
Drrrttt..
Drrrttt..
Terdengar getar panggilan dari hp Jessie.
Siapa sih yang nelpon gua.
Ketika Jessie hendak mengangkatnya, terlihat nama penelponnya adalah Fikri.
Huh, pokoknya ga bakalan gua maafin dia.
Saat ini Jessie sangat tidak ingin menerima telepon dari Fikri, padahal hampir saja dia melupakan kejadian tadi, tapi teringat lagi karena Fikri menelponnya.
"Bisa-bisanya seorang Jessie diabaikan cowok. Mana tadi keculek segala mata gua, bikin malu aja ihh.. "
Rebahan dulu lah gua biar cepet lupa kejadian tadi.
18.30 WIB
Jessie tertidur pulas. Sampai hari mau berganti malam ia belum bangun
"Jess.. "
Tok, tok, tok..
Suara ketukan pintu.
"Jessie.. Sayang, Ini mama"
"Huwaahhh.." Menguap keras
"Mandi Jess abis itu makan. Udah mau malem ni"
"Iya mah.. bentar"
Jessie merasa susah membuka matanya, mungkin separuh jiwanya masih ingin tidur dan separuh memberontak bangun karena sudah menjelang malam hari.
Jam berapa sih ini.. ah masih ngantuk banget lagi.
"Hah,, Buset, 202 panggilan tak terjawab!"
"Kenapa Jess?"
Renita menjadi sedikit khawatir pada anaknya yang tiba-tiba berteriak. Ia segera ke bawah mengambil kunci cadangan kamar Jessie.
Sementara itu Jessie sedang memastikan siapa yang menelponnya sampai sebanyak itu. Ia melihat riwayat panggilan whatsapp nya, dan ternyata panggilan itu berasal dari Fikri.
Yaampun Fikri kok sampai segitu banget ngehubungin gua, gua jadi gaenak kalo gini.
"Gua telpon balik ga ya?"
"Siapa yang mau kamu telpon balik Jess?"
Jessie kaget tiba-tiba mamanya masuk ke dalam kamar. Ia tidak tahu kalau Renita punya kunci cadangan untuk setiap ruang kamar di rumah.
"Itu ma, si Shindy nelpon aku tadi. Tapi aku kan tidur jadi ga kejawab. Aku takut kalo ada hal penting jadi mau ku telpon balik"
"Kirain mama ada apa tadi kamu bangun-bangun langsung teriak gitu. Mama kan jadi khawatir"
"Ga ada apa-apa kok ma, tadi cuma kaget ada panggilan lumayan banyak dari Shindy. Maaf ya bikin mama khawatir"
__ADS_1
"Yaudah telpon sekarang Shindy. Siapa tau emang hal penting"
"Nanti aja lah ma"
"Sekarang Jessie!"
****** gua, kenapa tiap ngibulin orang yang kena malah gua sendiri sih.
Jessie mencari kontak Shindy di list kontak WA nya. Setelah berhasil menemukan kontaknya tak lupa Jessie memberi kabar dulu lewat Chat.
Jessie : Ntar kalo gua telpon lu ikutin alur ya!
Drrrttt..
Drrrttt..
Telpon siapa sih, ga liat waktu banget.
Batin Shindy
"Hm, ternyata si Jessie"
"Hallo Shin"
"Hallo Jess, ade ape sih lu gajelas banget telpon malem-malem gini"
"Ah ini Shin, lu tadi nelpon gua sampe banyak banget ada apa ya, apa ada hal genting?"
"Gua nelpon lu banyak, emang kapan gua sempet nelpon lu. Wahhh jangan-jangan lu lagi halu ya"
"Oh gitu Shin, iya nanti aku ke Rumah kamu. Nanti jam 8 aku otw ke sana ya.. bye"
"Main tutup-tutup aja nih bocah"
Sementara itu, Jessie merasa lega mamanya tidak ikut bicara saat ia menelpon tadi.
"Gimana Jess, Shindy bicara apa?"
"Ini ma, ada tugas sekolah. Shindy ngingetin aku biar ga lupa ngerjain, jadi nanti aku mau ke Rumah Shindy jam 8"
"Oh oke. Yaudah mandi gih"
"Iya ma"
Di kamar mandi Jessie teringat panggilan Fikri tadi.
