
Di Kantin.
"Bi, aku biasa. Mie ya!" Jessie.
"Iya, neng Jessie" Bibi Kantin.
"Eh.. jangan buk! Jessie buatin soto ayam aja" Shindy.
"Apaan sih, Shin. Biasa gua makan mie disini"
"Lu makan nasi, Jess! Gejala magh jangan banyak makan mie"
"Tapi kan ga sering juga gua makan mie"
"Udah nurut aja kenapa sih, ngeyel mulu kalo dibilangin!"
"Iya-iya gua nurut, dasar mak bawel!"
"Jadi soto neng?" Tanya ulang Bibi Kantin.
"Iya bi, Soto satu mie satu jadinya"
"Oke, neng bentar ya ditunggu"
"Lah ko pesen mie, Shin?"
"Iya itu buat gua, lu yang sotonya"
"Alahhh... Dunia ga adil untukku, hiks.. "
"Lebay! Sok tersakiti aja lu"
"Biarin!"
"Btw, bahas sekarang aja yang tadi, mumpung sepi juga disini"
"Engga bahas di rumah aja, Shin?"
"Engga, sini aja. Gua penasaran sama apa yang terjadi tadi"
"Gua juga bingung sama apa yang terjadi, kejadian-kejadiannya kaya udah ada yang ngerencanain"
"Tapi siapa yang ngerencanain ini semua, tujuannya apa dan kenapa itu lu yang kena?"
"Gatau ah pusing!!! Makan dulu aja!"
"Hm.. oke"
Shindy dan Jessie melahap habis makanan mereka. Sepertinya Jessie sangat kelaparan, bahkan satu porsi soto ukuran besar masih kurang baginya.
Ting!
New Message
☏︎ Bimo : Save ya, Jess. Bimo Ganindra.
"Uhuk... "
Jessie yang sedang makan soto porsi keduanya mendadak tersedak.
"Pelan-pelan, Jess. Minum nih!"
"Gila! Sekarang punya kontaknya gua, hahaha"
"Siapa?"
"Perawat ganteng"
"Cih.. bagi gua sini!"
"Ogah.. weellkkk!".
Gua kerjain ah.. Batin Shindy.
"Jess, ambilin sedotan lagi dong, jatuh sedotan gua"
"Ambil sendiri sana, mager gua"
__ADS_1
"Yaelah bantu aja ga mau" Shindy pura-pura marah.
"Iya-iya hm.. gitu aja langsung jadi Angry Bird!"
Jessie mengambil sedotan di dalam kantin dengan terpaksa.
Dengan secepat kilat Shindy langsung meraih handphone Jessie dan mulai mengetik pesan pada kontak Bimo yang belum bernama itu.
☏︎ Jessie : Iya sayang.. 💕
Setelah pesannya terkirim, Shindy langsung menghapusnya agar Jessie tidak mengetahui isi pesan tersebut.
"Nih tukang mager!" Menyerahkan sedotan.
"Makasih.. hehehe"
New Message
☏︎ Bimo : hehehe kok langsung sayang?
☏︎ Jessie : Sayang? Maksudnya???
☏︎ Bimo : Kamu tadi bilang, iya sayang 💕
"Ehhh!"
"Ada apa?"
Hehehe.. makan tu sayang. Batin Shindy.
"Kak Bimo ngapain ya ini, sayang-sayang gitu"
"Suka lu kali, Kak Bimo"
Hehehe... Shindy tertawa puas dalam hati melihat Jessie yang mulai baper lagi.
"Masa gitu, Shin?"
"Lah.. itu kalo ga suka apa namanya? Masa benci bilang sayang"
"Pepet terus, Jess. Jangan kasih kendor!!!"
"Hahaha.. bisa aja lu!!!"
"Nafsu makan lu setelah sakit kok malah tambah ya. Gila bener dua porsi soto besar lu abis semua"
"Setelah gua pikir-pikir bener juga. Makan gua tambah banyak aja. Kalo gendut gimana ntar"
"Yaelah.. gendut mah gapapa. Lu mau gimanapun tetep oke kok"
"Gua nya yang ga PD kalo gendut, Shin"
"Tuh kan insecure ga jelas. Pokoknya ikutin aja gimana, jangan di tahan kalo pengen makan. Ngga mungkinjuga lu gendut"
"Oke, mak!"
"Masuk kelas nanggung juga, Jess. Kurang lima belas menit udah bel pulang. Gimana kalo tunggu disini aja?"
