia berharap, usahanya hari ini adalah awal yang baik untuk memperbaiki hubungannya dengan Ainul.
Setelah menutup semua makanan yang ada di atas meja, Humairo melangkah ke kamar mandi dan berwudhu. Ia harus memulai shalat pertamanya, setelah dalam waktu yang cukup lama ia tidak pernah melakukannya. Habis shalat nanti, ia akan mandi dan tampil secantik mungkin di hadapan Ainul. Ia harus berani memulai pembicaraan. Ia harus minta maaf dan meyakinkan Ainul bahwa dia bukanlah Humairo yang dulu.