AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
DI USIR MERTUA


__ADS_3

"Diah, kenapa diam?"


"Ga apa, pemotretan iklan udah selesai. Akhirnya gue bisa cuti. Gue hanya ga sangka aja, lawan satu group management. Mempertemukan gue sama mas Fariz dan madunya."


"Serius, dia bilang apa tadi. Gue kasih peringatan ya sama cewe itu."


"Sin, semua salah gue juga. Gue emang terlalu gila kerja, ga terbiasa hidup tanpa kesibukan. Andaipun mas Fariz ga normal dia nikahi Mira. Gue ikhlas! lagi pula kalau mas Fariz berhenti sama madunya. Apa mungkin gue bisa terima lagi, suami yang udah nikah lagi tanpa sepengetahuan kita tahu. Belum lagi gue masih kebayang, bakal jadi toxic kalau gue dan Fariz bersama lagi. Saat anak gue lahir pun! bakal terus kebayang gimana gue dan Fariz yang bakal ungkit masalah terus. Jadi gue putusin minta cerai aja apa ya?"


"True, gue paham apa yang lo rasain." Sinta menyabarkan. Saat itu juga Sinta dan Diah berpisah, akan kerjaannya masing masing.


Saat di belakang layar, Fariz menemui Diah memohon ampunan. Ia sudah sadar apa yang terjadi. Belum lagi ia semakin tidak bisa berkompromi akan dibawa kemana hubungannya dengan Mira. Fariz merasa bersalah dan bingung untuk kembali pada Diah, tapi satu hal Fariz sedang mencari bukti untuk saatnya tiba ia kembali menemui Diah.


'Maafkan mas! Diah, mas bersalah sama kamu. Semua karena mas bodoh, tidak bisa tegas. Mas sadar, tapi mas terikat suatu hal yang mas harus bersamanya. Mas janji akan bekerja keras, asalkan kamu berhenti kerja.'


'Cukup mas! Terimakasih atas delapan tahun kita menikah, kita juga menanti anak, dan tumbuh momen indah bersama. Terimakasih juga atas momen manis yang pernah kita jalani. Jangan cari aku! meski kamu selesai dengan Mira. Itu sudah cukup membuktikan, rasa sayang dan pengorbanan setiap pasangan di mataku. Kita memang tidak berjodoh lama. Atau kita hanya saling berfikir memikirkan apa yang terbaik.'


'Mira, dia punya riwayat sakit jantung! jika aku menggugatnya sekarang. Maka aku akan bermasalah dengan hukum, dia akan berhenti bernafas dan semua karena aku. Mas sedang mencari saksi untuk mas membela, agar mas menggugatnya. Jadi mas mohon, Diah! tunggu mas! jangan bercerai, mas ingin posisi Mira ada pada mas.'


Deg. Begitu kejam, ucapan Fariz menjelaskan.


Diah masih mengingat obrolannya dengan Fariz. Ia kini mulai mengepakan cara, bagaimana ia bisa bertahan hidup dan bahagia kelak. Tanpa bayang bayang sakit dan luka yang di torehkan mas Fariz. Delapan tahun pesta pernikahan, sudah cukup membuat momen indah yang dilakukan Fariz. Dan itu cukup untuk memutuskan.


"Aku tidak akan mundur untuk memberikan kamu kesempatan mas." gumamnya.


Sementara Fariz duduk terdiam. Ia memicingkan senyuman, lalu menatap ponselnya yang berdering dari Mira. Tak lama ia melanjutkan kembali melangkah, hingga membuka gagang pintu mobilnya agar terbuka.

__ADS_1


Fariz duduk lalu menyalakan mesinnya, ingin sekali ia melakukan pedal gas dengan kencang, melewati taksi yang di naiki Diah. Dengan wajah geram dan keringat mengepal, ada rasa benci yang muak melihat ke pura puraannya saat ini. Ia sadar telah gagal menjadi pria yang melindungi Diah, ia telah menorehkan luka yang sulit Diah lupakan. Hanya karena Diah bekerja dengan gaji yang lumayan, Fariz merasa tidak adil bagi seorang suami, maka bersama Mira adalah jembatan kesepiaannya saja.


"Kamu tidak tahu aku. Diah jangan pernah menasehatiku, siapa kamu. Kamu hanya orang kepercayaan orangtuaku, bagaimana bisa kamu menceramahiku seperti tadi! sementara aku juga korban."


