Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 07


__ADS_3

Huft..


Huft..


Huft..


Suara napas yang terengah-engah.


"Lu kok ninggalin gua sih?"


"Sorry Shin Gua kira lu ngikut gua di belakang, eh.. ternyata lu ketinggalan jauh"


"Gua tadi ketemu setan tau ngga, tangannya pegang pundak gua. Ngeri banget"


"Yaudah yuk buruan masuk"


"Pak sapto ini Jessie, bukain gerbangnya"


"Iya non, sebentar"


Pak Sapto


Dia adalah satpam pribadi rumah Jessie.


Kepalanya botak licin, badannya berorot dan besar. Walaupun seorang satpam tak melulu sifatnya keras dan tegas. Pak Sapto ini juga memiliki sisi lain yaitu humoris.


"Makasih Pak Sapto"


"Tumben neng pulang malem banget? "


"Iya pak soalnya tadi sambil ngerjain tugas"


Dari balik gerbang tiba-tiba ada tangan yang memegang Pundak Jessie dan Shindy.


"Jess, lu percaya gua kan sekarang!"


"Iya Shin, gua percaya "


"Kita kabur ya Jess. Satu.. dua.. ti-"


"Eh.. eh.. eh.. Neng jangan kabur lagi atuh, ini saya mau balikin dompet eneng yang jatuh tadi"


"Loh..!? "


Shindy meraba saku celananya, dan benar saja bahwa dompetnya sudah tidak ada di tempatnya lagi.


Dia menoleh ke belakang, tidak diduga bahwa yang ia kira hantu ternyata adalah Pak Mahmud.


Pak Mahmud.


Dia adalah satpam keliling Komplek Perumahan Citae. Memang kalau sudah kelewat jam dua belas malam, satpam kompleks akan memulai pekerjaannya berkeliling menjaga keamanan komplek.


"Bapak dari tadi manggil kamu loh. Kamu malah lari kenceng banget"


"Maaf pak, tadi saya kaget. Saya kira bapak hantu makanya lari, hehehe.. "


"Hmm.. Cakep begini bisa-bisanya dikira setan, Neng"


"Maaf sekali lagi pak dan makasih sudah bawain dompet saya. Untung aja ditemuin sama bapak, soalnya di dalem isinya penting semua"


"Iya neng sama-sama. Yaudah Bapak lanjut keliling dulu ya"


"Oke pak"


Shindy dan Jessie berlalu menuju rumah.


"Huh.. udah gua duga tadi bukan hantu. Lu aja Shin yang terlalu penakut"


"Bentar-bentar.. Tadi siapa ya, yang lari duluan di jalan, dan siapa yang bilang percaya sama gua kalo ada hantu"


"Tau.. hahaha"


Renita yang mendengar suara Jessie segera turun ke bawah.


"Lama banget ke rumah Shindy. Ehh.. ada Shindy juga"


"Tante... Aku boleh ya nginep sini, soalnya mama papa lagi di Rumah Tante Betty, Shindy takut kalo sendirian di Rumah"


"Ya boleh dong, kamu mau nginep selama apapun disini boleh kok, Rumah ini terbuka lebar buat Shindy"


"Makasih tante"


"Udah dulu ya ma, kita ke atas dulu mau tidur"

__ADS_1


"Iya besok sekolah juga kan"


"Iya ma, Good night mamaku" Jessie mengecup pipi mamanya.


"Good night tante" Shindy memeluk Renita.


"Good night too semuanya, have a nice dream baby"


Shindy dan Jessie masuk ke dalam kamar untuk tidur. Mereka berbagi tempat tidur karena ukuran kasurnya pun lumayan besar.


Ketika Shindy sudah hampir terlelap,


"Shin.. Udah tidur? "


Tidak ada balasan. Jessie bertanya lagi.


"Shin.. "


Kayanya udah tidur ni anak.


Jessie mencoba memejamkan matanya, namun tidak juga kunjung tidur.


Kayanya ada yang mengganjal di pikiran gua, tapi apa ya?


Shindy meraih handphonenya di table. Karena dari ke Rumah Shindy sampai saat ini hp nya belum sempat ia buka.


Mode silent


Fikri mengirim pesan


Fikri : Jessie lu marah banget ya sama gua?


20 Panggilan Tak Terjawab : Fikri


Fikri.. Lu kenapa sih sampai kaya gini, bikin kepikiran aja.


Pesan baru


Komo : Good night ♥♥♥


Oh iya,, sampai lupa ada Komo juga.


Jessie Typing . . .


Jessie : Night too..


Jessie : Ini mau tidur, btw.. bisa ga jangan panggil beb :v


Komo : Iya sayang ♥♥♥


Jessie : Bodo ahh susah bilangin lu Mo, bye -_


Komo : Yah kok ditinggal bobo gua :(


Hehehe.. Komo so sweet banget.


