Ada apa dengan HUMAIRO

Ada apa dengan HUMAIRO
#15


__ADS_3

Humairo tergagap dari tidurnya. Ia mendapati dirinya tertidur dalam posisi duduk dengan menyandarkan kepalanya di atas meja rias. Ia terdiam sejenak, berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia tadi seperti mendengar suara teriakan. Suara teriakan itu terasa sekali nyaring di telinganya. Humairo menoleh ke arah jam dinding. Sudah jam 9 pagi. Rupanya tadi subuh ia tak sadar tertidur di tempat duduknya.


"Assalamualaikum," terdengar suara salam disertai ketukan beberapa kali di pintu luar. Humairo segera merapikan rambutnya dan membersihkan wajahnya dengan pelembab di depan kaca. Dia berharap, orang yang ada di luar sana adalah Ainul.


Humairo segera bangkit dan bergegas menuju pintu. Pak Mahmud dan dua orang berpeci hitam tampak berdiri ketika Humairo membuka pintu. Humairo tersenyum.


"Maaf Pak, saya ketiduran, silahkan masuk Pak," kata Humairo mempersilahkan ketiganya masuk. Ia lalu menggelar tikar di ruang tamu dan mempersilahkan pak Mahmud dan kedua orang yang bersamanya duduk.


"Bu, ini sedikit makanan buat pak Ustadz," kata pak Mahmud sambil menyerahkan tas warna hijau kepada Humairo. Humairo mengambilnya dan segera bergegas menuju dapur, tapi baru beberapa langkah, pak Mahmud mencegahnya.


"Gak usah repot Bu, kami sudah ngopi tadi di masjid," kata pak Mahmud seakan-akan sudah tahu kalau Humairo ke dapur untuk membuatkannya kopi. Humairo berbalik dan duduk di depan mereka.


"Kami kesini ingin menjenguk ustadz Ainul, sudah dua hari gak ke masjid, kami jadi cemas, jangan-jangan ustadz Ainul belum sembuh," kata pak Mahmud. Humairo terdiam. Kata-kata pak Mahmud seperti benda keras menghantam dadanya. Nafasnya berhembus lebih cepat. Wajahnya seketika berubah pucat. Melihat Humairo terdiam lama dengan nafas yang naik turun dengan cepat, pak Mahmud menoleh ke arah kedua temannya.


"Bu, Ibu gak apa-apa," tanya pak Mahmud. Humairo masih terdiam, kali ini disertai dengan air mata yang mengalir di pipinya. Pak Mahmud dan ketiga temannya semakin heran.


"Bu, Bu Humairo, ada apa Bu." Pak Mahmud terlihat mulai cemas. Sesenggukan tangis Humairo semakin keras.


"Kemana dia," kata Hafiza. Suaranya terdengar parau diantara isak tangisnya. Kembali pak Mahmud dan keduanya saling pandang heran.


"Dia sudah pergi sejak kemarin siang. Aku sudah menunggunya bermalam-malam, kemana dia, tolong temukan dia." tangis Humairo semakin menjadi-jadi, namun semakin lama semakin terdengar. Mata Humairo terpejam dan tubuhnya perlahan meluruh dan jatuh di lantai. Pak Mahmud dan kedua temannya panik. Ia segera berlari dan memanggil beberapa perempuan yang sedang duduk di halaman rumah mereka.


"Tolong Bu, tiba-tiba saja bu Humairo pingsan, tolong diamankan Bu," kata pak Mahmud. Dia kemudian mengajak kedua temannya keluar dan memilih duduk di teras rumah.


"Kalau ustadz Ainul tidak ada di rumah, kira-kira kemana ya," kata pak Mahmud sembari mengusap-isap ujung bibirnya dengan jempol tangannya. Ia mendesah berkali-kali sambil menatap ke arah kedua temannya.

__ADS_1


"Mungkin pulang kampung ke rumahnya kali Pak," kata salah seorang temannya. Pak Mahmud mengangguk-angguk, sepertinya ia sedang mengingat sesuatu. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana panjangnya dan mengeluarkan sebuah ponsel.


"Sebentar, kayaknya saya pernah menyimpan salah satu nomor kerabat ustadz Ainul,"kata pak Mahmud. Ia terlihat mulai mengecek beberapa nomor di dalam ponselnya. Pak Mahmud mengangkat ponselnya dan menempelkannya di telinganya. Sejenak pak Mahmud terdiam menunggu orang yang ditelponnya mengangkat panggilannya.


"Assalamulaikum Pak Junaidi, ini, saya pak Mahmud," kata pak Mahmud sambil tersenyum. Melihat kedua temannya mendekat seperti ingin mengetahui pembicaraan pak Mahmud, pak Mahmud mengaktifkan speaker ponselnya.


