Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 08


__ADS_3

Jessie dan Shindy memasuki Gerbang Sekolah.


Beruntung mereka tidak sampai terlambat, tentu saja ini juga berkat kecepatan Renita mengendarai mobil.


Sebenarnya masih banyak juga anak-anak yang belum datang ke Sekolah. Mereka terkadang nongkrong dulu di Bascamp untuk menghabiskan rokoknya atau sekedar menunggu bel sekolah berbunyi baru masuk ke Sekolah. Ya, itulah kehidupan anak SMK, ada sisi liarnya sedikit.


Walaupun murid laki-laki di sini ada yang perokok aktif atau preman di luar Sekolah, tetap saja jika sudah memasuki area SMK BINUS MARGA, mereka bak berganti menjadi orang lain.


Pasalnya di Sekolah juga diterapkan aturan yang melarang keras siswanya merokok, berjudi, miras, dan kegiatan lain diluar sekolah yang tidak boleh dilakukan di dalam.


Jika sampai ketahuan ada yang melanggar hal tersebut, hukumannya adalah skors 4 hari bahkan yang lebih parahnya dikeluarkan dari Sekolah.


Ada juga guru killer namanya Pak Hamadi.


Dia adalah guru BP yang bertugas mendisiplinkan siswa dan menegakkan aturan di SMK BINUS MARGA. Bukan main hukuman yang diberikan Pak Hamadi untuk orang yang melanggar aturan dan tata tertib sekolah, mulai dari push up seratus kali, lari keliling lapangan seratus lima puluh kali, mencari kerikil di lapangan sampai satu plastik, atau menyalin buku sejarah yang tebalnya dua ratus halaman.


Karena hukuman-hukumannya itu jarang ada siswa yang berani melanggar tata tertib dan aturan di Sekolah.



Gambaran luar SMK BINUS MARGA


Ketika hendak memasuki pintu masuk, Jessie bertabrakan dengan seseorang dari arah depan. Saking kerasnya benturan badan dengan orang itu Jessie sampai terjatuh di lantai.


"Aduhhh... " Teriak Jessie kesakitan.


"Siapa sih jalan ga liat-liat, minta di saplak ya ini bocah" Dengan ekpresi marah.


"Jess lu gapapa?" Shindy membantu membangunkan Jessie.


"Iya tapi sakit punggung gua" Sambil menepuk-nepuk rok dan bajunya untuk membersihkan debu lantai yang menempel.


"Sorry gua lagi buru-buru"


"Woii lu mau kabur kemana setelah nabrak gua!?"


Ternyata yang menabrak Jessie adalah seorang murid laki-laki. Sepertinya ia sedang terburu-buru untuk ke luar sekolah.


Yang lain pada buru-buru masuk, kok dia buru-buru keluar.


"Ahh.. bodoamat bukan urusan gua juga!" Ucap Jessie.


Jessie dan Shindy melanjutkan perjalanannya, baru beberapa langkah terlihat ada guru yang berlari ke arah mereka.


"Loh itu Pak Hamadi ngapain lari ke sini, kita kan ga telat Jess" Ucap Shindy.


"Ada apa pak?" Tanya Jessie ragu-ragu pada Pak Hamadi yang sudah ada di depan mereka.


"Kalian liat murid laki-laki yang tidak pakai seragam? Dia tadi lari ke arah sini sepertinya"


Jessie terlihat sedang mengingat-ingat.


Bukannya yang nabrak gua tadi ga pake seragam ya.. iya dia cuma pakai celana doang, bajunya pake kaos.


"Iya pak, Saya tadi liat. Kayanya dia lari ke luar area Sekolah pak"


"Oh begitu, yasudah terimakasih informasinya"


"Sama-sama, Pak"


Pak Hamadi melanjutkan mengejar murid laki-laki tadi ke luar Sekolah. Sementara Shindy dan Jessie menuju ke Ruang Kelasnya.

__ADS_1


★★★


Di Ruang Kelas.


Terlihat Fikri duduk dengan memandangi pintu masuk Ruang Kelas.


Jessie kok belum dateng ya.. Batin Fikri.


Selang satu menit akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


Jessie yang langsung masuk tanpa menyadari bertatapan mata dengan Fikri. Karena masih sedikit kesal dengan kejadian kemarin, ia langsung memalingkan mukanya.


Fikri menghampiri Jessie dan berdiri di depan mejanya.


"Jess.. "


Jessie hanya diam dan tidak menjawabnya.


