Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 01


__ADS_3

Di sebuah ruang kelas yang mulai sepi karena waktu istirahat telah berlalu selama beberapa menit. Terlihat dua orang wanita yang satu dengan rambut yang tergerai panjang dan yang satu dengan rambut pendeknya.


Jing,,


Jing,,


Jing,,


Bunyi notifikasi Whatsapp berbunyi dari salah satu HP murid perempuan yang rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai begitu saja.


Senyumnya merekah.


"Sumpah ini cowok kayaknya ada rasa deh sama gua, gila banget masa ngirim pesan ada love nya gitu. Hihihi mencair ni hatiku. " Ucapnya sembari memamerkan pesan itu.


"Apaan si lu Jess, jangan lebay deh. Baru gitu aja dah baper lu! " Sahut temannya yang sedang membereskan buku pelajaran.


"Bilang aja syirik lu Shin, ngaku aja gausah banyak sangkalnya! " Ejek Jessie pada temannya.


Jessie Liaw Anggara.


Perempuan cantik dengan paras campuran luar, hidungnya mancung, rambutnya selalu panjang, dan tak lupa senyumnya yang mampu menampung ribuan harapan. Mungkin anggapa Jessie perempuan itu lebih anggun dengan rambut panjang makanya ia tidak pernah tampil dengan rambut pendek.


"Hadeh.. Lu yang banyak sangkal sama banyak ngayal, kaya gua gatau sifat lu aja. " Memegang keningnya yang tak panas.


"Serah lu lah Shin, gua mau ke Kantin dulu makan. Ikut ga?" Ajak Jessie.


"Ga ah, gua mau nyatet dulu. Belum selesai tadi." Sambil menulis.


Shindy Pangaribuan.


Temen dari kecil sampai sekarang. Rumahnya juga ada di sebelah rumah gua. Dia udah gua anggap kaya saudara sendiri. Anaknya realitistis, omongannya pedes, tapi soal pertemanan dia nomer satu deh.


Pernah dulu gua dipalak sama temen sekelas waktu SD, dan Shindy lah yang menghajar mereka habis-habisan sampai mereka ngompol di celana. Sumpah kalo inget kejadian itu puas banget rasanya.


★★★


Di Kantin Sekolah.


Jessie makan di tempat langganannya yang berada di paling pojok. Ia tengah duduk berpangku tangan menunggu antrean untuk memesan makan.


Dari arah Pintu Masuk, terlihat sosok pria maskulin, tampan, tinggi, berlari ke arah Jessie dengan tangannya yang melambai tanda memanggil seseorang.


"Hai beb, daritadi dipanggil pura-pura ga liat. Sedih deh gua jadinya."


"Yeee apaan sih Mo, gua malu ni diliatin orang-orang. Jangan manggil beb dong, kebiasaan deh lu." Jessie nampak sedikit malu, karena suara Komo yang kalau berbicara tidak pernah bisa pelan.


"Lah kalo bukan beb berarti. . . . . Sayang. Gimana kalo diganti sayang panggilnya." Kata Komo dengan nada menggoda.


Komo.


Dia anak tajir yang juga Sekompleks sama Rumah gua. Anaknya tengil, usil, dan suka guyonan receh. Tapi asli, Dia orangnya manis banget. Dia rajanya gombal dan rajanya romantis pokoknya.


Gua sering berpikir kalo dia sebenernya ada rasa sama gua, nyatanya Dia selalu deketin gua, gombalin gua, nraktir gua makan, beliin kado, ah pokoknya sweet gitu.


Deg, deg, deg..


Buset jantung gua ga karuan deh, bisa baper beneran kalo tiap hari manggil gitu..


Dalam hati, Jessie merasa sangat tidak nyaman, pipinya mulai merah dan menjadi salah tingkah sendiri, Dia celingukan seperti orang kepanikan.


"Lu kenapa yang? kok kaya ada yang dicari gitu, nyari apa biar aku cariin"


Haduh, malah manggil yang. kalo ternyata Dia suka gua gimana nih. Pura-pura bodoh atau langsung tanya ya, gua bingung.


"Hei!"


