
Anggota Bruiser tercengang melihat sang ketua yang menangis histeris sampai sesenggukan , tak ada yang berani bertanya saat ini tentang keadaan yang sebenarnya.
Aziel menatap sang bunda dengan tatapan penuh tanya, tapi bundanya hanya mengisyaratkan untuk tak bertanya apa apa saat ini.
Edden mencoba untuk mengontrol dirinya saat ini, menghapus air matanya dengan kasar kemudian menatap sang adik dari balik pintu kaca yang terlihat hanya sedikit itu.
Tubuh aileen dipenuhi alat alat medis saat ini, hidungnya pun dipasangi alat bantu pernapasan.
Edden perlahan mengusap kaca tersebut seolah ia sedang mengusap pipi putih mulus sang adik.
"Kamu pasti kuat sayang, abang bakal berusaha sebisa abang disini. Kamu janji ya sama abang kamu juga harus berusaha berjuang di dalam sana" gumam edden dengan mata yang kembali memanas menahan air matanya agar tak jatuh.
Edden membalikkan badannya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding bercat putih itu, dipandangnya seluruh teman temannya yang masih setia menunggu disana.
Begitu juga dengan aziel dan bundanya masih setia duduk disana menunggu kabar baik dari perkembangan aileen.
Edden mendekat dan duduk disamping aziel, ia menepuk pundak aziel dengan pelan " ajak yang lain pulang" ucapnya dengan suara serak karena laki laki tampan itu habis menangis.
"Tapi bang-"
"Gue gkpapa, sekalian ajak bunda buat istirahat" potong edden cepat .
Dengan terpaksa aziel sebagai wakil ketua Bruiser menyuruh anggotanya yang lain untuk pulang dan beristirahat sesuai perintah edden.
"Kalian pulang aja istirahat, dan untuk yang kita bicarakan tadi di kantin tolong secepatnya bergerak dan jangan lupa untuk terus waspada"
"Ziel lo yakin nyuruh kita kita pulang" tanya kiki yang merasa kalau pun mereka tetap tinggal di rumah sakit pun tak masalah, apa lgi ini untuk menemani sang leader.
"Bang ed yang nyuruh" jelas aziel yang sebenarnya ia juga enggan untuk meninggalkan laki laki itu sendirian disini, apalagi melihat tangisan laki laki itu yang tampak sangat terpukul tadi membuat aziel sangat kawatir.
Ia pun belum tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia mencoba untuk tenang dan memahami keadaan saat ini.
"Oke, kalo ada apa apa langsung kabarin kita semua ziel. Kita bakal siap siaga dua puluh empat jam" ucap fajar yang langsung bangkit dan disusul anggota lainnya mulai meninggalkan area rumah sakit.
Aziel menghampiri sang bunda yang masih duduk dengan wajah sedih nya .
"Bun" panggil aziel pelan sambil mengusap lengan bunda nya.
Mengerti dengan apa yang akan dikatakan oleh sang anak, dengan cepat wanita paruh baya itu menggeleng kan kepala nya pelan dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Bunda pulang ya, ed bisa kok jaga aileen. Bunda istirahat aja, kalo aileen liat bunda sedih kaya gini pasti dia bakalan gk suka" edden menggenggam erat tangan wanita itu.
Hatinya tiba tiba rindu dengan tangan wanita yang telah melahirkannya dan membesarkannya, dengan sebisa mungkin edden tersenyum kearah nya dan mencoba meyakin kan bahwa semuanya akan baik baik saja.
"Bunda pengen disini jagain aileen dan nemenin kamu" ujar wanita itu kekeh .
"Nanti kalo aileen sadar ed langsung kabarin bunda deh, sekarang bunda harus istirahat. Besok pagi bunda harus bawain ed bekel kaya tadi, kali ini ed request mau sup ayam buatan bunda. Kata aileen sup ayam buatan bunda enak".
"Tapi kamu gimana-"
"Ed bisa jaga diri bun" potong edden cepat, tak ingin membuat wanita itu sedih ed langsung memeluknya dengan erat.
"Makasih ya bun, ed selalu ngerepotin bunda sama aziel. Ed bakal jadi kakak yang baik buat aileen ed janji bun" ucap nya dengan suara bergetar menahan tangis.
Membalas pelukan edden dengan erat, dan mengusap punggung anak laki laki di depannya yang tampak bergetar.
"Kamu gak ngerepotin sama sekali, kalian semua udah bunda anggap anak bunda" balasnya dengan suara tak kalah bergetar.
Edden melepaskan pelukannya dan menghapus air mata diwajah wanita cantik berhati malaikat di depannya ini.
