
Pukul 15.00 WIB.
Waktunya bagi siswa untuk pulang sekolah.
Pelajaran sudah diakhiri lima menit sebelum bel berbunyi. Kini di kelas hanya tinggal Jessie, Shindy, Lia, dan Fikri.
"Pulang bareng gua aja" Ajak Fikri.
"Lu ngajakin gua pulang bareng?" Tanya Lia pada Fikri.
"Yaiyalah siapa lagi? Di sebelah gua kalo bukan lu siapa?"
"Ogah ahh. Gua mau balik sama Rey aja"
Lia langsung pergi meninggalkan ruang kelas.
Ketika akan keluar pintu, Lia menghentikan langkahnya. Ia mendengar Fikri malah mengajak orang lain pulang bukannya berusaha membujuk dirinya.
"Yaudah kalo gamau, Gua ajakin Jessie aja"
"Hah! Gua?"
Fikri menangkupkan kedua telapak tangannya, tanda memohon agar Jessie setuju pulang bersama.
"Iya Jess, bareng aku aja ya. Rumah lu kan juga searah sama gua. Please mau ya?"
Fikri ngajakin gua balik bareng kenapa ya, masa mau pdkt sih. Tapi bukannya di suka sama Lia ya. Ahh masa bodo, dia kan belum jadi pacarnya juga. Batin Jessie.
"Gimana ya Fik, gua biasa pulang sama Shindy. Dan setelah ini juga mau ke kantin sebentar."
Seketika wajah Fikri terlihat murung, Jessie yang melihatnya menjadi merasa bersalah.
"Lu beneran gabisa nih?"
"Bentar Fik, gua tanya Shindy dulu."
Shindy yang sibuk memainkan handphonenya tak menghiraukan obrolan mereka.
Jessie menendang kecil kursi Shindy, tanda agar diperhatikan. Namun, Shindy benar-benar fokus pada handphonenya ia masih juga tak menghiraukan Jessie.
Jessie yang diacuhkan lama-lama merasa geram. Tanpa aba-aba ia langsung saja mencubit lengan Shindy. Cubitan itu membuat Shindy kaget dan seketika berteriak.
"Aww!!! Anjir*t siapa yang cub..." Belum sempat mengungkapkan kekesalannya, mulut Shindy dibekap oleh Jessie dengan buku tulis.
"Ada apa Shin?" Tanya Fikri penasaran.
"Gila si Jess.. " Belum sempat menuntaskan jawabannya, lagi-lagi mulutnya dibekap oleh Jessie.
"Hahaha.. ini loh Shindy di gigit semut makanya gua saplak lengannya." Sangkal Jessie pada Fikri.
"Oh gitu.. Eh btw gimana jadinya? Bisa nggak pulang bareng gua?"
"Bentar Fik. Gimana Shin? kalo gua bareng Fikri.. Lu kan jadi pulang sendiri, gua ga tega nih sama elu."
"Yaelah pake acara ga tegaan segala lu bambang. Dah gua gapapa kok, sana lu bareng Fikri aja."
"Beneran nih?"
"Hmm.. iya."
"Aww.. Makacihhh say."
__ADS_1
Jessie merasa senang sekali dan langsung memberi pelukan hangat pada sahabatnya.
"Udah ahh.. sana buruan pergi. Si Fikri dah nungguin lu tuh."
"Yaudah gua duluan ya.. bye Shin. "
"Oke bye."
Dengan berlalunya Jessie dan Fikri dari Ruang Kelas, keaadan ruang kelas pun benar-benar sepi dan senyap. Merasa hanya tinggal dirinya, Shindy pun langsung bergegas pulang.
★★★
Di Jalan menuju Kantin.
"Makasih ya udah mau nemenin pulang bareng."
"Eh gua dong yang harusnya makasih, lu dah mau anter gua pulang."
Tiba-tiba Fikri mendekatkan wajahnya ke arah Jessie. Jessie yang terkejut spontan menutup matanya.
"Ngapain Jess tutup mata?"
"Ha..!?"
Langsung saja Jessie membuka matanya lalu melihat sekeliling untuk memastikan keadaan.
"Gua tutup mata kaget aja tiba-tiba lu deket gitu. Kirain mau mukul gua"
Sebenarnya bukan itu yang ada dipikiran Jessie. Ia sempat mengira Fikri akan menciumnya tapi ternyata dirinya lah yang menghayal terlalu tinggi.
Ihhh.. kesel gua. Malunya sampe ke ubun-ubun, argghhh.. kirain mau ituin gua, ternyata engga. Untung pinter ngeles coba kalo ngga bisa malu tujuh turunan ntar. Batin Jessie geram.
