Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 14


__ADS_3

"Masih ga dibales juga DM gua" Jessie mengecek pesannya tadi bersama Bimo.


"Serius amat liat hp, nih dah gua ambilin kukisnya" Menyodorkan sekeranjang kukis.


"Wow... cantik banget, ini dibuat matahari, yang ini bulan, terus-terus yang ini bintang" Jessie nampak kegirangan melihat-lihat bentuk kukisnya.


"Hehehe.. yang ini bentuk Jessie" Komo menunjuk sebuah kukis berbentuk bunga.


"Kok gua!?"


"Karena paling cantik"


"Bulan kan juga cantik, Mo"


"Kalo bulan terlalu jauh ga bisa gua gapai, kalo bintang datengnya ga tentu, kalo jadi matahari harus berbagi ke semua orang dong. Gua ga mau lu jadi itu, gua maunya lu jadi bunga.. indah, harum, ada di sekitar gua, dan lu juga ada perlindungan diri karena berduri. Jadi.. ga semua orang bisa nyentuh lu"


"Bullshit banget lu, hahaha"


"Orang serius malah diketawain" Komo menggerutu kesal.


"Hehehe.. jangan kesel gitu dong, gua bercanda doang, makasih ya udah nganggep gua kaya gitu dipikiran lu, Mo"


"Lu akan selalu jadi bunga gua kok, tenang aja"


"Emm.."


Jessie memang senang Komo menggapnya begitu, tapi di sisi lain hatinya merasa sedikit terbebani.


Sebenarnya untuk seseorang yang baperan seperti Jessie, hatinya cukup peka dengan perasaan laki-laki. Perhatian yang Komo tunjukkan padanya sudah cukup jadi bukti rasa sukanya pada Jessie. Namun, Jessie selalu ragu untuk mengunci Komo pada hatinya saja. Sebabnya juga jelas, karena karakter Jessie yang lemah pada perhatian laki-laki.


Selain berparas cantik bak orang Luar Negeri Jessie sendiri adalah orang yang terbuka. Dia selalu mengulurkan tangan pada segala orang yang membutuhkan bantuannya.


Banyak sekali laki-laki yang mendekatinya, apalagi di dunia maya seperti instagram, Jessie termasuk salah satu orang yang followersnya paling banyak. Menjadi selebgram tentunya akan banyak dilihat orang, bahkan ada seorang om-om yang pernah mengirim pesan pada Jessie untuk jadi sugar daddy nya. Bukankah sudah terlalu parah laki-laki yang merayunya itu.


"Makan dong, jangan cuma diliatin" Seru Komo.


Buyar sudah lamunannya. Jessie kembali lagi di alam nyatanya bersama Komo.


"Sorry, iya gua makan"


"Lu masih terima endorse di instagram, Jess?"


"Masih lah, gila kalo ga terima, sia-sia akun instagram gua yang udah berjuta-juta followers dianggurin gitu doang" Sambil mengunyah kukis.


"Iya sih, tapi lu jangan terima endorse yang macem-macem ya"

__ADS_1


"Macem-macem gimana?"


"Kaya, pakaian dalem, kond*m, atau se*x toys gitu yang kaya si Sabina"


"Uhuk.. uhuk.. "


Komo menepuk-nepuk punggung Jessie.


"Air Mo!"


"Nih" Memberikan sebotol air mineral.


"Parah lu bandingin gua sama Sabina temen lu itu"


Sabina.


Teman sekelas Komo, orangnya cantik dan pintar bergaul. Body nya sudah seperti orang dewasa, sangat sexy. Akun instagramnya berisi endorse-endorse dan visual yang vulgar untuk menunjang karakternya. Banyak yang tidak suka dengannya apalagi perempuan di SMK BINUS, rata-rata mereka akan menjauh bila ada Sabina di dekat mereka.


"Gua bukan bandingin dia sama lu, Jess. Gua cuma ngingetin lu aja, walaupun endorse kaya gitu honornya gede, tetep lu ga boleh ambil itu"


"Gua tau, Mo. Gua juga ogah kaya gitu, bagi gua duit bukan segalanya kok. Lebih penting harga diri gua dibanding obral badan kaya dia"


"Iya, gua percaya sama lu kok. Bokap lu aja konglomerat tajir, gila juga kalo lu begitu karena duit"


"Mo, gua ingetin ya sama lu! Gua ya gua, gua bukan orang yang bergantung atas nama bokap dan nyokap gua semata. Jadi jangan sandingin nama gua lagi sama usaha bokap gua"


Memang benar apa yang dibicarakan Jessie, Jessie memang menutupi kenyataan bahwa dia adalah anak dari seorang konglomerat. Bahkan, di SMK BINUS mereka lebih mengenal ketenaran Jessie karena cantik dan selebgram bukan karena anak dari pengusaha konglomerat Raymond Liaw Anggara.