Seketika Jessie terbangun dari lamunannya, Ia kaget dengan seruan Komo yang tiba-tiba meninggikan suara. Langsung saja Jessie menoleh ke samping tapi ternyata malah bertatapan mata dengan Komo kurang dari 5 cm.


Dalam keadaan itu bibir Komo hampir saja mengenai bibir Jessie tapi masih belum sempat karena Jessie langsung menarik mukanya.


"Hehehe.. ternyata suka yang intim-intim gini ya yang. "


Mata Jessie membelalak malu dan kesal, seketika dia membenturkan dahinya ke dahi Komo. Komo yang masih dalam posisi tadi tidak sempat mengelak.

__ADS_1


Dugh.. (Suara benturan)


"Makan tu jidat! "


"Aduhhh.. Cewek ko gaada lembut-lembutnya dikit. " Komo sebenernya tidak kesakitan, tapi dia pura-pura saja sakit. Dia tidak mau membuat malu Jessie dengan usahanya membenturkan keningnya tadi.


"Siapa suruh ngagetin gua tadi, pake teriak segala, kan jadi refleks noleh ke elu. " Menahan rasa sakit di keningnya.


"Ya lu sendiri ditanya bengong, malah nyalahin gua lagi, huh! " Komo membela diri.


"Ihhh, gua bengong tu mikir pelajaran tadi. Masih gua inget-inget rumusnya biar ga lupa, gara-gara lu kan jadi buyar, " Elak Jessie dengan lihainya, padahal bukan karena rumus ia sampai melamun.


"Yaudah maaf, nanti aku buatin kamu dolgona yang enak banget deh. " Bujuk Komo.


"Emm." Jessie pura-pura merajuk agar tidak terlihat gampang dibujuk.


"Gratis ga bayar, langsung gua buat sendiri. Spesial buat sayangku, Jessie. " Masih dengan usahanya.


"Beneran? " Dengan bibir manyun dan mata menggemaskan, Jessie meminta kepastian atas permintaan Komo. Karena dia sendiri juga menyukai dalgona, jadi pikirnya buat apa menolak minuman gratis.


"Bener dong.. ih gemesss banget gua ma elu. Sini-sini pipinya cubit dulu. " Komo dengan serunya mengumel-umel pipi Jessie dengan tangannya. Tentunya dengan lembut hingga membuat Jessie tersipu malu lagi.


"Bi, aku soto ya. Kamu mau apa?" Komo memesankan makanan untuk Jessie.


"Aku mie ya Bi. "


"Woke, bentar ya, Neng," Jawab Bibi pemilik Kantin.


Setelah beberapa menit kemudian, pesanan Komo dan Jessie sudah tersaji di meja.


"Makan yang banyak biar enak dipeluk yang. "


"Please, Mo. Jangan ambigu deh dan jangan panggil gua begitu!" Ucap Jessie kesal.


Daritadi Komo selalu menggoda Jessie entah dengan ucapan atau tindakan ringan yang sebenarnya sangat mengesankan di mata Jessie.


"Panggil begitu yang mana, gua ga ngerti maksud lu yang. "


"Itu loh yang barusan lu ucap terakhir. "


"Ihh, itu loh. Itu yang kata sa- yang," Jessie mengucapkan kata sayang dengan nada lirih dan mendelik karena malu.


"Kata apa? Gua ga denger, ulangi ulangi! "


"Sa- sa- yang" Menjawab dengan terbata-bata.


Tiba-tiba percakapan mereka menjadi hening sejenak.


Dan..


Bummm!!!


"Akhirnya! Penantian gua selama ini terbayarkan. Jessie panggil gua sayang woi! Dengerin semuanya, hari ini Jessie panggil gua sayang. Yeeee... Yuhuuuu."


Komo berteriak sambil berdiri di Bangku Kantin. Ia menyorakkan kegembiraannya dengan mengumumkan kata sayang yang diucapkan Jessie ke teman-teman di Kantin.


"Aduh, Komo. Jangan malu-maluin gua dong, mati gua kalo di jugde anak-anak. Sini lu, turun ga!?" Pinta Jessie sembari menutupi wajahnya dengan tangan kanan dan tangan kirinya menarik lengan baju Komo


Kali ini Komo bercanda diluar dugaan, sampai berteriak-teriak di Kantin.


.