Diah pun sadar, ia menoleh ke arah jendela kanan. Lalu menatap mobil Fariz yang berlalu kencang, melewatinya hampir menyerempet.


"Astaga. Orang kaya tidak tau aturan! Jika saja saya punya jantung. Bisa celaka ini." supir taksi menggeleng kepala. Menatap spion ke arah Diah yang terdiam.


"Tak apa pak. Saya juga terkejut, mungkin pria itu tadi sedang buru buru. Bagus kita tak apa kan?" Diah sedikit mengeles dan menutupi wajahnya.


"Ya. Buru buru, orang zaman sekarang hanya terlalu sibuk. Tetapi membahayakan nyawa orang lain. Tidak patut ditiru. Jika tadi saya berhenti dan mobil itu berhenti, sudah pasti berlanjut Non." senyumnya.


"Iy pak, lanjutkan saja pelan pelan bawanya. Saya tidak buru buru juga kok." pintanya, ia menyandarkan posisi duduknya.


SETIBANYA DI KANTOR.


"Kenalkan. Saya Desi, ini dari pak Ray. Jika butuh sesuatu, saya ada di meja sudut belakang. Tapi saya juga masih baru, jadi hiraukan tatapan senior ya!"


"Oh. Begitu ya, baiklah. Saya Diah." senyum berjabat tangan.


Diah yang meneruskan pekerjaannya. Ia menatap dering pesan dari rumah sakit. Diah membacanya dengan menghela nafas, ia sadar dirinya telah benar benar kehilangan Fariz. Lalu terlihat tagihan dirinya beberapa hari lalu berada di rumah sakit, Diah memang tidak mempunyai kartu keringanan ketika berobat. Apalagi dirinya mungkin sudah bukan tanggungan Fariz. Dimana Diah selalu mengeluarkan biaya dengan nama Fariz, aslinya dialah yang berjuang keras.


'Jangan menangis Diah. Tagihan rumah sakit ini mungkin masih bisa di cicil. Jangan menyerah, keselamatan adalah yang utama. Abaikan masalah yang datang. Semua pasti akan berlalu!' deru batin, menyemangati dirinya sendiri.


Saat Diah tersenyum, ia senang karena pekerjaannya yang akan berakhir. Detik detik ia cuti, Diah harus bekerja siang sampai malam, terlebih sampingan project iklan.

__ADS_1


"Tolong periksa berkas ini, ingat saat ini juga saya tunggu. Dua jam bisa kan, cepatlah!" ucap Ray acuh.


Diah mendengus nafas panjang. Ia menatap delapan tumpukan berkas hitam. Ia menatap langit tembok dan lampu kantor yang berada di atas kepalanya, menatap seisi ruangan dan menatap meja lain yang telah berkemas ingin pulang.


"Aaakh! ini sudah waktunya jam pulang kerja, hari hari akhirku, mengapa seburuk ini. Aku akan pulang jam berapa. Dasar Ray gila, mana bisa urus semua ini dalam dua jam."


Tak ada hal lain, ketika semuanya telah pulang. Menyisakan dirinya dan ruangan bos yang menyala. Diah tetap serius dan mengabaikan pesanan makanan dari sahabat.


Sudah sampai rumah, hingga larut. Diah membuka kunci, setelah itu ia menyalakan lampu.


Cetrek.


"Wah, wah .. benar benar menantu macam apa ini? pulang jam satu malam. Diah kamu mau bikin mertua kamu di gunjing ya?" teriak ibu mertua kencang, seolah ingin membangunkan tetangga.


"Bu, maaf. Diah lagi lagi harus lembur. Diah juga mau ambil pakaian disini, karena Diah akan ngontrak. Dengan begitu ibu ga perlu nunggu Diah juga kan."


"Heh, enak aja. Suami dimana kamu dimana, dasar istri gak tau aturan. Kenapa enggak cerai aja si Fariz, sama perempuan nakal kaya kamu."


"Bu, Diah kerja Wo. Dimana jam kerja sering lembur dadakan, kok ibu tega."


"Menantu kaya kamu bikin malu. Pergi aja sekalian sekarang juga! ga usah tunggu Fariz." usir ibu mertua, dimana kala itu ada jemuran pakaian Diah, di lempar ke wajah Diah mengenai kening.


Plang.


Diah pun di dorong hingga keluar, dimana Diah terjatuh, dan pakaian Diah disusul tanpa tas, saat itu bagai hina nya Diah saat ini.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2