"Makasih bun, sekarang bunda harus pulang dulu. Besok bunda harus kesini bawain ed sama aileen sarapan, aileen bakalan cepet sadar dan dia bakalan makan makanan buatan bunda dengan lahap"
"Kalo ada apa apa langsung kabarin bunda okey" balas nya dengan mata berkaca kaca.
"Siap bun" balas edden sambil tersenyum.
"Ziel jagain bunda" edden berkata sambil menundukkan kepalanya dalam, ia malu seharusnya tak mengatakan ini pada aziel.
Jelas aziel akan menjaga bunda nya karena wanita itu adalah orang tuanya.
Aziel memeluk edden, menganggap laki laki itu adalah kakak nya. Manjadi anak tunggal membuat aziel dan dapat merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara kandung seperti edden dan aileen.
"Lo juga jaga diri baik baik bang, kabarin kalo ada apa apa okey" ucap aziel kemudian melepaskan pelukannya.
"Makasih" balas edden sambil tersenyum.
"Yaudah bunda pamit ya ed, kamu juga jaga diri"
"Pasti bun" balas edden cepat.
****
__ADS_1
Sepulang dari rumah sakit anggota Bruiser tak langsung pulang kerumah nya, mereka memilih berkumpul di markas mereka.
Selain markas bagi anak anak Bruiser itu adalah rumah kedua mereka.
"Bang ed ternyata bisa sesedih dan se terpukul itu ya" celetuk evan yang duduk disofa sambil menyenderkan tubuh nya.
"Biasanya liat bang ed datar dingin, terus tiba tiba liat sisi lain nya bikin gue ikutan sedih njirr" balas kiki sambil menatap langit langit markas mereka.
"Bang ed juga manusia biasa anjirr, dia bisa aja kejam dingin datar sama musuh nya sama kita kita juga tapi gak mungkin kan dia bakalan kita juga sama keluarga nya" jelas fajar .
"Kalian hati hati sama raka, gue denger denger dia tau kalo aileen adik edden itu dari salah satu temen sekolah kalian" ujar rio membuat yang lain terkejut.
"Hah serius bang!!" Kaget kiki langsung bangkit dari duduk nya.
"Tapi gue gk tau siapa orang yang udah bocorin identitas aileen dan kerja sama sma raka, yang jelas kita harus waspada kali ini".
"Brengsek siapa bedebah itu!!" Geram evan mengepalkan kuat tangannya.
"Kita harus bikin raka jera kali ini bang" ucap fajar dengan serius.
"Gue setuju, bila perlu langsung kita eksekusi aja tu orang" balas kiki dengan menampilkan senyum devil nya.
****
Dirumah sakit edden tak henti henti nya merapalkan doa dalam hatinya, pikirannya melayang kembali ke masa lalu saat mereka masih berusia delapan tahun sedangkan aileen berusia enam tahun.
Flashback on~
"Abang ai mau num susu" ucap bocah berusia enam tahun itu meminta sang abang untuk mengambil kan susu di dalam kulkas.
"Adek mau susu?" Tanya sang abang menatap adiknya yang duduk manis disofa sambil menonton tv.
"Iyaa abang" balas nya sambil mengangguk anggukan kepalanya lucu.
"Oke deh, abang ambilin "
Di dapur edden tampak bingung mencari susu kotak yang disediakan sang bunda di dalam kulkas.
"Loh kok susu nya gk ada sih" bingung edden sambil menggaruk garuk kepalanya .
"DEK BUNDA SIMPEN SUSUNYA DIMANA??" Teriak edden dari dapur.
"DI TEMPAT BIASANYA ABANG!!" balas aileen ikut berteriak.
"Apa jangan jangan stok susu nya abis" batin edden .
"Dek susu nya abis, kayaknya bunda lupa beli deh" ucap edden mendekati sang adik yang menampilkan wajah cemberutnya.
"Iss adek ngantuk abang" rengeknya dengan mata berkaca kaca siap meluncurkan tangisan lucu nya.
Edden yang bingung pun tak tahu harus berbuat apa, bunda nya sedang pergi dengan sang ayah jadilah mereka ditinggal berdua saja dirumah.
"Abang buatin teh aja ya" bujuk edden agar adiknya ini tak menangis.
"Endak mau abang huwaaa" edden meringis mendengar suara melengking sang adik, kupingnya terasa berdengung.
"Syutt adek gak boleh nangis dong kan udah besar, katanya mau ikut abang sekolah" rayu edden agar aileen cepat diam.
"Hikss hiksss ta tapi adek auss abang, mau minum susu" tangisnya mereda tapi sesenggukan.
"Cup cup sayang" edden memangku tubuh kecil sang adik , dan mengusap usap rambut hitamnya dengan sayang.
