
Dalam bekerja, Diah masih saja kepikiran akan Fariz, karena gimanapun diah itu tetap suaminya. Masih suaminya, keberadaan Diah yang kali ini ikut terjun menjadi Wo catering, ia harus mengantar beberapa permintaan bersama pak Ray, dimana Ikhsan kali ini berada di tempat berbeda.
Apalagi saat ini, Diah bersama dengan Wo dekor, dimana Diah ikut bergabung untuk bekerjasama memberikan permintaan taste rasa.
Kerja tiap hari, di anter lelaki. Mirip perempuan yang berpakaian mini kamu Diah, apa lagi kamu kalau pulang malam.
Ish, Diah menutup mata dimana ingatan menyakitkan ibu mertua, selalu saja negatif padanya. Padahal dirinya benar benar pyur bekerja.
"Tunggu disini Diah. Saya akan kembali!" ujar Ryan, di saat menyetir terhenti, otomatis lamunan Diah pun buyar akan masalah rumah tangganya.
Beberapa puluh menit, Diah cukup tersipu akan aksi Ray, yang menyiram air untuk kaca mobilnya. Lalu menyemprotkan berkali kali pembersih untuk noda kuning telur. Hingga di mana, perhatian yang sedikit berhenti menatap aksi pria macho sedang membersihkan kaca mobil.
"Astaga. Apa selain bos Dekor, dia juga hobi memamerkan roti sobek. Memang benar, tubuhnya sangat ideal perfect. Tapi jika aku wanitanya. Haa .. lihat saja, aku akan makan hati kelak. Tak jauh beda dengan mas Fariz." gerutu Diah, yang ingin turun tapi takut ibu mertuanya lewat, dimana ini adalah gang dekat perumahannya.
"Ah. Kenapa aku jadi serba salah, harusnya aku membantu membersihkan. Agar tidak ada wanita dan ibu muda yang berhenti di depan mobil. Sungguh ini bukan lelucon, atau sebuah Atraksi yang harus di pertontonkan. Tapi kalau ibu mertuaku lewat sini, dari pasar. Pasti bakal keributan aneh aneh deh." sebal Diah, ia ingin segera sampai rumah.
Ray, yang sedikit lagi hampir selesai, ia ingin memeras kanebo dari tangannya, namun di hentikan oleh tangan indah Diah. Hingga di mana ia terkejut. Karena Diah membantunya.
"Hei, kenapa kau turun?"
"Haah, agar cepat selesai pastinya. Memang apalagi, aku di dalam saja membuat sakit mata. Lihatlah! Terlalu banyak orang mengelilingi bukan?" menatap Ray.
Ray tersenyum, bahkan ia tak sadar jika banyak orang yang melihat dan senyum senyum melambaikan tangan. Hingga di mana ia menatap wajah Diah yang sedikit lucu.
"Apa kamu cemburu?"
"Aku. Heeuh .. mana mungkin. Sudahlah, ini selesai, setelah ini kita mampir ke tempat cuci mobil bagaimana pak! saya sudah cukup terlambat ini daerah dekat ibu mertua saya sering ke pasar."
"Oh, ibu mertua ya. Ya udah, habis ini kita pertemuan dulu, ikhsan udah kasih tahu kan. Kamu pasti lembur." ujar Ray datar.
"Pertemuan?" Diah menohok kaget, kala beberapa mobil bus karyawan melintas.
__ADS_1
Astaga .. teriak Diah. Dengan sadar Ray, melirik tatapan di mana Diah lihat, hingga di mana ia menutup wajah Diah dengan kanebo dan menarik nya untuk masuk ke dalam mobil.
"Aaaakh. Bau sekali, ueeeeek. Uuuuuuueeek." melempar kanebo ke sembarang.
Diah masuk!! dan Ray, menatapnya yang mual mual.
"Kenapa. Kamu ga enak badan?"
"Uuuueeek .. uuuuueek, dasar bos jahat."
"Auuuw. Kenapa memukulku?" tanya Ray.
"Pake tanya kenapa, bukankah bapak sengaja. Bapak tahu aku hampir mati dan muntah muntah. Anda tutupi wajah saya dengan kanebo bekas lap kuning telur?"
"Owh. Saya tidak bermasud .. hanya saja tadi kamu yang mengageti aku duluan, sumpah ga sengaja Diah."
