
Setelah melewati masa panjang semalam akhirnya keadaan aileen kembali membaik, edden pun bersyukur tuhan masih mengabulkan doanya agar ia masih bisa bersama dengan adik kesayangannya itu.
Aileen yang sudah dipindahkan ke ruang rawat pun sudah bisa dijenguk dari semalam, dan kini edden sedang tiduran di sofa ruang rawat aileen. Karena laki laki itu sejak semalam demam, mungkin karena terlalu banyak pikiran dan juga kelelahan.
Bagaimana tak lelah, edden mengurus semuanya sendiri dan untuk seluruh biaya nya pun hasil tabungannya selama ini.
Tabungan yang sebenarnya akan ia gunakan untuk membeli rumah untuk nya dan juga aileen, karena tinggal di apartemen yang tak terlalu besar itu membuat edden kasihan dengan aileen.
Tidak ada yang tahu jika edden memiliki usaha kecil kecil an yang lokasi nya tak jauh dari taman kota.
Edden membuka kedai angkringan disana, walaupun hasilnya tak banyak tapi edden bisa menyisihkan sedikit pendapatannya untuk tabungannya dan menyekolahkan aileen sampai kuliah.
Untuk kuliah nya sendiri pun tak memakai biaya karena ia mendapatkan kan beasiswa di kampusnya. Edden bersyukur bisa membagi waktu belajarnya dan juga waktu untuk bekerja mencari nafkah untuk adiknya.
Ayah edden yang berada diluar negeri pun sebenarnya masih mengirimkan uang, tapi hanya untuk kebutuhan aileen tidak dengan dirinya.
Edden tak peduli dengan ayahnya yang hanya peduli dengan aileen saja, dengan ayahnya yang tak mengambil aileen darinya pun edden sangat sangat bersyukur dan berterima kasih .
"Abang" panggil aileen dengan suara pelan tapi masih dapat edden dengar dengan sangat jelas.
Edden yang awalnya hanya merebahkan tubuh nya di sofa pun langsung duduk saat mendengar suara aileen yang memanggilnya.
"Kamu udah sadar, mana yang sakit hem?" Tanya edden menggenggam tangan aileen dan langsung mengecup nya.
"Aileen kangen sama abang" ucap aileen pelan dan menatap edden dengan sayu.
"Heyy kenapa ngomong nya gitu hemm, abang gk kemana mana, abang selalu temenin ail" balas edden mengusap pipi aileen sambil tersenyum manis .
"Ai rasanya kayak tidur lama banget abang, kenapa abang gak bangunin ai" aileen menatap mata edden yang berkaca kaca, kemudian tangan mungilnya yang terdapat jarum infusan itu bergerak mengusap air mata sang kakak dengan pelan.
Edden mengambil tangan aileen yang mengusap air matanya, edden tak bisa lagi menyembunyikan rasa takutnya akan kehilangan adik satu satunya ini.
Dicium nya berkali kali tangan mungil itu sambil sesekali terdengar isakan yang sangat pelan dari bibir nya.
"Abang kenapa?" Tanya aileen menatap bingung edden yang malah menangis sesenggukan di tangannya.
Bukannya menjawab laki laki yang lebih tua dari aileen dua tahun itu semakin menyembunyikan wajahnya yang banjir air mata.
Edden tak akan pernah sanggup kehilangan makhluk mungil kesayangan nya ini. jangan kan kehilangan, aileen sakit seperti ini saja membuat edden seakan kesulitan .
"Abang ihhh, gk suka!" Kesal aileen menatap edden dengan cemberut.
Edden yang melihat adiknya sudah bisa merajuk pun dengan cepat mengusap air matanya dan langsung memeluk tubuh aileen.
"Abang gkpapa sayang, kamu apa nya yang sakit hemm?" Edden mengusap usap punggung aileen dan sesekali mengecup pucuk kepala aileen dengan sayang.
"Gk ada yang sakit abang" balas aileen yang juga ikut memeluk abangnya dengan sayang.
"Abang lepass isss" kesal aileen saat edden memeluknya terlalu kuat.