Sementara anak-anak di Kantin menyoraki mereka berdua dengan serunya.


"Cieeee.. Cieee."


Karena malu yang tak terhankan Jessie langsung melepas genggaman baju Komo lalu berlari keluar kantin sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Waduh, Eneng. Neng Jessie, jangan kabur dulu. Mienya belum bayar! " Teriak Bibi pemilik kantin.


Jelas saja bibi kantin itu meneriaki Jessie karena belum membayar makananya.


"Tenang aja Buk, Jessie biar aku yang bayar. Berapa totalnya?" Tanya seorang laki-laki yang mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


"Beneran Mas? Totalnya tiga puluh ribu Mas. "


"Bener dong Bu, nih kembaliannya ambil aja. "


Memberikan uang lima puluh ribu.


"Makasih ya Mas, jadi ngga enak ni Bibi. "


"Gapapa, anggap aja bonus Bi."


★★★


Sementara, keadaan di Kelas.


Huft.. huft.. huft (Suara nafas yang kelelahan sehabis berlari)


"Air, Shin. I need water!" Menepuk-nepuk meja Shindy.


"Eh.. Eh.. Bentar gua ambilin."


"Nih," Memberikan botol air.


Gluk, gluk, gluk (Jessie menengguknya tanpa jeda)


"Makasih. Nih, gua balikin. " Mengembalikan botol minum Shindy yang tinggal sedikit.


"Iuhh, bekas air liur lu ni nempel. mana bisa gua minum lagi. Emang jorok lu tuh. " Shindy adalah tipe orang penggila kebersihan, makanya ia protes pada Jessie yang meneguk langsung botolnya dengan bibir.


"Yaelah air vitamin ni. Coba aja lu minum pasti langsung deh segar bugar tubuh lu! "


"Sinting lu ya!?. Air liur lu kata vitamin. "


"Emang, gua emang sinting. " Pangkas Jessie yang malas berdebat dengan sahabatnya itu.


"Serah dah yang waras diem aja. Btw, lu kenapa sampe ngos-ngosan gitu. Ketauan Guru BP ngerokok ya lu!? Ngaku dah ma gua! "


"An*jirr, gua ga ngrokok men, awas lu nyebar berita hoax tentang gua. Gua cekik leher lu biar jadi sembelihan kurban."


"Wahhh, ngeri gua. Jangan dong, ni leher belum lunas gua nyicilnya," sambil mengelus-elus lehernya.


"Lu kira leher lu pinjaman motor apa pake nyicil-nyicil segala!?" Jessie menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maksudnya nyicil buat amal kebaikan gua, negative thingking aja lu, Jess. Hahaha." Tertawa terbahak-bahak.


"Ahh, udalah. Gua ceritain yang tadi, Shin. Dengerin baek-baek nih! " Jessie menceritakan kembali apa yang terjadi selama dia di Kantin tadi. Mulai dari kedatangan Komo, panggilan sayang untuknya, sampai huru-hara yang dibuat Komo.


Tampak juga Shindy yang menyimak cerita Jessie dengan saksama.


"Wahhh, parah banget si Komo sampe ngumumin itu ke semua orang di Kantin. Gila dia gentlemen banget. Salut gua Jess" Shindy bertepuk tangan salut.


"Kok lu malah belain Komo bukan gua. Gua di sini yang nanggung malu sampe ga berani lagi makan di Kan-kan-tin, Aaaaaaaa!" Jessie berteriak.


"Astaga kaget gua, lu kenapa? kesurupan? " Tanya Shindy.


Karena tiba-tiba Jessie berteriak dengan keras membuat Shindy kaget dan sedikit panik. Shindy mengira Jessie kerasukan hantu jeruk purut.


"Gua.. gua.. "


"Kenapa, kenapa. Ada apa? "


"Gua.."


"Astaga naga, cepetan bilang bambang! "


"Gua lupa bayar mie di Kantin"


Seketika Shindy langsung beranjak dari kursi, dia berjalan keluar tanpa mengatakan sepatah kata apapun


"Hiks.. kemana? kok gua ditinggal. "


"Ke KM! "


"Ngapain?"

__ADS_1


"Mau muntah!!!"


"Ada-ada aja kelakuan lu, hahaha" Tawa Jessie.


__ADS_2