Aileen Krystal N.

Aileen Krystal N.
KEBENARAN


__ADS_3

Pagi ini edden sudah terjaga dan tinggal menunggu dokter yang akan kembali memeriksa aileen.


Aziel pun sudah edden suruh pulang mengingat bunda laki laki itu tinggal sendirian dirumah.


"Selamat pagi tuan, apakah anda keluarga nona aileen Krystal " tanya seorang suster membawa obat obatan ditangannya.


"Iyaa benar saya kakak nya" balas edden langsung berdiri.


"Hari ini nona aileen akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyakitnya, jadi saya mohon doa dari pihak keluarga" jelas sang suster dengan sangat ramah.


"Baik sus tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya"


"Baik, kalau begitu saya permisi"


Edden meraup wajahnya dengan kasar, semoga saja tidak ada penyakit yang serius dengan adiknya.


Lagi lagi edden harus duduk dan menatap pintu bercat putih itu " kamu pasti kuat" gumam edden.


"Edden"


"Loh bun" kaget edden dan langsung berdiri menyalami tangan bunda nya aziel.


"Gimana keadaan nya" panik bunda rahma.


"Ehh lagi diperiksa lagi bun sama dokter" jelas edden dan mengajak wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya itu untuk duduk.


"Haduhh bunda semaleman gk bisa tidur pas aziel ngabarin kalo aileen dirawat di rumah sakit" jelas nya


Edden tersenyum menatap wanita di depannya ini, terlihat raut kekawatiran disana. Beruntung sekali masih ada orang baik disekitarnya.


"Padahal ed udah nyuruh aziel pulang tuh bun, tapi ngeyel" balas edden sambil terkekeh kecil.


"Iyaa tadi aja dia baru nyampe udah bunda suruh langsung anterin kesini lagi"


Aziel yang sedari tadi di bicarakan pun hanya diam tak ingin ikut menyahuti obrolan keduanya.


"Oh iyaa bunda bawain sarapan buat kamu nih, kamu pasti belum sarapan kan?"


"Hehe iyaa bun, makasih banyak loh bun. Ed Sma aileen jadi ngerepotin bunda sama aziel" ucap edden tak enak dengan kebaikan yang keluarga aziel lakukan untuknya dan juga aileen.


"Kita ini keluarga, jadi gk usah ngerasa gak enak. Kamu aileen aziel kalian semua anak bunda"


Edden mengangguk dan sedikit tersenyum mendengar ucapan wanita baik di depannya ini.


"Yaudah kamu sama aziel sarapan dulu sana, biar gantian bunda yang jagain" edden mengangguk kemudian berdiri untuk pergi sarapan.


"Ziel?" Panggil edden menatap aziel yang masih duduk samping bundanya.


"Bun aziel pergi sarapan dulu" ucap aziel berpamitan kepada bundanya dan kemudian berdiri mengikuti edden yang sudah jalan di depannya.


"Ya ampun nak kamu kasihan banget, semoga kamu baik baik aja" ucap wanita itu menatap pintu bercat putih yang belum terbuka sampai sekarang .


****


"Buruan ki, lama bet dah" kesal evan melihat kiki yang lemot alias lama.


"Sabar ngab, lagi pake sepatu gue liat gak sih" nyolot kiki yang kesal karena di buru buru.


"Makanya kalo malem tu tidur gak usah sok sok an begadang" sinis evan .

__ADS_1


Sedangkan kiki yang pagi pagi sudah mendapat kan wejangan pun mendelik tak terima.


"Kaya situ gak suka begadang cih!!" Sindir nya balik sambil menatap sinis evan, yang di tatap malah membuat muka songong.


"Bocah!!"


Kiki dan evan melotot saat dirinya dikatakan bocah oleh bang rio yang ikut menunggu kiki juga disana.


"Ngadi ngadi lu bang kalo ngomong!" Ucap kiki tak terima.


"Buruan njirrr, gue tinggal juga lo pada" kesal evan melihat kiki yang tak selesai selesai.


"Iyaa iyaa sabar, bentar lagi njirrr"


"Gue nebeng deh" ucap kiki setelah selesai memakai sepatunya.


"Cih gatau diri!" Celetuk evan .


"Motor gue bocor setan" geram kiki .


"Udah ayok buruan, niat gak sih mau nyusul ke rumah sakit!!" Kesal rio menatap tajam kearah dua makhluk yang tak bisa akur itu.


"Iyaa tapi gue nebeng ya bang" balas kiki sambil nyengir.


Rio menganggukan kepala nya cepat, tak ingin berlama lama melihat dua makhluk ini terus berdebat. Yang ada mereka tak akan jadi menjenguk aileen.


***


"Sorry ngerepotin keluarga lo terus" ucap edden yang sudah selesai dengan sarapannya , kini mereka berdua masih duduk di kantin rumah sakit untuk beristirahat. Biar lah bunda nya yang berjaga disana.


"Santai bang" balas aziel yang merasa kalau yang dilakukannya dengan sang bunda bukan lah hal apa apa.


"Oiyaa bang, yang laen lagi pada di jalan mungkin sebentar lagi sampe " jelas aziel yang baru saja mendapatkan pesan masuk dari kiki bahwa mereka semua akan datang ke rumah sakit.