Jessie terlelap setelah chattingan dengan Komo. Ia tidur dengan bibir tersenyum ceria.


★★★


Pagi hari, 05.30 WIB.


Triring...


Triring...


Triring...


Bunyi alarm bergetar untuk membangunkan orang.


Sudah keempat kali alarm berbunyi tapi tak kunjung ada yang mematikannya.


Triring...


Triring...


Triring...


"Huahhhh.. " Shindy menguap dengan kerasnya


Dia melihat jam alarm sudah pukul 06.00, dengan segera Shindy beranjak dari tempat tidur lalu membangunkan Jessie.


"Bangun woiii tukang tidur!!! "

__ADS_1


"Hm.. bentar lagi, masih pagi nih"


Jessie bukannya bangun dan membuka mata tapi malah membenarkan posisi selimutnya.


"Masih pagi pala lu peyang!!! Ini udah jam enam Jess, buruan ah. Gua ga mau sampai terlambat" Menggoyang-goyang badan Jessie.


"Iya lu mandi duluan sana, abis itu gua" Menggaruk dahinya, padahal tidak gatal.


"Yaudah " Meninggalkan Jessie yang masih nyaman dengan selimutnya.


Hanya butuh lima menit bagi Shindy untuk mandi, kemarin malam untung dia tidak lupa untuk sekalian membawa seragam dan keperluan sekolahnya. Jadi, dia tidak perlu kebingungan harus kembali ke rumahnya lagi.


"Gua udah Jess. Giliran lu sana mandi"


"Iya"


Jessie masih tampak berat meninggalkan tempat tidurnya, ia berjalan lemas seperti orang kelaparan.


Sementara itu, Shindy tengah menyiapkan buku-bukunya dan juga tidak kelupaan tugas miniatur yang kemarin malam ia kerjakan bersama Jessie. Shindy meneliti lagi untuk memastikan semuanya sudah aman dan lengkap.


Setelah selesai menyiapkan dan mengecek tugasnya, Shindy menunggu Jessie selesai mandi. Ia duduk santai di tepi ranjang. Shindy tidak enak jika harus turun sarapan duluan sementara Jessie masih belum siap.


"Akhirnya selesai mandi juga lu"


"Hehehe.. lama ya gua mandinya"


"Gausah ketawa, buruan lu pake seragam"


"Iya.. "


Dasar emak-emak bawel, huh.


"Gua tau lu maki gua dalam hati, gausah boong.. ngaku aja! "


"Ga kok, siapa juga yang maki lu"


Jessie menyelesaikan kegiatannya. Kini ia sudah rapi dan siap berangkat ke Sekolah.


"Yuk, ke bawah" Ajak Jessie.


"Oke"


Mereka berdua menuruni tangga untuk sarapan bersama di lantai satu.


Terlihat Renita juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Renita sudah duluan duduk di sana menunggu Jessie dan Shindy turun untuk sarapan.


"Good morning ma" ucap Jessie.


"Good morning Tante" ucap Shindy.


"Morning too. Langsung sarapan aja ya, udah tante siapin sandwich buat kalian"



Sandwich buatan Renita


"Waww.. makasih tante, aku jadi gaenak sama tante udah ngerepotin gini" Ucap Shindy


"Kamu kan sudah tante anggap kaya anak sendiri, jadi santai aja ya disini"


"Iya tante makasih ya sekali lagi"


Mereka bertiga menghabiskan sarapan bersama, sepertinya Shindy sangat menyukai sandwich buatan Renita. Ia makan dengan lahapnya sampai tak bersisa.


"Kalian bareng tante aja ya ke sekolah, daripada telat nanti. Apalagi ini macet dan sudah jam tujuh kurang sepuluh menit"


"Iya ma, kita bareng mama aja. Daripada telat nanti bisa-bisa dihukum"


"Yaudah ayuk berangkat"


"Oke ma"


Setelah menghabiskan sarapannya mereka berangkat bersama Renita ke sekolah.


Renita mengendarai mobil dengan sangat cepat dan lihai. Jessie yang sudah sering naik mobil yang disupiri Renita merasa biasa dengan hal itu. Baginya mengebut adalah hal menyenangkan.


Sementara itu, Shindy yang baru pertama kali naik mobil bersama Renita merasa sangat berdebar-debar jantungnya. Beberapa mobil disalip oleh Renita dengan lihainya. Shindy yang melihat itu takjub sekaligus takut sebagai penumpang.


"Shin, ayo turun udah sampai nih"


Shindy duduk dengan tatapan kosong. Seperti robot lehernya menoleh kaku ke arah Jessie sambil berkata,


"Mantap nyokap lu Jess" mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Hahahaha.. "


Jessie yang melihat ekspresi dan perkataan Shindy menjadi tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2