Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 13


__ADS_3

"Follow back dulu" Jessie.


Jadi namanya Bimo.


Ting..


New Message!


☏︎ Hai!


"Eh, eh, eh!!! Gua di DM Kak Bimo, Oh my good, demi apa dia bilang hai ke gua"


Jessie tersenyum sumringah sambil meloncat-loncat bak orang kegirangan mendapat hadiah.


Omg, omg, omg. Gu ga bisa, gua seneng banget ini.


"Gila lu?" Tanya Shindy.


"Shindy!!! Lu harus liat ini Shin!" Dengan segera melihatkan hp nya pada Shindy.


"Apaan sih?"


"Liat ini loh... pesannya!" Menunjuk-nunjuk pesan dari Bimo.


"Terus kenapa pesannya? Cuma hai gitu doang lu ampe seneng gitu" Shindy keheranan.


"Lu ga tau yang nge-DM gua ini siapa?"


"Siapa?"


"Bimo!!! Dia perawat laki-laki yang di UKS tadi!!!"


"What!? Masa sih, coba gua liat" Menyerobot hp Jessie.


"Ih.. Beneran dia ternyata. Hehehe, ntar gua follow deh"


Jessie mengambil hp nya kembali.


"Pake baju dulu sonoh baru ngomongin follow!"


"Hahaha.. sampe lupa masih handukan"


"Bales dulu ahhh..."


☏︎ Hi too, kak!


Kalo gini kesannya kaya sok kenal banget gua, hapus aja deh.


Jessie mengahapus pesannya dan mengganti yang baru.


☏︎ Siapa ya?


. . .


Ting!


☏︎ Bimo : Baru tadi masa udah lupa?


☏︎ Jessie : Sorry, aku beneran ga tau 👉👈


☏︎ Bimo : Aku yang tadi di UKS, anak otomotif kelas tiga :(


☏︎ Jessie : Hoho.. ini kakak perawat ya?


☏︎ Bimo : Iya


☏︎ Jessie : Maaf ya kak, aku pangling banget soalnya hehe.


...


Kok ga dibales lagi ya..


"Mungkin sibuk, atau ada urusan, atau.. arghhh ga tau gua" Mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa lagi?" Shindy.


"Dm gua cuma dibaca, Shin.. huhuhu"


"Sibuk kali dia, santai aja jangan dipikirin"


"Iya, gua juga udah mencoba santai nih"


"Bagus kalo gitu"


"Hm.."


Tik Tok


Tik Tok


Tik Tok


Jarum jam terus berputar.


Jessie masih memandang handphonenya.


Hah.. sibuk apa lama banget gini. Duduk di sofa.


Tik Tok


Tik Tok


Tik Tok


Masih ga dibales. Pindah bersandar di dekat jendela.

__ADS_1


Tik Tok


Tik Tok


Tik Tok


Kakak lu dimana sebenernya. Berbaring di kasur.


Tik Tok


Tik Tok


Tik . . .


"STOPPP!!!!"


"Jangan mondar-mandir terus di depan gua ya, pusing liatnya tau gak!?"


Shindy merasa terganggu melihat Jessie yang mondar-mandir tidak jelas sambil memandangi handphonenya.


"Ga dibales, Shin.. "


"Terus mesti gimana? Gua harus kesana nge-cek dia lagi apa gitu?"


"Iya kalo bis . . ."


Puk


Sebuah boneka melayang menganai wajah Jessie.


"Mau bicara apa lu!? Lanjutin, biar gua denger" Ucap Shindy kesal.


"Jahat banget lu deh, orang baru sakit ditimpuk boneka" Wajah cemberut.


"Makanya kalo baru sakit lu harus istirahat, jangan malah mondar-mandir ga jelas kaya begitu"


"Hm, iya-iya" Jessie keluar kamar, ia menuju taman yang ada di samping rumahnya.


"Yeee.. Dibilangin malah pergi" Shindy memilih tetap di Kamar bermain dengan handphonenya.


★★★


Di Taman, 17.45 WIB.


Jessie mendaratkan tubuhnya di tanah berlapis rumput hijau yang dari atas tampak seperti sebuah selimut tebal.


Di sekelilingnya ditanami bunga lili, matahari, dan tulip. Ada juga jalan setapak kecil yang menuju sebuah ayunan berwarna putih.


Jessie memandangi langit yang masih terdapat semburat kemerahan sang surya.


Sudah berapa lama sejak saat itu..


Jessie mulai membayangkan kejadian saat dirinya masih berusia enam tahun.


Keluarganya masih keluarga Anggara yang hangat dan perhatian. Mereka masih bisa menemani Jessie bermain sepeda, masih bisa membacakannya dongeng, dan menemaninya jalan-jalan.


Sekarang papanya terasa bukan miliknya lagi, papanya sepenuhnya milik perusahaan karena yang dipikirkan selalu saja perusahaan dan uang.


Huft...


Jessie menaruh sebelah lengannya di atas kedua matanya.


"Lama-lama ngeselin juga liat langitnya"


Jessie sedikit merasa sesak dadanya, bukan karena penyakit tapi sesak karena menahan air mata.


"I hate you, hiks"


Gua pengen jadi kecil aja, gua ga pengen cepet-cepet dewasa kaya gini.