"Ini Pak, saya mau menanyakan kabar ustadz Ainul,"


"Lho, kok nanya nya sama saya Pak, seharusnya saya yang nanya sama Bapak, Pak Mahmud tahu sendiri kan, ustadz Ainul sudah dua tahun ini gak pulang, sejak ditugaskan di desa Bapak," kata suara di seberang. Pak Mahmud dan kedua temannya saling pandang.


"Maaf Pak, saya kira ustadz Ainul sedang pulang kampung," pak Mahmud terdiam sejenak.


"Baik Pak, mungkin ustadz Ainul sedang ada urusan di luar, kami akan menunggunya. Mari Pak, Assalamulaikum."


"Waalaikum salam,"


Ia mendesah.


"Kenapa Pak Mahmud tidak memberitahukan apa yang terjadi," kata salah seorang temannya.


Pak Mahmud menggeleng.


"Tidak usah Pak, kita tunggu dulu sambil mencari tahu keberadaannya. Mungkin saja beliau lagi keluar kota karna ada urusan mendadak tanpa sempat memberitahu istrinya," kata pak Mahmud.


"Tapi, kenapa bu Humairo sampai pingsan Pak,"

__ADS_1


" Nah, itu juga yang saya pikirkan. Mungkin karna ustadz Ainul masih sakit sehingga bu Humairo jadi cemas. Apalagi hilangnya sejak kemarin siang," imbuh pak Mahmud.


"Begini saja Pak, kita bertiga mencari dulu keberadaan ustadz Ainul di tempat beliau biasa berkunjung, mungkin kita bisa dapat informasi," usul salah satu temannya. Pak Mahmud mengangguk setuju. Dia lalu mendekati ibu-ibu yang sedang berjaga di samping Humairo. Ia melihat Humairo sudah sadar. Melihat pak Mahmud berdiri di depan pintu, Humairo bangun. Ibu-ibu di sampingnya segera memegang tubuhnya.


"Pak Mahmud, tolong cari suami saya, dia masih sakit Pak, tolong, bawa dia pulang ke rumah Pak," pinta Humairo memelas. Pak Mahmud tersenyum sambil mengangguk.


"Pasti Bu, insya Allah, Ibu yang tenang di rumah, kami pasti akan mencari pak Ustadz," kata pak Mahmud. Ia dan kedua temannya kemudian pamit pergi.


"Bu, terimakasih telah menjaga saya. Saya juga minta maaf atas sikap saya selama ini. Tuhan sedang marah sama saya. Saya terlalu jahat Bu," kata Humairo sambil memegang satu persatu tangan ibu-ibu di yang duduk di samping kiri dan kanannya.


"Alhamdulillah, bu Humairo sudah sadar. Kami tidak pernah membenci bu Humairo, kami menghormati bu Humairo seperti kami menghormati ustadz Ainul. Kalau bukan karna ustadz Ainul, sampai sekarang saya pasti tidak bisa shalat," kata salah satu ibu di samping kirinya.


"Iya Bu, ustadz Ainul orangnya baik, mudah-mudahan ustadz Ainul cepat pulang, lama gak dengar pengajiannya," tambah yang lain. Humairo tersenyum. Ia menangis haru.


"Terimakasih Ibu-ibu, saya sudah tidak apa-apa Bu, saya sudah bisa ditinggal,"


"Gak apa-apa ini Bu,"


Humairo tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Saya gak apa-apa Bu,ibu-ibu lanjutkan pekerjaannya. Saya juga mau ke dapur, mau memasak untuk ustadz, takut nanti pulang," kata Humairo berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mereka pun panit dan meninggalkan Humairo.


Humairo perlahan bangkit dan menutup pintu. Ia berdiri lemah bersandar di pintu. Tatapannya menerawang. Kembali air matanya keluar. Ainul benar-benar telah pergi meninggalkannya. Ia merasa hampa dan merasa menjadi perempuan paling tidak berguna di muka bumi.


Tatapan mata Humairo tertumbuk pada sebuah map warna hijau di atas televisi. Perasaan, sebelumnya ia tidak pernah melihat ada map di atas televisi itu. Humairo mendekat dan mulai membuka map. Di dalamnya ia melihat beberapa lembar kertas bertuliskan surat kepemilikan tanah dan rumah. Tatapan Humairo berkeliaran kemana-mana, seperti memikirkan sesuatu. Ia merasa tak pernah menerima sertifikat tanah dari ibunya. Mungkin Ainul yang selama ini menyimpannya. Ia mengembalikannya kembali dan menghilang.

__ADS_1


Humairo menundukkan kepalanya lemah. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamarnya. Tubuhnya yang lemah, ia hempaskan di atas ranjang. Ia terdengar kembali menangis tersedu-sedu.


__ADS_2