"Jess, liat mata gua dong kalo diajak ngomong"


Jessie masih membuang muka dan tidak menggubris Fikri.


Fikri yang merasa akan terus diabaikan, mulai mengeluarkan sesuatu di sakunya.


Sebuah coklat disodorkan ke hadapan Jessie.


Ternyata Fikri sudah menyiapkan sesuatu untuk minta maaf pada Jessie.


"I'm so sorry, Jessie" Dengan raut muka sedih.


Jessie yang tadi membuang muka pada Fikri mulai memandangnya.


"Seriously!? Ini beneran buat aku?"



Coklat yang diberikan Fikri untuk Jessie


Jessie yang melihat tulisan pada coklatnya merasa tersentuh.


"Jadi sekarang dimaafin kan?" Tanya Fikri manja pada Jessie.


"Hmm.. Iya deh"


"Iya apa nih?"


"Iya gua maafin lu"


Fikri menunjukkan jari kelingkingnya.


"Peace dulu dong mana kelingkingnya?"


Jessie merasa malu dengan kelakuan Fikri. Ia tidak menyangka Fikri bisa semanis itu.


"Ihh, kaya anak kecil deh lu Fik"


"Gapapa kali, lagian ini bukti lu dah maafin gua. Ayo mana kelingkingnya"


"Iya-iya.. peace"


Mereka saling menautkan kelingkingnya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ehem.. Ehem.. Gua jadi obat nyamuk ya disini" Shindy yang dari tadi menghiraukan mereka mulai angkat suara.


Jessie segera melepas kelingkingnya setelah mendengar suara Shindy.


"Yaudah sana balik Fik ke tempat lu, bentar lagi guru masuk"


"Iya, dimakan ya coklatnya"


"Oke, thank you Fik"


"Yoi masama"


Jessie masih tersenyum-senyum sendiri bak orang kasmaran. Shindy yang melihatnya lama-lama merasa geli sendiri.


"Sehat lu Jess?"


"Sangat amat sehat Shin" Jessie memangku wajahnya dengan kedua telapak tangan seperti orang yang memikirkan sesuatu.


Tanpa disadari guru praktek sudah datang.


Setelah mengucap salam, guru itu meminta muridnya mengeluarkan tugas miniatur.


"Silahkan tugas minggu kemarin disiapkan di atas meja, Karena waktu yang Bapak berikan lebih dari cukup untuk membuatnya jadi Bapak tidak akan menerima kekurangan apapun pada tugas kalian"


Guru itu mulai keliling pada setiap meja di kelas. Ia memeriksa setiap pekerjaan siswanya dengan sangat teliti.


Sampai pada meja Jessie.


"Rumah apa yang temboknya hilang sebelah seperti ini!?" Dengan nada khas seorang guru.


"Loh.. Bapak bercanda ya, mana ada tembok saya hilang sebelah. Tembok saya jelas-jelas ada dan bagus kok"


"Kamu mau nge-prank Bapak ya!? Liat ini, jangan main-main ya Kamu, jelas sekali temboknya tidak ada begini kamu malah bilang ada" Mengacungkan jarinya ke arah bagian tembok yang hilang.


"Kok gaada pak tembok saya. Tembok saya hilang kemana ini!?" Panik dan tidak percaya.


"Jess, lu pas jatuh tadi miniatur yang lu bawa kan ikut jatuh, mungkin lemnya lepas dan temboknya hilang disitu" Jelas Shindy mengingatkan.


Jessie mengingat lagi kejadian tadi, memang benar miniatur yang ia bawa ikut jatuh dan masuk akal juga jika temboknya terlepas saat itu.


"Bagaimana?" Tanya Gurunya


Bener tadi pasti jatuh gara-gara anak itu. Batin Jessie.


"Sialan!!!"


Tanpa sadar Jessie malah kelepasan memaki di depan guru dengan kerasnya. Sontak seluruh kelas memandangnya, tak lupa guru yang ada di depannya merasa geram dan marah.


Waduh, m*mpus gua malah keceplosan.


"Jessie!!!" Teriak sang guru.


"I-i-ya pak" Dengan gagap dan gemetar.


"Keluar dari kelas Saya, dan berdiri di lapangan sampai kelas saya berakhir!!"


"Tapi pak, kelas Bapak masih ada satu jam pelajaran" Rengek Jessie.


"Kamu keluar sekarang atau bapak tambahkan sampai jam istirahat!?"


"Ba-baik pak, saya akan keluar sekarang juga"

__ADS_1


__ADS_2