Tangannya menggenggam kuat-kuat rumput di sebelahnya.


Dari gerbang timur ada Komo yang berjalan menuju ke arah Jessie.


Komo berjalan mendekat dengan hati-hati.


Ia melihat tangan kanan Jessie yang mencengkram kuat rumput di sampingnya.


Hm.. masih sakit masih aja keluar ga istirahat di dalem aja.


Komo membaringkan tubuhnya di samping Jessie dengan arah berbalikan. Kaki mereka menjauh, hanya kepala mereka yang dekat. Jessie berbaring menghadap ke arah barat dan Komo berbaring menghadap ke arah timur.


Kini mereka berdua berbaring telentang bersama di bawah naungan langit yang sudah menghitam.


Komo melihat ke samping dan meraih tangan Jessie yang mencengkram rumput. Ia meraih itu dan mencium lembut punggung tangan Jessie.


"Jangan di tahan sendirian kan ada aku" Kata Komo.


Jessie kaget tangannya dicium orang, ia beranjak bangun untuk melihat siapa orang itu.


"Huft.. Kebiasaan lu ngagetin gua"


Puk.. puk..


Suara Komo menepuk-nepuk tanah tempat Jessie berbaring tadi.


"Sini, baringan lagi"


"Ga ahh.. udah ada lu, gua mau ke dalem aja"


Komo menahan paksa Jessie, ia memegang pundak Jessie dan mendorongnya ke tanah.


Tak berdaya dengan tenaga Komo, akhirnya Jessie berbaring lagi di tempatnya.


"Dasar tukang maksa"

__ADS_1


"Cerita lah sama gua, Jess"


"Apaaan?"


"Ga usah sok bodoh gitu, lu kan punya gua, jangan apa-apa lu pendem sendiri dong"


"Kenapa lu cium kening gua di lapangan!?"


Jessie spontan menanyakan itu.


Eh.. kok gua malah tanya itu.


Deg, deg, deg..


Jessie gugup sendiri menunggu jawaban dari Komo.


"Karena... "


Karena apa?


Deg, deg, deg..


"Karena gua... "


Iya lu kenapa?


"Gua pengen prank lu aja, pengen liat reaksi lu pas dicium aja sih, hahaha. Lu kira kenapa emang?"


"Ih.. lu ngerjain gua ya!? Suka banget bikin gua darah tinggi, hiks" Jessie kesal sendiri dengan jawaban yang terlontar dari mulut Komo.


"Aw, aw, aw" Teriak Komo kesakitan dicubit Jessie.


"Stop, Jess, huhuhu"


"Ga mau!"


Tak berhenti Jessie mencubit Komo, Komo yang sudah kesakitan balik menyerang Jeesie.


"Hahaha, jangan gelitikin gua, Mo" Tawa Jessie geli.


"Ga mau! welk"


"Ihh.. hahaha ampun Mo, udah dong hahaha"


"Bilang dulu Komo ganteng, ntar gua lepasin"


"Ogahhhh, hahaha"


"Hehe.. lanjut terus kalo ga mau bilang


"Iya-iya hahaha.. Komo ganteng"


"Lagi!"


"Komo ganteng banget, hahahaha"


"Hehehe.."


"Puas lo, hahaha"


"Nah gitu dong, ketawa. Jangan sedih"


"Hah.. hah... makasih ya" Jessie lelah sendiri karena tertawa terus.


"Udah cengeng.. baperan lagi, kok gua bisa ya suka sama lu" Gumam Komo.


"Hah!? Ngomong apaan barusan lu, gua ga denger"


"Lu ga laper?" Komo mengalihkan pembicaraan.


"Sedikit, padahal tadi udah makan banyak"


"Ayo makan, nyokap gua bawain kukis loh buat lu"


"Beneran!? Yaampun baik banget Tante Yasmin"


Yasmin.


Ibu Komo, orangnya baik, ramah, dan hangat sama seperti anaknya. Dia punya dua anak laki-laki, yang satunya sudah kuliah di Luar Negeri. Dia adalah kakaknya Komo, dan Komo sendiri adalah anak kedua dari Yasmin.


"Handmade nih, Mo?"


"Iya, ini buatan Nyokap gua sendiri"


Yasmin termasuk teman dekat Renita, makanya walaupun Renita melarang laki-laki masuk ke dalam rumah, itu tidak berlaku bagi Komo. Komo bahkan bisa keluar masuk kamar Jessie semaunya, tentu saja jika Jessie mengijinkannya masuk.


"Gua pengen deh belajar buat kue sama nyokap lu, Mo"


"Yah.. dateng aja ke Rumah gua, Jess"


"Tapi nyokap lu kan sibuk juga sama kaya nyokap gua, bisnis restoran nyokap lu kan super padet pengunjung"


"Yah gimana ya, gimana kalo sabtu gua ajak lu ke Restoran?"


"Jangan sabtu, sabtu kan gua jalan bareng sama Shindy"


"Kapan dong? Minggu?"


"Mmm.. liat ntar aja ya. Gua kabarin lu kalo bisa"


"Oke Jess, tapi jangan mepet kabarinnya"


"Iya-iya, Mo"


Komo kembali ke dalam Rumah untuk mengambil kukis. Sementara Jessie masih berbaring di taman.

__ADS_1


__ADS_2