
Suasana markas menjadi sangat riuh saat ini, panik melihat aileen yang tiba tiba mimisan dan kini dikejutkan dengan gadis itu yang tak sadarkan diri.
"Ail bangun hey" edden menepuk nepuk pipi aileen.
"Ehh tapi ini bukannya bukan pertama kali aileen kaya gini ya?" Ujar evan akhirnya membuka suara.
Edden menatap evan dengan bingung " maksutnya?".
"Disekolah dia beberapa kali juga pernah mimisan, ya kan ziel?" Jelas kiki seraya menatap aziel yang juga terlihat panik.
Kini seluruh atensi tertuju kepada aziel " bang gue rasa ada penyakit yang serius, mending kita bawa kerumah sakit sekarang"
Aziel pernah merasa curiga bahwa aileen menyembunyikan sesuatu dari semua orang, mungkin sekarang bisa menjadi jawaban apa yang dirahasiakan oleh gadis itu.
Edden bangkit sambil membawa aileen dalam gendongannya disusul dengan aziel yang mengikutinya.
"Biar gue yang bawa mobil nya bang" aziel masuk kedalam kursi kemudi dan di susul edden yang menggendong aileen masuk di kursi penumpang.
"Dari kapan?" Tanya edden masih menatap aileen yang tampak terlihat pucat.
"Gue gk tau bang, tapi beberapa kali aileen emang sering mimisan dan gk sadarkan diri. Tapi dia gk pernah bilang dia kenapa" jelas aziel masih terus fokus pada kemudinya.
Kini mata edden memanas mendengar cerita aziel, mungkinkah adiknya kembali sakit seperti dulu. Tapi rasanya tidak mungkin, dokter sudah memastikan bahwa aileen sembuh total.
"Lebih cepat!"
Edden mengusap bibir pucat sang adik, kini rasa takutnya bertambah berlipat lipat. Kenangan saat bundanya masuk rumah sakit lalu pergi meninggalkan nya dan kini adik satu satu nya harus dibawa kerumah sakit juga.
"Kamu pasti baik baik aja" edden mengecup kening aileen dan tanpa sadar air matanya menetes.
Sekitar tiga puluh menitan mobil membelah jalanan malam yang masih lumayan ramai, kini mereka telah sampai rumah sakit.
"Sus tolong periksa adik saya" edden membopong tubuh aileen masuk kedalam untuk segera diperiksa sedangkan aziel masih memarkirkan mobil nya.
"Baik, silahkan tunggu dan urus administrasi nya mas" suster tersebut membawa aileen segera ke dalam UGD.
Edden meremas rambutnya, kini hatinya benar benar hancur. Memori menyakitkan saat ibu nya pergi kembali berputar putar dalam otaknya.
__ADS_1
"Bang" panggil aziel yang sudah menyusul masuk ke dalam.
Edden mendongak menatap aziel dengan mata memerah karena menangis. Aziel pun menatap iba pada edden, tak pernah ia lihat aziel sampai sehancur ini .
"Tolong urus administrasi nya, gue harus nungguin dia" perintah edden menepuk bahu aziel , aziel yang paham langsung menganggukan kepala nya dan segera pergi untuk mengurus administrasi aileen, agar gadis itu segera mendapat pertolongan.
Edden menatap pintu UGD yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah, andai sang bunda masih ada mungkin edden tak akan se kacau saat ini.
"Bang gimana?" Tanya edden yang sudah kembali.
Edden hanya membalas dengan gelengan kepala dan terus menatap pintu bercat putih itu.
"Tenang bang semua pasti baik baik aja" aziel mencoba untuk membuat sedikit tenang tapi rasanya itu tak mempan sama sekali.
Ceklekk
Edden dan aziel langsung berdiri saat suara pintu didepannya terbuka.
"Gimana keadaan adik saya dok?" Tanya edden menghampiri dokter tersebut
"Anda keluarganya?" Tanya sang dokter menatap aziel dan juga edden secara bergantian.