Ia sangat malu akan tindakannya yang tiba-tiba menutup mata. Ia seperti anak bodoh yang bepikir mesum.
"Hahaha gua bercanda Fik, Gua juga tau lu bukan orang kaya gitu. Tadi sebenarnya mata gua tiba-tiba kaya kelilipan sesuatu gitu. Makanya merem deh."
"Sekarang gimana Jess, masih sakit matanya, Sini coba gua liat." Fikri memegang wajah Jessie dan mendongakkannya ke atas untuk memeriksa matanya.
Sontak perlakuan Fikri membuat pipi Jessie memerah.
"Aku tiupin ya."
Bibir fikri terlihat tipis dan seksi dari dekat, apalagi ketika ia meniupi mata Jessie, bibirnya seakan memposisikan diri untuk dicumbu.
Tiba-tiba..
Brakkk!!!
Terdengar suara hentakan kaki yang keras dari arah belakang.
Suaranya berhasil mengagetkan fikri yang sedang meniupi mata Jessie.
Fikri segera membalik badannya.
Tanpa sadar, posisi tangan Fikri yang memegangi wajah Jessie tadi melayang mengenai bola mata Jessie.
Sontak Jessie berteriak kesakitan.
"Aww.. Aww.. Aduhh... mata gua sakit anj*irrr. Tunggu lu mau kemana!? Fikri!!!"
Tanpa memperdulikan panggilan Jessie dan rasa sakitnya, Fikri tanpa aba-aba langsung berlari mengejar asal suara tadi. Ia meninggalkan Jessie sendirian di lorong.
__ADS_1
"Sia*lan lu Fik! Gua keculek gini lu pergi tanpa noleh"
Apes banget gua, huhuhu ...
Tadi padahal pura-pura kelilipan, ehh ini malah keculek orang yang gua kibulin sendiri.
Dengan perasaan kesal, emosi, sedih, ditambah sakit pada matanya Jessie langsung bergegas pulang ke rumahnya. Ia sudah lupa dengan tujuan awalnya yang bilang ingin ke kantin dulu.
Di Jalan.
"Gaada ojek apa ini, masa gua jalan kaki. Emang deket si rumahnya, tapi kan malu jalan sendirian begini. Mana handphone gua mati baterainya habis."
Ngenggg..
Ckiittt
(Suara sepeda motor di rem mendadak)
Seorang pria berpakaian serba hitam menghentikan laju motornya di dekat Jessie.
"Yuhuuu.. mau bareng ngga neng, jok belakang kosong nih."
Buset.. Motornya aja yang keren. Lepas helm mukanya bapak-bapak anji*rt.
"Heh pak, inget umur! Bapak itu dah tua, liat tu muka keriput gitu PD banget lagi godain anak sekolah. Ga inget anak istri di Rumah apa!? Aku foto muka bapak terus tak viralin di medsos mau pak, biar semua orang tau kelakuan bapak!?"
Jessie yang masih kesal dengan kejadian tadi melihat peluang bagus meluapkan amarahnya. Dia marah-marah di hadapan bapak-bapak yang menggodanya itu.
"Kalo ga mau gausah bac*ot neng, mana suaranya cempreng."
Jlebb..
Mendengar hinaan bapak-bapak itu membuat Jessie makin marah. Dia mengeluarkan handphonenya hendak memfoto muka orang itu.
Ketika Jessie mengeluarkan handphonenya.
Arghhh.. Gua lupa handphonenya mati. Si*al banget hari ini gua.. m*mpus.
Jessie berpikir untuk berlari kabur, namun ketika dia melihat sekeliling, bapak-bapak tadi sudah kabur duluan.
"Hahaha.. Ketipu dia sama gua."
Jessie melanjutkan perjalanannya pulang. Saat ini dia hanya ingin merebahkan badannya di Kamar lalu tidur.
★★★
Di Rumah Jessie.
"Aku pulang ma!" Sambil meletakkan tanya di kursi.
Dari Ruang Dapur terlihat seorang wanita tengah memotong wortel.
"Maa!" Panggil Jessie di Ruang Tamu.
"Mama!"
Ini anak kenapa juga manggil-manggil terus. Batin wanita itu.
"Hmm.. Mama di Dapur" Sahutnya.
Jessie yang mendengar suara mamanya langsung berlari menuju Dapur.
__ADS_1
Seperti biasa, wanita ini selalu terlihat cantik dari sudut manapun. Bahkan ketika ia sedang memotong wortel sisi cekatan dan tegasnya pun sangat terlihat.
Ya, siapa lagi kalau bukan mamanya Jessie, Renita Anggara.