"Permisi tante" ucap kiki dan rombongan dengan sopan yang sudah sampai di ruangan UGD.


"Lohh udah pada dateng" tanya rahma tersenyum menatap teman teman anaknya itu.


"Iyaa tante, ngomong ngomong kok tante sendirian disini?" Tanya kiki yang memang disana hanya ada bundanya aziel ..


"Iyaa tadi tante suruh edden sama aziel sarapan dulu kalian susulin aja ke kantin"


"Oh gitu" balas kiki manggut manggut.


"Oh iyaa tan keadaan aileen gimana sekarang" tanya fajar.


"Aileen masih melakukan pemeriksaan di dalem sama dokter, doain semoga gak ada penyakit yang serius ya" balas bunda rahma sambil menatap sendu pintu ruang UGD .


"Iyaa tan pasti itu mah" balas fajar yang juga merasa sedih melihat musibah yang menimpa aileen dan edden sang leader.


"Tan kalo gitu kami semua permisi mau nyusul edden" pamit rio dengan sopan.


"Iyaa silahkan" balas rahma.


"Permisi tante".


****


Kantin begitu ramai karena kedatangan rombongan Bruiser, edden pun merasa beruntung memiliki teman seperti anggota Bruiser.

__ADS_1


Mereka sangat kompak seperti keluarga, bahkan waktu ia di dalam penjara selama dua tahun pun mereka masih setia dan makin kompak.


"Bang adek lo parah banget?" Tanya kiki si paling gak bisa meneng.


"Belum tau, dokter belum ngasih jawaban" balas edden.


"Ed lo gimana masih mau ngurus raka sama temen temennya" tanya rio menatap teman dari SMA nya itu.


"Hemm, tapi gak sekarang. Gue mau fokus sama kesehatan adek gue dulu"


"Kita bakal bantu lo sampe si bangsat itu gantian mendekam di penjara dan menebus semua dosa dosa nya " jelas rio dengan raut wajah datarnya.


"Hemm " balas edden dengan deheman.


Drtt drtt


"Hallo bun"


"Aileen udah selesai diperiksa, dokter bilang pengen ketemu sama edden. Kalian tolong kesini ya"


"Oke bun"


" Bang bunda bilang dokter pengen ketemu lo" edden langsung berdiri dan segera berlari untuk menuju ruangan aileen.


Pintu ruangan terbuka membuat bunda aziel langsung bangkit dan menemui dokter tersebut.


"Dokter bagaimana keadaannya?"


"Apakah ibu adalah orang tuanya?" Tanya sang dokter.


"Emm bukan saya hanya saudaranya"


"Bisa kita bicara keruangan saya sebentar bu" tanya sang dokter dengan ekspresi yang membuat bunda aziel harap harap cemas.


"Baik dok, saya hubungi anak saya dulu sebentar".


Tak berselang lama edden datang dengan raut wajah yang sulit di tebak.


"Bun" panggil edden ngos ngosan, karena jarak kantin lumayan jauh jadi edden harus berlari agar lebih cepat sampai.


"Akhirnya kamu dateng, ayok dokter perlu bicara sama kamu" edden mengangguk dan langsung menuju ruangan dokter tersebut.


"Permisi dok"


"Silahkan masuk" balas sang dokter kemudian menyiapkan berkas berkas.


"Silahkan duduk, emm jadi begini saya tidak ingin bertele tele. Jadi kondisi pasien saat ini sangat serius, pasien sepertinya sudah mempunyai penyakit jantung bawaan, apakah itu benar?" Tanya dokter miko yang menangani pemeriksaan aileen.


Edden menghela nafas berat dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk, tanpa ia sadarai air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.


"Jadi begini bu, penyakit jantung yang diderita pasien di masa lalu itu tidak dapat sepenuh nya sembuh total. Ada beberapa pemicu yang dapat membuat penyakitnya kembali kambuh seperti sekarang ini".


"Disini yang dapat saya ketahui dan saya sampaikan, pasien tidak hanya memiliki riwayat penyakit jantung. Pasien memiliki gangguan pada paru parunya, mungkin akhir akhir ini pasien memiliki gejala sesak di dada nyeri dan juga mimisan akibat dari jantung nya"


Mendengar penjelasan dokter miko, edden tak lagi dapat menahan tangisannya. Tangisan edden benar benar pecah, ia menangis meraung raung seperti anak kecil.


Bunda aziel yang mendengar penjelasan dokter pun merasa sakit dan juga sedih, ditambah melihat edden yang menangis histeris membuat hati nya benar benar hancur.


"Nak sabar, kamu harus kuat. Aileen pasti baik baik aja" edden kali ini menumpahkan tangisannya dalam pelukan wanita baik disamping nya.

__ADS_1


Rasanya edden sudah tidak memiliki tenaga dan kekuatan lagi, bunda aziel pun memeluk edden dengan sangat kuat. Tak terasa air matanya pun berjatuhan membasahi pipinya.


Jiwa nya sebagai seorang ibu, sangat paham dengan kondisi terpukul edden saat ini.


__ADS_2