Shindy sebenarnya adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu, mau sedetik atau dua detikpun tetap ia hargai. Tapi, sekarang ia paham bagaimana nanti suasana di kelas bila Jessie datang. Makanya, ia mengusulkan agar pulang terakhir saja setelah semua orang sudah pergi.
"Betul juga, tinggal lima belas menit dapet pelajaran apa. Mending disini makan, hehehe"
Akhirnya bisa ketawa juga.. Batin Shindy senang melihat sahabatnya bisa tertawa dan melupakan masalahnya sejenak.
"Mau nambah lagi ga?"
"Lu yang bayar tapi!"
"Iya deh.."
"Bi, aku coklat panas"
"Panas gini coklat panas!?"
"Gua pengen aja, biar lumer hati gua. Ga suntuk lagi"
"Lama-lama ga paham gua selera lu"
__ADS_1
"Bi coklat panas satu!" Suara seorang laki-laki yang baru duduk di belakang Jessie, memesan menu yang sama.
"Sama anehnya dia sama lu, ya kali kalian minum coklat panas di siang bolong begini"
Kaya pernah denger suaranya.
Jessie melihat ke belakang namun pria tersebut masih membenarkan tali sepatu, jadi Jessie tidak bisa melihat wajahnya.
"Ambil sana udah kayanya" Shindy menyuruh Jessie mengambil coklatnya.
"Iya" Jessie berjalan ke dalam Kantin untuk mengambil coklatnya.
"Dua bi?" Tanya Jessie yang melihat dua gelas coklat panas.
"Itu loh punya mas yang itu" Menunjuk seorang pemuda yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lu lagi!" Jessie terkejut dengan laki-laki yang membeli coklat panas sama dengannya.
"Cewek aneh!?"
"Gua ga aneh ya, sorry!"
"Terserah, minggir gua mau lewat"
Jessie merasa kesal dipanggil aneh oleh seorang laki-laki yang baru kenal dengannya. Padahal selama ini dia merasa dirinya cukup menarik dimata laki-laki karena banyak yang mengatakan bahwa Jessie adalah wanita yang cantik.
Ia berniat menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras tanda bahwa dia merasa marah dipanggil wanita aneh oleh laki-laki tersebut.
Namun, naas..
Rencana yang Jessie buat malah jadi gagal karena lantainya terlalu licin. Ia yang sebelumnya berniat tampil garang malah jadi tidak stabil dan akan tumbang ke lantai.
"Aaaa... !!!" Jessie memejamkan matanya refleks orang terjatuh.
Kok ga berasa sakit jatuhnya?
Jessie masih memejamkan matanya.
"Bangun woi, berat tau ga!!!"
Jessie membuka matanya, ternyata bukan jatuh ke lantai, ia malah jatuh ke pelukan laki-laki itu.
Eh..
Deg.. deg.. deg.
"Sorry-sorry.. gua ga sengaja"
Jessie melihat coklat panasnya mengenai baju laki-laki itu. Dengan sigap Jessie mengelap bagian yang masih basah dengan sapu tangannya. Namun, tampaknya laki-laki itu tidak peduli pada bajunya yang ketumpahan coklat, bahkan ia tidak merasa panas sekalipun.
"Udah jangan ke bawah-bawah!" Laki-laki itu menahan sapuan Jessie yang tanpa sadar menjadi ke bawah bajunya bagian pinggang.
Jessie pun tersadar dengan tindakannya yang dihentikan oleh laki-laki itu. Jika masih diteruskan entah siapa yang akan sangat malu nanti. Si perempuan atau si laki-laki, atau bahkan keduanya.
"Bajunya gua cuciin ya, jadi kotor gini gua ga enak"
"Terus gua mesti pulang ga pake baju gitu!?"
"Umm.. lu pake hoodie gua aja. Punya gua hitam warnanya ga cewek-cewek banget"
"Lu bawa?"
"Iya, tuh di bangku depan"
"Oke"
Jessie menuju bangkunya tadi dan mengambil Hoodie hitamnya. Jessie memang kemana-mana selalu membawa hoodie itu.
"Pakai nih!"
Laki-laki itu membuka bajunya hendak berganti dengan hoodie milik Jessie. Terlihat badannya yang atletis dan sobek-sobek bak atlet. Tidak terlalu gemuk ataupun kurus. Pas.
Glug..
Jessie menelan air liurnya.
"Udah ganti gua"
__ADS_1