"Peeea. Dasar bos gila, bagaimana bisa ia menutupi seorang wanita dengan kanebo kotor." gerutu Diah, memang saat itu Ray berhenti kala kaca mobil terkena timpukan telur mentah, dari orang gila.
Ray, pun membuka singlet, lalu memakai kembali kemejanya. Hingga di mana ia kembali menyetir ke suatu tempat. Meski dalam perjalanan ia sempat meminta maaf berkali kali. Tapi Diah hanya diam tak menanggapi.
Diah terhenti kala di sebuah butik. Lalu ia ikut turun ketika Ray, membuat kode untuk dirinya segera keluar. Hingga ia terpaksa turun, namun menatap Ray memberikan kunci mobilnya pada asistennya.
Diah pun terpisah, kala Ray pergi ke sebuah ruangan. Sementara ia di hampiri beberapa pelayan butik dan memintanya untuk mandi dan akan berhias dengan sebuah gaun.
Satu jam kemudian, Diah hanya menurut. Ia bingung akan banyak pertanyaan. Ia harus kemana, tapi lelahnya menjadi penat saat sebuah ponsel berdering, tanda pesan masuk.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.
Diah pun telah cantik dengan gaun berwarna navy. Hingga di mana, ia menatap cermin apakah ini dirinya. Ia menatap dress code dengan kerlipan dan sedikit memanjang belahan itu hingga menepi di atas lututnya sebelah kanan.
"Astaga apa ini tidak berlebihan. Sebenarnya aku akan kemana. Apa bos gila itu akan meminta makan malam. Lalu seperti di film romansa dan menginap di hotel lalu .. Aaakh, melakukan .. uuups." Diah menutup wajahnya, yang sedang membaca adegan iklan.
__ADS_1
Benar bekerja membuat otak Diah, serasa di ratukan. Dibanding ia harus di rumah, melihat mas Fariz dan istri barunya, apalagi mertuanya juga.
CEETEEEGH.
Diah terkejut saat keningnya di sentil oleh Ray.
"Apa yang di pikirkan. Cepatlah keluar! nanti terlambat!"
"Hah. Saya tidak memikirkan apapun, hanya saja saat tadi. Aku berfikir, jika kita akan double date, dalam iklan preweding kan?"
Ray menertawai kepolosan Diah. Hingga di mana, ia meminta untuk Diah tersenyum dan tak berfikir bukan bukan.
Ray menarik tangan Diah. Meski seluruh pelayan menunduk hormat. Mengucapkan rasa terima kasih. Hal itu, membuat Diah sedikit malu, untuk sikap manis pria yang sedang menggandengnya.
Hingga beberapa jam kedepan, project iklan bareng bersama Ray. Diah senyum, karena telah selesai dalam pekerjaan pertamanya. Bahkan job Diah mengurus catering dan Ray Dekor di terima baik, dimana mereka akan sering terlibat bersama.
Masih menatap jalan yang lurus, tidak padat dan tidak juga terlalu lancar. Hingga mereka menepi di sebuah hotel berbintang yang mewah.
"Pak. Kita ke sini?"
"Ya. Di atas lantai sembilan puluh tujuh, adalah area aula beberapa rekan bisnis kita bertemu. Aku harap kamu tetap menahan rasa sedih, atau cemburu mu pada seseorang yang mungkin kamu kenal! Ingat, kita itu partner kerja, dimana Catering Kamu dan Dekor aku dapat jobs besar. Anggap saja, kerjaan kita ini jalan jalan membujuk klien suka."
"Hah. Apa maksudnya?" lirih Diah.
Tak sadar, Diah mengikuti gerakan Ray. Hingga naik lift dan menepi di sebuah lantai empat puluh lima berhenti.
Diah di kejutkan dengan mas Fariz dan wanitanya. Rupanya mereka bertemu dalam management yang sama, terkait konflik dan kerjasama melibatkan mereka berdua. Yakni Diah dan Ray.
"Kenapa, kamu ga berani masuk," tanya Ray, menatap Diah.
"Kenapa ada Fariz?"
__ADS_1
"Mira itu wanita di sebelah suami kamu, dia ikut kerja sama perempuan itu. Dia bisa dikatakan musuh Wo kita, dia bisa saja menyabotase klien kita." ujar Ray, membuat Diah terdiam.
Tbc.