"Emm begini, saat ini saya belum bisa menyimpulkan kondisi yang sebenarnya. Karena keadaan pasien saat ini belum stabil, kini harus menunggu sampai besok pagi. Dan satu lagi apakah akhir akhir ini pasien mengalami gejala gejala sesuatu?" Jelas sang dokter.
"Saya kurang paham dok, setau saya adik saya tidak mengalami gejala ataupun sakit akhir akhir ini" balas cepat edden.
"Baik lah ini baru dugaan saya saja, kita akan tahu besok pagi setelah kondisi pasien stabil. Kali gitu saya permisi"
" Dok, apa boleh saya menemui adik saya?" Tanta edden sebelum dokter yang perkiraan umurnya tak jauh dari ayahnya itu akan pergi.
"Untuk saat ini pasien belum bisa dijenguk, kita harus melakukan pemeriksaan secara serius" jelas sang dokter.
Edden menarik nafas kasar kemudian menjatuhkan tubuhnya ke lantai, pertahanan edden kali ini benar benar runtuh. Edden menangis sesenggukan sambil memegang kedua lututnya yang ia tekuk.
"Hikks bunda" tangisnya lirih sambil bergumam.
"Maafin abang bun, abang gak bisa jagain aileen hikss"
__ADS_1
"Maafin abang, gara gara abang bunda pergi ninggalin keluarga kita bun"
"Abang jahat hikss"
"Maafin abang bun, jangan hukum abang kaya gini"
"Abang janji gk bakal gangguin ail lagi, abang bakal jadi kakak yang baik hiksss"
Aziel terkejut melihat sisi lain dari leader Bruiser di depannya, sisi yang tak pernah dilihat siapa pun selain keluarganya.
Aziel merasa edden benar benar anak yang baik saat berada bersama keluarga nya, hanya saja karena kejadian salah paham itu membuat edden harus kehilangan bunda dan juga keluarga harmonisnya.
Eden mengusap wajahnya kemudian bangkit dan duduk di kursi tunggu samping aziel.
"Lo boleh pulang, ini udah terlalu larut jangan bikin bunda lo nunggu" jelas edden melirik aziel sebentar.
"Gua bakal temenin lo disini bang sampe aileen sadar" balas aziel .
"Bunda lo?" Tanya edden.
"Gue udah ngabarin bunda bang" jelas aziel yang paham dengan kekawatiran edden.
"Lo gak ngabarin ayah lo bang?" Tanya aziel bingung dengan hubungan antara anak dan ayah ini.
"Ayah gue sibuk sama kerjaannya, kalo pun gue ngasih tau yang ada dia bakal bawa aileen lagi sama dia dan gue bakal kehilangan orang tersayang gue lagi" jelas edden sambil tersenyum miris.
Bahkan sampai saat ini sang ayah masih marah dan menyalahkan nya perihal kepergian sang bunda beberapa tahun yang lalu.
Edden bersyukur sang ayah masih memberikannya kesempatan untuk bersama aileen, meski sedikit harapan untuk mendapat kan maaf dari sang ayah untuk kesalahan yang bukan ia perbuat.
Mau dijelaskan bagaimana pun selagi tak ada bukti itu sama saja percumah, dan sang ayah tidak akan pernah percaya.
Aziel lagi lagi merasa tak enak atas pertanyaan annya dan prihatin atas kerenggangan keluarga edden.
Sepertinya kali ini raka harus benar benar diberikan pelajaran agar jera, akibat kelicikannya banyak orang yang harus menanggung luka .
Aziel mengambil ponselnya untuk menghubungi anak Bruiser lainnya dan memberikan kabar bahwa aileen dirawat dirumah sakit Cendana Mawar.
__ADS_1
"Kabarin yang lain, aileen dirawat di cendana mawar. Kalian harus hati hati karena raka saat ini udah tau perihal aileen adek bang edden. Ada orang yang sengaja kerja sama buat hancurin kita, segera atur strategi kita gk boleh kecolongan lagi kali ini".