Bukannya marah edden malah tertawa melihat raut wajah imut aileen yang sedang dalam mode ngambeknya.
"Abang cengeng" celetuk aileen kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap intens wajah edden yang sembab.
"Ck!" Decak edden sedikit kesal karena aileen malah mengatai nya cengeng.
Tidak tahu saja edden hampir depresi saat melihat kondisi nya kemarin yang semakin menurun.
"Cuma kamu doang yang bisa bikin abang cengeng kaya gini" ucap edden sambil menyandarkan tubuhnya dikursi samping aileen.
Aileen memutar bola matanya malas " ai gk ngapa ngapa in, enak aja dibilang ai yang bikin abang cengeng" gerutunya sambil cemberut.
Edden menarik sudut bibirnya, jika ai sudah bisa merajuk seperti sekarang berarti kondisi nya memang sudah lebih baik. Tak masalah jika aileen akan merajuk setiap hari padanya karena itu jauh lebih baik dari pada harus melihat aileen yang jatuh sakit .
__ADS_1
"Iyaa kamu gak salah, abang yang cengeng dehh" balas edden mengalah .
"Udah dong jangan ngambek, nanti bibirnya panjang loh" bujuk edden ketika aileen malah beneran ngambek padanya.
"Iss abang ai mau pulang aja" ucap nya menatap edden yang juga masih menatapnya.
"Kenapa?" Tanya edden ingin tahu alasan nya.
"Bosen abang, ai pengen dirumah aja" rengeknya.
"Kamu baru sadar loh, dokter aja belum meriksa kamu" edden berbicara lembut pada aileen agar adiknya tak lagi merengek minta pulang.
"Abang panggil dokter dulu ya" edden bangkit dari duduknya meninggalkan aileen yang masih cemberut karena tak dibolehkan pulang.
****
Kediaman aziel
"Bunda ayok , bang ed bilang aileen udah sadar sekarang lagi diperiksa sama dokter bun"
"Iyaa sebentar sayang bunda lagi wadahin bekal buat sarapan edden" balas sang bunda yang masih sibuk dengan makanan yang sudah ia siapkan dari subuh tadi.
Aziel menatap bundanya dengan kesal, sudah dari sejam yang lalu ia menunggu sang bunda sampai sekarang pun masih belum selesai juga.
Bahkan sampai edden mengabari kalau aileen sudar sadar " bunda siap siap gih, biar ziel yang nyiapin ini" suruh nya pada sang bunda agar lebih cepat.
"Iyaaa sabar ini sebentar lagi"
*****
Rumah sakit
"Bagaimana dok kondisi adik saya?" Tanya edden saat dokter sudah selesai memeriksa aileen.
"Alhamdulillah perkembangan jauh lebih baik saat ini, untuk jantung nya juga sudah tak separah kemarin dan paru paru nya juga lebih baik sekarang ini. Kita tidak perlu melakukan operasi untuk saat ini, kita bisa melakukan berobat jalan saja asal obat yang saya berikan diminum dengan teratur dan jangan sampai telat"
"Ahh baik dok saya mengerti, sekali lagi terimakasih dok" ucap edden sangat berterimakasih kepada dokter miko .
"Sama sama kalo gitu saya permisi, jangan lupakan sarapan nya dan juga segera minum obat okeyy" ucap dokter miko kepada aileen sambil tersenyum ramah.
"Siap kak dokter ganteng" balas aileen nyengir memperlihatkan gigi gigi nya.
Edden yang melihat kelakuan absurd adiknya pun langsung geleng geleng kepala .
"Kalo gitu saya permisi, selamat pagi menjelang siang" pamit dokter miko dengan ramah.
"Ayok buka mulutnya " suruh edden setelah dokter miko keluar dari ruangan aileen.
"Itu pake apa makannya?" Tanya aileen menunjuk piring yang berisi makanan untuknya.
"Ini ada sup sama ayam goreng" jelas edden menunjukan piring berisi makanan.
"Gak enak itu abang pasti rasanya" balas aileen menatap malas makanan yang dipegang edden.