Aileen sudah berhenti menangis dan matanya pun mulai tertutup, mungkin karena ia mengantuk jadi tadi rewel pikir edden sambil memperhatikan wajah imut sang adik.
Edden yang mulai ikut mengantuk pun memejamkan matanya dengan posisi duduk bersandar disofa dan memangku aileen.
Belum lama edden menyelami alam mimpi, tubuh aileen nergerak gelisah dalam tidur nya sehingga membuat edden harus terjaga.
"Syut syutt syutt" ucap edden menepuk nepuk punggung aileen agar aileen tidur dengan tenang.
"Abang" ucap aileen pelan dengan mata masih tertutup.
"Hemm" balas edden menatap aileen .
"Mau susu" rengeknya lagi.
Edeen kecil menghela nafas berat, umurnya yang baru menginjak delapan tahun itu sudah bisa menjaga adiknya dengan baik.
"Bunda sebentar lagi pulang beli susu, gimana kalo sekarang abang buatin teh manis dulu" ucap edden dengan lembut.
"Pake dot ya abang" balas aileen kemudian membuka matanya menatap edden.
__ADS_1
"Okey" edden tersenyum manis dan mencubit hidung mungil aileen dengan gemas.
Aileen yang masih polos itu pun dengan antengnya duduk di meja makan memperhatikan abang nya yang sibuk membuat teh untuk nya.
"Abang itu apa?" Tunjuk aileen pada wadah gula yang edden pegang.
"Ini gula sayang" balas edden menunjukan isi yang ada di dalam wadah tersebut.
Aileen manggut manggut sambil memegang boneka kelinci kesayangannya.
"Taraa udah jadi" ucap edden membawa botol dot berisi teh yang telah ia buat.
"Wahh abang hebat" seru aileen antusias menerima botol dot berisi teh itu.
"Sini gendong, abis ini bobo ya" aileen merentangkan tangannya siap untuk di gendong abang kesayangn nya ini.
" Enak " gumam aileen dengan mulut yang berisi dot.
****
"Bunda!!" Teriak aileen berlarian kearah sang bunda yang baru saja pulang .
"Jangan lari lari dek nanti jatuh" peringat edden yang sama sekali tak didengar oleh adik nya.
"Loh loh kenapa kok lari lari" tanya sang bunda yang langsung membawa aileen dalam gendongannya.
"Kangen bunda ih" ucap nya sambil cemberut.
"Uluhhh uluhh baru sebentar masa udah kangen" goda sang bunda.
" Bunda lama aibgak suka" ngambeknya mengerucutkan bibirnya.
"Bunda beli susu?" Tanya edden menghampiri sang bunda yang sudah menggendong adiknya.
"Astagfirullah bunda lupa bang kalo susu adek kamu abis" balas sang bunda sambil menepuk jidatnya.
"Tadi abang bikinin ai teh dalem dot" adunya pada sang bunda.
"Oh ya, wah abang pinter banget. Besok pagi pagi bunda beliin susu yang banyak okey"
"Okey bunda".
"Abang udah makan?" Tanya nya pada anak sulung nya itu.
"Udah bun"
"Abang pinter banget sih" gemas nya kemudian mengusap usap rambut anak laki lakinya dengan sayang.
"Abang pinter banget bun, besok adek mau ikut sekolah abang biar pinter kaya abang" ucap si bocil yang selalu ingin ikut abang nya kemana pun.
Pernah suatu hari aileen menangis histeris ingin ikut kesekolah, alhasil edden membawa nya kesekolah.
Walaupun sudah dibujuk oleh sang bunda tetap saja si kecil aileen tetap ingin ikut abang nya.
Flasback off~
Lamunan edden pun seketika buyar saat suara suster dan dokter berlarian masuk ke dalam ruangan aileen.
Edden berusaha masuk untuk melihat keadaan sang adik.
"Maaf mas tolong tunggu diluar, dokter sedang menangani pasien" cegah sang suster.
"Apa yang terjadi dengan adik saya sus" panik edden .
"Nadi nya lemah"
Dumnn!!
Bagaikan disambar petir tubuh edden jatuh luruh kebawah dengan lemas.
"Nadinya lemah" gumam edden dengan suara pelan.
"Gk, gk mungkin. Ail pasti baik baik aja" tangis edden kembali terdengar.
"Ai pasti kuat, ain anak pinter" isaknya dengan pelan.
" Sus tolong adik saya , lakukan yang terbaik"
"Kalau begitu tolong anda tunggu disana saja, dokter sedang menangani adik anda".
Sudah sejam edden menunggu dengan gelisah, suhu tubunya kini meningkat. Seperti laki laki itu demam karena kelelahan.
__ADS_1
Tapi sebisa mungkin edden tetap kuat demi adik nya.