Bagi Jessie, ketenaran dan status kelurganya bukanlah karena dirinya, itu adalah bawaan dari status Anggara juga karena usaha Raymond dan Renita. Ia mau naik, tanpa bantuan keluarganya, ia mau meroket atas usahanya sendiri, Jessie tidak mau mengandalkan nama Anggara atas prestasinya.


Masuk dalam bidang yang ia gemari adalah salah satu usaha Jessie. Ia masuk konstruksi juga atas keinginannya sendiri. Jika ia menuruti keinganan Raymond tentu saja ia tidak akan sekolah di SMK BINUS, mungkin ia sudah ada di luar negeri mengambil bidang management atau bisnis.


"Sorry,Mo. Gua ga bermaksud marah ke lu, gua cuma pengen ngebuktiin ke bokap gua kalo gua bisa tanpa dia"


"Iya, Jess. Gapapa lu mau nempuh kehidupan yang bagaimanapun gua tetep bakal jadi orang yang selalu support lu dan dateng tiap lu butuh bantuan gua" menggenggam kedua tangan Jessie.


"Makasih Komo" Bersandar di bahu Komo.


Beruntung banget gua ada Komo, gua ga kebayang kalo dia ga ada.


"Ehem.. gini terus ya Jess. Bahu gua siap kok lu sandarin kapan aja"


Eh.. dari tadi gua sandaran gini ya.


Jessie langsung mengangkat kepalanya kembali.

__ADS_1


"Tuh kan gini, kalo diingetin langsung diubah posisinya, tau gitu ga gua ingetin tadi"


"Mau lu gua cubit lagi, hah!?"


"Ampun-ampun, jangan ya Beb, udah merah semua ni badan lu cubitin dari tadi, huhuhu"


Dari Gerbang Timur, Shindy datang.


"Woi, kalian mau sampai kapan disitu!? Buruan masuk, udah malem nih. Jessie lu baru sakit jangan keluar cuma pake baju tipis" Teriak Jessie yang berdiri di Gerbang.


"Emak-emak mulai ngomel nih"


"Hehehe.. Ayo, Mo masuk"


"Lu duluan, gua beresin ini dulu"


"Iya deh"


Jessie dan Shindy masuk ke dalam Rumah duluan, meninggalkan Komo yang masih memebereskan keranjang kukisnya.


Komo, yang sudah tidak melihat mereka berdua, berbaring sebentar di tempatnya tadi.


Ia meraba bekas tempat Jessie berbaring dan mengobrol dengan dirinya.


*Jessie Liaw Anggara.


Kalo lu udah tau perasaan gua ke lu, kenapa lu ga coba buka sedikit aja buat gua masukin. Lima tahun gua nunggu lu, masih aja sampai sekarang cuma temen.


Arrghh.. Gua juga yang cemen ga berani ngungkapin perasaan gua ke lu*.


Komo teringat waktu pertama berkenalan dengan Jessie. Waktu itu Jessie dikucir dua rambutnya, wajahnya seperti barbie, sambil mengenakan gaun berwarna merah ia memegang sebuah buku gambar karena baru pulang dari les menggambar.


Flashback On


"Hai.. aku Komo" Komo kecil mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Emm.. hai aku Jessie. Kamu baru pindah?" Jessie kecil tampak bersemangat mendapat teman baru.


"Iya aku baru pindah sama mama aku di sebelah"


"Senang berkenalan denganmu"


"Aku juga senang berkenalan denganmu"


Flasback Off

__ADS_1


Sejak pertama melihat Jessie saat itu, Komo langsung menaruh hati padanya. Uluran tangannya yang kecil nan hangat terasa nyaman di genggaman Komo, senyumnya yang polos dan tanpa beban sangat indah dipandang, dan wajahnya yang cantik amat menenangkan hati, hingga membuat Komo tidak bisa mengalihkan pandangan sedetikpun darinya.


__ADS_2