Edden melotot kan matanya tak percaya mendengar ucapan adiknya ini, belum juga di makan sudah bilang gk enak.
"Kamu belum cobain sayang, gimana ceritanya tahu kalo ini gak enak" tanya edden menautkan alisnya.
"Iss di novel novel gitu abang, biasanya makanan rumah sakit itu gak enak" edden ternganga tak percaya dengan pikiran adik nya ini.
"Ehemm" edden dan aileen langsung menoleh kesumber suara.
"Bunda bawa sarapan" bunda masuk dengan membawa bekal di tangannya.
__ADS_1
"Bunda!" Seru aileen sangat antusias .
"Hay sayang, gimana udah baikan sekarang?" Bunda rahma menghampiri aileen yang duduk bersandar diranjang.
"Udah bunda, bunda abang nakal, ai gak mau makan itu" adunya sambil menunjuk makanan dipiring yang masih edden pegang.
"Hemm kenapa?" Tanya bunda rahma sambil mengelus pucuk kepala aileen.
"Gak enak bunda" serunya dengan manja.
Sedangkan edden dan aziel yang melihat interaksi kedua wanita itu pun malah jadi bingung. Kenapa aileen bisa sangat lengket dan manja dengan bunda nya aziel.
Edden menggaruk kepalanya kemudian meletakan piring berisi makanan yang belum disentuh sama sekali oleh aileen diatas meja.
"Bun ed titip ai sebentar ya" ucap edden.
"Mau kemana sarapan dulu, itu bunda udah bawa sarapan?"
"Yaudah ed bawa ke kantin aja sekalian sarapan disana sama aziel" .
"Yaudah kalian sarapan di kantin, biar bunda yang suapi aileen"
"Ai mau ikut abang " ucap aileen langsung turun dari ranjang.
"Ehh jangan kamu lagi sakit" cegah edden yang tak ingin adiknya nanti malah nambah sakit.
"Tapi mau ikut abang" rengeknya dengan mata berkaca kaca.
"ai disini aja sama bunda okey"
"Tapi abang jangan lama lama ya" seru aileen menatap edden.
"Iyaa enggk lama sayang, abang mau cuma mau makan" balas edden.
"Lo disini aja sama bunda gue, jangan ngeyel jadi anak kecil" ucap aziel .
"Ihhh bunda aziel nakal, ngatain ai ank kecil" adunya
"Ai bukan anak kecil aziel ai udah gede, ai juga gak ngeyel" balas nya sambil cemberut.
"Kalo gak ngeyel nurut disini aja sama bunda gue!"
"Aziell" tegur bundanya, aziel menghela nafas nya dengan kesal. Apa apa an ini bundanya jadi belain aileen.
Edden manahan tawa nya melihat aziel dan aileen yang adu mulut, kenapa adiknya jadi tom and jery seperti ini saat bersama aziel pikirnya.
"Wleee" aileen menjulurkan lidahnya mengejek aziel sedangkan yang diejek hanya mendengus kesal.
"Udah ayok" ajak edden pada aziel, kemudian ia membawa rantang makanan yang sudah dibuatkan oleh bunda nya aziel.
"Nah sekarang aimakan bunda suapin"
" Bunda masak apa?" Tanya aileen antusias.
"Masak sup ayam kesukaan ai dong" aileen yang mendengar sup ayam buatan bunda nya itu pun tersenyum senang.
"Yeyy bunda masakin ai sup ayam" seru nya.
"Aaaa buka mulutnya"
"Aemmm enwak bangwet " ucap aileen dengan mulut penuh makanan.
"Kalo makan jangan sambil ngomong gak boleh" tergur bunda nya yang langsung dibalas dua jempol oleh aileen.
__ADS_1
Aileen sangat senang dapat bertemu dengan bundanya aziel yang sudah ia anggap seperti ibu nya sendiri.
Apalagi bunda nya aziel sangat sayang dan juga memanjakannya, seperti kembali mendapatkan kasih sayang bundanya yang sudah lama tak ia dapatkan.