Fikri berusaha banget sampai ngehubungin gua berkali-kali. Apa dia merasa bersalah sama gua, makanya dia telpon mau ngejelasin yang tadi. Dia perhatian juga kalo gitu.
Jessie mandi sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia tersenyum membayangkan usaha Fikri menelponnya.
"Kalo dia gini, fiks gua ga ada alesan buat ga maafin dia hehehe"
15 menit sudah berlalu, Jessie pun sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia turun ke bawah untuk makan malam bersama mamanya.
Renita sibuk menata makanan di meja.
"Wuihh enak banget nih"
Secepat kilat tangan Jessie mengambil makanan hendak ditaruh di piring, namun belum sempat di tuang di piring tangannya di pukul oleh Renita.
"Aww, sakit ma"
__ADS_1
"Tunggu papa mu pulang baru ambil!"
"Kalo gitu kita ga akan makan kalo nunggu papa pulang. Papa emang pernah pulang hah?"
"Jessie!"
Renita memelototi Jessie dengan ekspresi garang.
Jika Renita sudah seperti itu, Jessie tidak berani menatap mata mamanya, ia langsung menunduk diam tanpa bicara sepatah katapun.
Tring ring ring...
Tring ring ring...
Suara panggilan telepon.
"Halo yang. Kita udah nungguin kamu buat makan malem nih.. Ada ikan asam manis kesukaan kamu juga, Aku sama Jessie loh yang buatin"
"Iya halo sayang, maaf ya hari ini juga belum bisa pulang. Kamu makan duluan aja sama Jessie, aku masih harus ketemu klien di Bandung. Aku minta maaf banget nanti pulang aku bawain oleh-oleh deh buat kalian, oke?"
"Hahaha.. gapapa, fokus aja sama pekerjaan kamu. Aku tutup ya"
"Ren, I love you" Dengan suara lirih dan pelan.
"........."
Renita menutup telponnya. Dia tidak berani menjawab ucapan terakhir Raymond. Baginya ucapan cinta Raymond terdengar seperti perasaan bersalah dan pasrah. Dia tidak ingin menjawab ucapan yang tidak tulus untuknya.
Raymond Liaw Anggara.
Seorang konglomerat tajir bak sultan Arab. Dia adalah suami Renita dan ayah dari Jessie Liaw Anggara. Sudah turun temurun keluarga Anggara selalu menghasilkan bibit yang unggul, salah satunya adalah Raymond. Pemilik sah Perusahaan Germandi AG yang merambah ke segala lini kehidupan masyarakat. Mulai dari Fashion, Pangan, Konstruksi, dan teknologi, semuanya dijajah oleh Germandi AG.
Karena besarnya bisnis perusahaan Germandi AG, membuat sang Direktur yaitu Raymond super sibuk sampai-sampai waktu untuk berkumpul bersama keluarga hampir tidak ada. Bahkan, waktu kepulangannya ke Rumah dapat dihitung dengan jari selama sebulan. Dalam sebulan Raymond paling banyak pulang hanya sampai empat kali.
Keadaan tersebutlah yang membuat Renita tergerus kepercayaannya dengan Raymond. Bahkan, dulu pernah ada orang yang memberitakan Raymond bercerai dengan Renita di TV, sontak hal tersebut membuat Renita geram sekali.
Namun kejadian itu sudah lama berlalu, sekarang bagi Renita, Jessie lah yang paling utama di pikirannya. Namun, bukan berarti dia menghiraukan suaminya itu. Dia tidak mau Jessie melupakan papanya bahkan sampai membencinya, Dia tetap harus mengajarkan Jessie menghormati Raymond. Makanya, ia memarahi Jessie yang mendahului makan ketika belum pasti Raymond akan pulang atau tidak.
"Mau ayamnya?"
"Iya ma, papa gimana?"
"Belum bisa pulang, harus bertemu klien di Bandung hari ini juga"
"Klien apaan jam segini, cewek?"
"......"
Deg
Renita menjadi kepikiran dengan ucapan spontan anaknya itu. Dia jadi khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Maa!!!"
"Ah.. iya"
"Kok malah bengong sih"
"Udah ga usah dipikir, kamu lanjut makan aja"
"hm"
__ADS_1