Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 19


__ADS_3

"Shin, gua beneran ga ngelakuin itu" Jessie terlihat bingung dan panik.


"Iya lu tenang aja, Jess. Gua percaya lu ga bakal sampai kaya gitu kok" Shindy berusaha menenangkan Jessie.


"Yaelah guys... Gua ga nyangka ya si Jessie kaya gitu. Demi apaan coba!? Duit!?" Lia mengompori.


"Nenek sihir, lu diem aja ya! Ga usah ikut campur kalau ga tau permasalahannya!!!" Ancam Shindy membentak keras.


"Ga tau permasalahannya gimana!? Orang jelas-jelas Jessie nyebarin data festival. Bukti juga udah ada semua orang juga udah tau, kurang apa lagi!?"


Shindy geram dengan perkataan lia sampai ia menggebrak meja.


Brak!


"Bisa aja itu orang lain! Masalahnya juga belum jelas, lu jangan langsung nge-judge Jessie yang engga-engga!!!"


"Shin.. udah dong" Jessie.


"Ga bisa, Jess! Orang kaya dia itu mulutnya harus dijahit biar ga ngomong sembarangan lagi!"


"Gua ga ngomong sembarangan! Gua ngomong sesuai bukti yang ada!"


Suasana menjadi tambah panas dengan adanya perdebatan Lia dan Shindy. Mereka berdua saling menghujat tanpa sadar jadi bahan tontonan.


Melihat murid lain tidak ada yang berusaha melerai membuat Fikri nampak geram juga.


Akhirnya Fikri mulai buka suara.


"Berhenti kalian berdua!!! Lia.. lu mending diem dulu, jangan memperkeruh suasana. Shindy lu juga diem jangan teriak-teriak!" Lerai Fikri di tengah perdebatan Lia dan Shindy.


"Dia yang mulai duluan, Fik!" Shindy.


"Gua ga mulai kalo ga ada penyebar masalah!" Lia.


"Tuh kan! Minta disumpel kaos kaki mulut lemes lu itu!"


"Hmph.. "


"Cukup! Gua bilang berhenti!!!" Teriak Fikri geram pada Lia dan Shindy karena tidak mau ada yang mengalah.


Disekeliling tampak murid laki-laki menikmati suasana panas antara Lia dan Shindy. Mereka malah berkerumun sambil bersorak-sorak seperti orang adu ayam. Bahkan ada murid kelas sebelah yang ikut menonton.


Suasana yang terasa sudah diluar kendali memaksa sang ketua kelas harus ikut bertindak turun tangan langsung.


"Temen-temen tolong duduk di tempat kalian masing-masing, jangan semuanya bergerombol di sini. Dan tolong jangan jadikan suasana tambah panas! Mohon maaf untuk murid yang bukan kelas Konstruksi A silakan keluar" Ucap Ketua Kelas. Ia menggiring teman-temannya untuk duduk.


"Huuu.. ga asik lu!"


"Iya.. Ketua apaan lu!"


Teriak orang-orang di Kelas.


"Malah masih disitu. Ayo, ikut bapak ke Kantor sekarang juga!!" Panggil Pak Hery pada Jessie yang masih di dalam Ruang Kelas.


"Gapapa, Jess. Gua temenin oke"


Jessie mengangguk pasrah.


Di Kantor Kepala Sekolah.

__ADS_1


Jessie duduk di depan meja Kepala Sekolah. Sementara Shindy menunggu di luar karena tidak diperbolehkan masuk.


"Jadi begini pak.. "


Pak Hery menjelaskan dengan runtut kejadian Jessie sampai selesai.


"Apa ada buktinya, Pak Hery?" Tanya Kepala Sekolah.


"Ini dia buktinya, Pak" Menyerahkan map fotocopy an Festival Seni.


"Ini ditemukan di tasnya Jessie, Pak"


Kepala Sekolah memeriksa data itu agar tidak menjadi kesalahan apabila ternyata data itu bukan yang dimaksud.


"Lalu ini ada pesan-pesan yang menjelaskan secara rinci peraturan festival dan bagaimana menghasilkan poin bagus nantinya. Pesan ini sudah menyebar ke kelas-kelas di SMK BINUS" Menunjukkan bukti chat di handphone.


"Oke, Nak Jessie. Kamu tau sendiri bahwasannya Dokumen-dokumen seperti ini tidak boleh dilipat gandakan tanpa seijin guru pengampu, apalagi ini masih rahasia. Bayangkan ini untuk Festival Seni Pekan Raya satu Provinsi. Kalo bocor dan menyebar seperti ini, sekolah kita yang menjadi tuan rumah pasti akan dipertanyakan kredibilitasnya"


"Maaf pak, Saya benar-benar tidak menyebarkan data itu. Saya saja tidak membawa handphone seharian ini, boleh diperiksa di handphone saya saja. Pasti bukan saya yang menyebarkannya lewat grub kelas!"


