AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
INGIN SEUTUHNYA


__ADS_3

Sudah minggu ke dua, Diah masih tidak sadarkan diri. Tidak luput Fariz menuntun harapan, jika Diah siuman. Ia ingin berjanji akan menjaga Diah sampai sembuh dari sakitnya. Hal itu juga ia sudah memutuskan pada Mira, meski Mira kala itu kelu tidak membalas sepatah katapun, padahal ia sudah berhasil merebut Fariz dari Diah.


Saat ini pun Mira rasanya lemas untuk menuntut! bahkan rasa mual dan muntah muntahnya membuat Mira menyempitkan, jika dirinya butuh bang Fariz tapi ia sembunyikan. Hingga dimana Mira harus mencari cara, untuk perhatian lebih Fariz memperhatikannya saja.


'Jika takdir istri kedua, sebagai madu adalah mengalah. .Aku ikhlas mbak! Mira ingin mbak Diah sembuh, tidak ada harapan bagi Mira, melihat bang Fariz tersenyum lagi, tapi memastikan mbak Diah semakin sakit hati. Hah, Mira yakin, kebahagiaan bang Fariz adalah aku nantinya.' batin Mira sesekali menoleh ke ranjang rumah sakit, yang saat itu Fariz disampingnya sedang bergumam.


"Ndok, jika tidak kuat. Sebaiknya pulang saja!" ujar ibu.


"Ga bu, Mira masih ingin disini."


"Tidak baik kamu memaksa ndok! kasian bayi kamu di dalam perut juga harus di pikirkan. Apa sebaiknya ibu bilang Fariz?"


"Jangan bu! Mira ga mau ganggu, bang Fariz!"

__ADS_1


Mira saat itu terlihat pucat, Fariz yang selesai pun menoleh.


"Ayah paman, bunda kapan siuman ya?"


"Sabar sayang! bunda pasti siuman kok. Hanya saja bunda saat ini sedang lelah, bunda ga boleh capek. Jadi pencipta minta bunda tidur sejenak, kita berdoa. Paman yakin, bunda sebentar lagi siuman."


Mel yang memeluk bunda Diah, tiba saja terdengar suara Mira di sebelah, membuat Mel ketakutan saat ia berdiri. Fariz menoleh hampiri Mira kala itu, terlihat juga ibu mertuanya menyangga Mira.


"Bu, Mira kenapa ..?"


"Mel biar panggil suster ya." reflek anak cantik itu, yang tidak ingin semua bundanya sakit.


"Iya sayang. Makasih."

__ADS_1


"Ibu udah minta Mira pulang, dari kemarin dia muntah ga mau makan. Ibu mau bilang sama kamu, tapi Mira melarang. Jadi ibu bingung Fariz."


"Astagfirullah! biar Fariz gendong bu! Maafin Fariz ya bu, kalau ada apa apa. Fariz minta tolong ibu jangan sungkan, meski Mira melarang!"


Ibu Ana mengangguk, ia sudah sedih melihat putri satu satunya bernasib seperti ini. Sehingga kala itu Fariz menggendong dan membawa ke ruang igd, kala suster membawa ranjang. Terlihat Mira masuk ke dalam, tak lupa Fariz menciumi jemari Mira sebelum pintu igd tertutup.


"Mira! kamu dan Diah sama rata, mas tidak membedakan. Abang masih belajar menjadi suami yang adil, abang mencintai kamu dan calon anak kita ini!" lirih Fariz, yang mencintai Mira, namun tak bisa dipungkiri ia juga tidak mau melupakan Diah.


Mira sendiri yang masih setengah sadar menahan sakit, ia senyum ketika mulut Fariz mengucapkan hal yang membuat Mira terbalas. Menetes air matanya membuat Mira mengucapkan syukur. Tapi ia ingat mbak Diah, mungkin rasa sakitnya lebih parah dari yang Mira alami.


'Jika aku ditakdirkan kembali lahir, Mira ingin menjadi istri satu satunya Fariz Apapun alasannya, Mira tidak ingin bahagia di atas penderitaan istri pertama. Maafkan Mira mbak Diah, terlalu mencintai bang Fariz membuat diri Mira cemburu, sakit melihat bang Fariz menemani mbak Diah, dan Mira tidak ingin terus berlanjut di depan mata Mira.'


TBC.

__ADS_1


__ADS_2