
"Astaghfirullah!" Serempak orang-orang yang ada di dalam rumah beristighfar, ketika lampu di dalam rumah dinyalakan. Sebagian perempuan yang berdiri di dekat pintu menjerit kaget ketika melihat tubuh Ainul yang kurus kerontang terbujur lemah di atas tikar pandan. Tangis mereka pecah hingga mengundang tetangga lain berkerumun di luar rumah.
Benar-benar memprihatinkan. Setiap tetangga-tetangga perempuan yang datang menengok hampir berteriak ketika melihat kondisi tubuh Ainil yang kurus kering. Berbeda sekali saat tiga hari yang lalu, ketika mereka masih melihat Ainul di masjid. Kedua pipi yang menjorok ke dalam, serta tulang kedua lututnya yang menonjol seperti hendak keluar dari kulit tipis yang membungkusnya. Ainul nyaris tak dikenal di bawah cahaya temaram lampu di langit-langit ruang. Perubahan yang begitu cepat, sehingga mereka mulai bertanya satu sama lain tentang penyakit yang diderita Ainul.
Humairo terperangah. Sesekali menggeleng tak percaya. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Matanya tak berkedip memandang tubuh kurus di depannya. Hanya binar-binar di matanya yang seakan-akan memberi isyarat, ada luapan kesedihan yang ia coba untuk ditahannya.
Seorang perempuan mendekat ke arah Humairo. Dengan pelan ia memegang tubuh Humairo.
"Bu Humairo, istighfar Bu, Alhamdulillah ustadz Ainul masih hidup," kata perempuan itu dengan tangis yang ditahan. Ia mengusap-usap punggung Humairo. Humairo masih tak bergeming. Ia masih saja menatap tak berkedip tubuh Ainul.
__ADS_1
Ainul membuka matanya perlahan. Humairo terbuyar dari ketertegunannya. Sedikit senyum tersungging dari bibirnya. Pak Mahmud mengambil air kemasan di sampingnya lalu perlahan menyodorkannya ke mulut Ainul.
"Pelan-pelan Ustadz," bisik pak Mahmud ketika melihat mulut Ainul bergerak meneguk minuman. Mata Ainul mulai mengamati sekelilingnya. Wajah-wajah di depannya mulai ia perhatikan satu persatu, hingga tatapannya berakhir di wajah Humairo. Air mata Humairo tumpah tak terbendung. Ia mengenal mata itu. Lelaki di depannya memang benar-benar Ainul. Tangisnya mengundang tangis orang-orang yang menyaksikan.
Ainul mengangkat lemah tangan kirinya. Pandangannya kini dialihkannya ke arah pak Mahmud. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Melihat itu, pak Mahmud merendahkan kepalanya dan mendekatkan telinganya ke mulut Ainul. Pak Mahmud mencoba mendengarkan lebih seksama apa yang dibisikkan Ainul. Ia memberi isyarat kepada orang-orang agar diam. Dia sama sekali belum bisa menangkap apa yang dikatakan Ainul. Beberapa kali ia membisiki Ainul agar ia mengulang perkataannya.
Pak Mahmud akhirnya mengangguk. Kembali ia membisiki Ainul.
Ainul kembali menoleh ke arah Humairo. Tatapannya lemah. Ia menatap Humairo beberapa saat lalu kembali menatap pak Mahmud. Ainul menggeleng lemah. Pak Mahmud kembali mendekatkan telinganya ke mulut Ainul ketika melihat Ainul seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti yang pertama, pak Mahmud harus mengulangi pertanyaannya hingga lima kali sebelum ia mengerti yang dikatakan Ainul.
__ADS_1
"Kenapa ustadz bilang begitu, ini rumah Ustadz, lihatlah, bu Humairo sangat bahagia melihat ustadz pulang," kata pak Mahmud. Kali ini ia tidak mengangkat kepalanya karna tahu ada banyak hal yang seperti ingin disampaikan Ainul.
"Pak Mujmal?" tanya pak Mahmud. Ainul mengangguk. Pak Mahmud menoleh ke belakang.
"Di mana pak Mujmal," kata pak Mahmud ke arah orang-orang yang berada di belakangnya. Seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam rumah. Ia segera mendekati dan duduk di samping pak Mahmud.
"Bapak memanggil saya," tanya orang yang bernama pak Mujmal.
"Saya tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan ustadz Ainul, tapi tadi sepertinya ia menyebut nama Bapak," kata pak Mahmud.
__ADS_1
Pak Mujmal memperbaiki posisi duduknya. Ia mendekatkan telinganya ke mulut Ainul. Ainul membisikinya sesuatu, tapi ia sama sekali tak mengerti. Ia lebih mendekatkan telinganya, tapi tak ada satupun maksud Ainul yang ia tangkap. Pak Mujmal menatap pak Mahmud.
"Bagaimana Pak," tanya pak Mahmud. Pak Mujmal menggeleng dan mendesah panjang. Setelah untuk beberapa saat terdiam seperti memikirkan sesuatu, ia kembali menatap pak Mahmud.