Ada Apa Dengan Jessie?

Ada Apa Dengan Jessie?
CHAPTER 04


__ADS_3

Renita Anggara.


Wanita solo karir sukses. Ibu rumah tangga cekatan, ibu siaga, dan istri yang baik. Kalau sudah komplit seperti itu, kurang apalagi Renita sebagai sosok wanita, ibu, dan istri.


Karena jejak karir dan pengalaman hidupnya yang membuat Renita sangat dikagumi putrinya, Jessie. Bukan hanya Jessie saja, bahkan banyak ibu-ibu dikalangan usianya yang mengidolakan sosok Renita.


Bagi Jessie, Renita adalah malaikat sekaligus iron man yang selalu siap melindunginya. Apapun masalah dan rintangan yang dihadapi Jessie, ia selalu menceritakannya pada Renita. Sungguh ikatan ibu-anak yang sangat dalam.


"Kenapa pulang sendiri ga bareng Shindy?"


"Kok mama tahu aku ga bareng Shindy"


"Mama liat Shindy pulang sendirian tadi, sedangkan biasanya kamu kan selalu bareng Shindy"


"Hehehe.. iya ma. Aku tadi ceritanya mau bareng temen aku ma. Ehh.. malah gajadi"


"Oh.. cowok apa cowok?"


"Ihh.. gaada pilihan ceweknya apa"


"Kalo jawabannya gini pasti beneran cowok"


"Iya mah namanya Fikri"


"Kamu jalan kaki?"


"Iya nih ma.. sumpah sial banget hari ini aku ma. Mana hp aku tadi lowbat, mau pesen gojek jadi ga bisa. Terpaksa jalan kaki deh pulangnya"


"Yaampun anak mama kasian banget"


Renita menghentikan kegiatan memotong worterlnya, ia menghampiri Jessie lalu menyuruhnya duduk di kursi.


"Mau kemana ma?"


Renita tidak menjawab pertanyaan Jessie. Ia langsung saja menuju ke kulkas, menyiapkan pengompres es.


"Nih kompres matanya pake es, kalo sudah tes pakai insto"


"Kok mama tahu juga mataku sakit. Jangan-jangan mama peramal ya"


"Iya mama peramal. Jadi kamu gabisa nyembunyiin apapun dari mama, dan kenapa ini sampe merah gini matanya"


"Tadi keculek temen ma.. hiks"


"Kamu udah kelas 2 SMK loh, jangan dikit-dikit nangis gini ah"


"Ma.. Aku orangnya gimana sih. Aku jelek atau nyebelin?"


"Masa anak mama jelek, kalo nyebelin sih iya. Kalo jeleknya ga mungkin, kamu kan keturunan mama. Mamanya cantik anaknya juga cantik dong"


"Hmm mama narsis terus aja.. yang serius dong jawabnya. Aku butuh keseriusan nih"


"Iya mama serius. Ada apa sih sama anak mama ini.. baru dijahatin orang? "


"Aku ngerasa ga percaya diri ma, berasa masih aja kurang cantik dibanding temen-temen Jessie lainnya"


Sambil tersenyum hangat, Renita menuntun tangan Jessie menuju sebuah ruangan di dekat Dapur.

__ADS_1


"Sini ikut mama"


"Loh kok ke sini "


"Duduk"


Renita menepuk-nepuk bangku kecil tanda agar Jessie duduk di atasnya. Tanpa banyak bertanya Jessie langsung mendudukan dirinya di bangku itu. Saat ia menatap ke depan, terdapat cermin besar hampir setinggi tubuh Jessie. Di sisi nya terdapat ukiran kayu tua yang masih tampak elok di umurnya sekarang. Jessie melihat ke dapan dan terpampanglah seluruh tubuhnya tak terkecuali apapun. Ia memperhatikan dirinya di cermin, ia lihat satu persatu bentuk tubuhnya.


Ia masih menatap lekat cermin tersebut lalu menyentuh cermin itu dengan tangan.


Renita mendekat ke belakang Jessie, Ia berkata pelan dan lembut.


"Apa yang kamu lihat di dalam cermin tersebut?"


Jessie memicingkan matanya lalu mendongak ke atas melihat mamanya.


"Ini aku ma.. "


"Kamu punya mata? "


"Punya"


"Kamu punya hidung, mulut, telinga?"