"Tidak bisa dibuktikan hanya dengan handphone. Bisa saja kamu menggunakan nomor orang lain, bisa saja kamu sudah menghapus pesannya. Semua kemungkinan bisa terjadi saat ini, Sekarang pun bukti hanya mengarah pada kamu, jadi bicara jujur saja" Bantah Pak Hery.


Ini guru mojokin gua mulu perasaan.


Jessie benar-benar dalam keadaan bingung, dia ingin membela diri tapi tidak punya buktinya.


"Pak, saya berani sumpah demi nama Tuhan. Saya tidak melakukan semua hal yang dituduhkan ke saya sekarang"


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam kesalahan yang kamu perbuat!" Pak Hery.


Gedeg banget gua ihh.. mesti gimana lagi sekarang.


"Pak.. Saya beneran loh gak ngelakuin hal itu. Saya seharian ini terkunci di Kamar Mandi, bagaimana bisa saya yang masih terkunci membantu bapak menyusun data di Kantor!?"


"Mana saya tahu!"


"Kamu ini lama-lama kok nyolot!"


"Sudah Pak Hery, kita disini untuk diskusi penyelesaian masalah bukan untuk adu mulut. Bapak jangan terlalu terbawa emosi. Dan Jessie, lebih baik jangan mencoba mengarang cerita sebagai pembelaan bila tidak ada bukti yang otentik"


Kok malah gua yang dituduh ngarang cerita!


"Maaf pak. Silakan langsung putuskan saja bagaimana penyelesaian akhirnya"


"Ehem.. Jessie silakan undang kedua orang tua kamu kesini Senin depan. Dan hukuman untuk Kamu bapak skors tiga hari mengingat prestasi kamu di kelas dan konstribusi kamu selama ini"


"Ga bisa pak, saya ga terima dong! Kesalahan bukan saya yang ngelakuin malah yang di skors saya!"


"Keputusan ini sudah yang terbaik dan paling ringan, silakan ambil undangan orang tua dan kamu bisa kembali ke kelas"


"Pak, jangan skors pak, saya mohon" Rengek Jessie.


"Silakan keluar"


"Pak!"


"Sudah sana keluar!" Teriak Pak Hery.


Jessie meninggalkan Ruang Kepala Sekolah dengan tertunduk lemas dan pasrah.

__ADS_1


"Gimana?" Tanya Shindy.


"Hiks.. hiks.." Jessie menangis sesenggukan.


"Duduk dulu sini"


"Gua.. di skors. Hiks.. hiks.. "


"Beneran!? Gila banget tu kepala sekolah, biar gua samperin, Jess. Gua mau protes!!!"


Jessie menahan Shindy agar tidak protes pada kepala sekolah.


"Jangan.. hiks.. hiks.. " Menggelengkan kepalanya.


"Biarin gua pergi, keterlaluan banget tu kepsek. Mata dia buta apa, ngehukum siswa yang ga salah!"


"Sebenernya bukan itu yang bikin gua khawatir"


"Terus apa dong?"


"Gua kepikiran soalnya kepsek minta orangtua gua dateng ke sekolah. Lu tau sendiri bokap gua gimana kan"


"Suruh nyokap lu aja yang dateng. Bokap lu ga usah dikasih tau"


"Kepsek minta kedua orang tua gua yang dateng"


"Tapi bukannya bagus kalo bokap lu dateng, Jess?"


Jessie tidak segera menjawab pertanyaan Shindy.


"Gatau.. " Jessie menjawab dengan lirih.


"Nih hapus dulu air mata lu! Jelek kalo nangis" Memberikan sapu tangan.


"Hmm.. hiks. Thanks, Shin"


"Iya, Jess. Lu harus kuat jangan nangis, oke!? Masa seorang Jessie Liaw Anggara mewek cuma gara-gara tuduhan palsu"


"Aaaa.. Shindy!!!" Jessie memeluk Shindy dengan perasaan bahagia karena bisa memiliki seorang sahabat sebaik dia.


Kruyuuukkkk..


"Hahahaha.. nangis sih boleh, tapi inget perut juga dong" Tawa Shindy.


"Hehehe.. tadi belum sempet makan gua"


"Apa!? Lu belum makan dari tadi!!!"


"Lah kan udah dibilangin gua kekunci di Toilet"


"Yaudah ga usah balik ke Kelas, kita gas ke Kantin!"


"Tapi.. "


"Ih.. udah ga usah tapi-tapian. Lu habis sakit kemarin malah sekarang telat makan lagi. Ntar, kalau gua dimarahin nyokap lu gimana gara-gara ga bisa jagain lu!?"


"Mulai deh mode emak-emaknya turn on"


"Gua kan emang mak kedua lu!"

__ADS_1


"Yaudah deh, yuk"


"Yuk"


__ADS_2