"Punya"


"Kaki, tangan, tubuh kamu lengkap kan? "


"Lengkaplah ma, amit-amit kalo gaada satu"


"Terus tiab bulan mama beliin kamu skincare ga? "


"Kalo kamu yang punya tubuh lengkap, ga ada kelainan, dan ga ada penyakit aja bisa merasa ga cantik, gimana perasaan dan pemikiran wanita lain diluar sana yang punya kekurangan. Bagaimana mereka yang ga bisa melihat, ga bisa mendengar, mereka yang ga punya anggota tubuh lengkap merasa tetap percaya diri dan berpikir mereka sama dengan kita. Kamu bisa bayangin perasaan mereka kalo denger seorang Jessie berkata ga percaya diri dengan wajahnya? "


Deg..


Pernyataan sekaligus pertanyaan Renita membuat Jessie merasa bahwa dirinya adalah manusia sombong yang tidak bisa bersyukur.


Jessie langsung memeluk mamanya, ia sedikit menitikan air mata di dekapan Renita.


Perasaan bersalah dan menyesal bercampur menjadi satu. Jessie sadar akan satu hal dari perkataan mamanya tadi bahwa tidak ada orang yang tidak cantik di dunia ini.


Tuhan aku minta maaf, karena masih sempat berkata seperti tadi.


"Makasih mama.. "


"Iya sayang, kamu harus inget ya, mau cantik atau jelek itu tergantung pemikiran kita, kamu ngerasa ga kalau kamu bilang ga cantik dengan tubuh dan wajah kamu yang seperti ini terlihat ga bersyukur banget sama Tuhan apalagi sama orang yang punya kekurangan. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya"


"Iya mama, Jessie bakal inget terus omongan mama"


"Udah ahh.. mama masih mau masak nih"


Mereka melepas pelukannya


"Iya ma.. Aku bantuin ya masaknya "


"Tumben"

__ADS_1


"Yeee.. aku kan selalu bantuin mama, kok malah bilang tumben"


"Kalo gitu nanti goreng ayamnya"


"Nahhh.. kalo itu aku ga bisa. Itu mama aja hehehe"


"Dasar.. Yaudah ayo"


"Oke ma"


Mereka meninggalkan Ruangan dan menuju Dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Ganti dulu bajunya"


"Oh iya.. bentar ma, aku sampai lupa belum ganti baju apalagi tadi jalan kaki, uh.. bau keringet banget aku ma"


"Untung tau, mama sampai tahan nafas deket kamu tadi"


"Yee.. ga gitu juga kali ma" Memanyunkan bibirnya.


Setelah selesai berganti baju, Jessie turun ke Dapur untuk membantu mamanya memasak makan malam.


Mereka terlihat kompak sebagai ibu dan anak. Renita yang sabar mengajari anaknya. Dan Jessie yang terlihat menikmati ajaran memasak Renita. Mereka saling bercanda dan tertawa riang satu sama lain. Pemandangan yang cukup menyejukkan mata, siapapun yang melihat pasti merasa iri.


Jessie membantu mencuci sayurnya lalu Renita memotong sayurannya.


Jessie tidak mau berurusan dengan goreng-menggoreng apalagi ikan atau ayam, Jessie pasti langsung angkat tangan jika disuruh melakukannya.


Bukan tanpa alasan ia tidak mau menggoreng daging. Kalau cuma bau itu bukan masalah baginya, tapi ini masalah minyak yang menyiprat. Jessie sangat takut dengan hal itu, minyak yang menyiprat sangat panas apalagi kalau mengenai kulitnya, pasti langsung berbekas keesokan harinya.


"Jess siap-siap!!!"


"Ada apa ma? "


Tiba-tiba...


Srenggg..


csss..


Suara ayam mentah yang di masukkan ke wajan berisi minyak panas.


Jessie yang berada tepat di sebelah kompor langsung berteriak kaget


"Aaaaa.. "


"Hahaha" Tawa Renita


"Mama bilang dulu dong jangan ngangetin aku. Kalo aku ga cepet-cepet lari tadi.. Hm fiks aku bakal kecipratan minyak" Menjelaskan dengan bersungut-sungut.


"Sorry honey"


"Huh.. Aku mau ke Kamar ajalah "


"Ehh... kok mama ditinggal "


"Salah siapa ngagetin aku tadi"

__ADS_1


Jessie berlalu meninggalkan Dapur menuju Ruang Kamarnya di Lantai 2.


__ADS_2