
Diah kembali satu minggu dari pekerjaannya, yang ia dapati adalah saat pulang ke rumah. Fariz tersenyum dan membuat mata Diah lelah berkali kali.
"Sudah pulang, jual dirinya sudah berakhir?" sambar suaminya, dengan menenteng kopi hitam di cangkir, di balik pintu.
"Mas, aku itu kerja. Bukan jual diri. Kamu tega sama istri kamu mas?"
"Diah, istri macam apa. Kamu sering pergi pergian, tidak ada waktu untuk suamimu sendiri. Kamu lupa kewajiban seorang istri itu apa, belum lagi kamu benar benar gila ya. Lihat foto kamu sama manager kamu ini!"
Diah melihat satu foto itu, ia begitu terkejut karena itu adalah fotonya saat menolong mas Ikhsan. Dimana mertuanya lupa, jika Ihsan adalah sepupu sang ibu, bahkan Fariz makin memanas manasin saja, setiap hari. Pulang kerja, malah di buat dengan sebuah masalah. Sungguh hidup Diah, benar benar dalam neraka.
"Mas, itu aku sedang nolong mas Ikhsan. Ternyata mas Ikhsan kena serangan jantung. Benar aku jujur, tidak bohong mas. Kamu lupa kalau Ikhsan itu sepu .." terpotong.
"Tahu, manager selingkuhan kamu kan. Sepupu jauh, bisa aja yang ada tetap di embat." oceh Fariz membuat Diah geram.
"Benar itu diah?" ujar ibu mertua, sedikit menjambak rambut Diah.
"Aw, sakit bu. Diah ga bohong kok." menahan sakit rambutnya.
"Halah, banyak sekali alasan kamu itu Diah. Kenapa kamu lakukan seperti ini. Mau balas mas dengan Mira. Pokoknya keputusan aku adalah, aku akan nikahi Mira. Kamu silahkan bekerja terus menerus."
"Mas, aku gak mau di poligami. Ceraikan aku saja mas. Aku bukan istri yang baik, tapi aku punya hati."
"Hati, kamu bilang hati. Ngomong sana sama tembok!" cibir Fariz berlalu pergi ke kamar, ia mendorong pintu dengan amat keras.
Braagh!
"Lihat, kalau kamu ga sibuk kerja. Anak ibu tidak akan berlaku seperti itu, dasar menantu ga tahu diri kamu Diah. Ga ada rasa syukurnya, kamu dinikahi sama putraku." sebal ibu Nur, dimana ibu mertuanya itu pergi.
Hati Diah, kembali tertekan dan lemas. Sehingga Diah duduk dan merapihkan segala isi dari tas kopernya dengan wajah yang sembab.
Di kamar lain, Diah membenamkan wajahnya di bantal sambil menangis tergugu. Sesekali ia memukul mukul bantal guling, Diah menumpahkan kekesalannya dan kesedihannya, sesaat Fariz pergi di saat Diah akan ke kamar menarik koper.
__ADS_1
***
Esok harinya, Diah yang sedang makan siang. Ia bergegas menuju loker dan tertegun akan sikap perkataan mas Fariz yang ingin menikah lagi dengan Mira. Mira sendiri memang teman kerja saat Diah berada di pabrik benang, namun syok kala bertemu lagi akan dijadikan suaminya sebagai madu, karena anggap Diah mandul.
"Kamu jahat, Mas. Jahat banget. Tega kamu sama aku, kenapa kamu sekejam ini." lirihnya.
"Siapa yang jahat, Diah?" ucap Ikhsan dari arah lain.
"Mas Fariz yang jahat," jawabnya tanpa menatap lawan bicara.
"Beri suami kamu itu hukuman, Diah. Maaf nih kalau aku ikut campur, sebagai saudara dan atasanmu!"
"Gugat aja sih Diah, buat apa terus bertahan tapi sakit!"
"Gak semudah itu, Ikhsan. Bahkan kemarin foto aku nolong kamu di rumah sakit tersebar. Aku tidak tahu, siapa yang buat isu itu. Padahal mas Fariz tahu, kamu itu sepupuan dari ibuku."
"Heran, suami kaya gitu masih kamu pertahanin. Ingat, jangan lepas kerjaan ini yang udah ramai kamu pegang, nyesel susah loh cari kerjaan." ujar Ikhsan, membuat Diah terdiam.
Diah mengangguk samar dan perlahan mengangkat kepalanya.
Diah terkesiap saat mendapati suaminya sudah berada di sisinya.
Berulang kali, Diah mengerjapkan mata dan menelusuri pahatan tampan dengan jemari lentiknya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa sosok Ikhsan yang berada di hadapannya itu benar benar Fariz, suami yang sangat dirindukan olehnya, ia berharap mas Fariz benar benar lembut seperti dulu.
"Mas Fariz, benarkah ini kamu?" nada suara Diah terdengar bergetar.
"Diah, sadar! ini gue, Ikhsan!"
"Ikhsan, ah. Maaf, gue lagi lagi ga konsen. Maaf ya!" ujar Diah.
"Diah, gue ngerti. Tapi kalau kamu lelah. Pulanglah, jernihin pikiran kamu saat ini! cinta buta itu namanya, sejahat itu suami kamu. Bahkan masih aja mikirin dia, belum tentu kan dia mikirin perasaan lo." cibir Ikhsan.
__ADS_1
"Gue izin pulang ya." ujarnya, membuat Ikhsan mengizinkan.
Diah mengangguk, ia pulang dan segera bergegas menemui mas Fariz. Ia ingin meminta mas Fariz berfikir ulang dan meminta mas Fariz mempertahankan pernikahannya.
Namun sampai di rumah, Diah membuka pintu. Ia kembali melihat mas Fariz bersama Mira bermain syantik. Hal itu membuat dirinya terkujur lemas tak berdaya. Jika hubungan pernikahannya sulit untuk kembali seperti awal.
Diah duduk, masih mendengarkan suara dibalik pintu. Yang mungkin Mira dan Fariz sedang berada di kamarnya.
Fariz tersenyum dan meraih kedua tangan Lantas ia mencium buku buku jari Mira.
"Iya Sayang. Ini aku. Calon suami yang sangat kamu rindukan dan merindukan kamu. Mas ingin sekali." ujar Fariz.
"Mas, tapi mbak Diah gimana?"
"Aku sudah bicara, kita akan segera menikah. Percayalah!"
Mira pun memeluk tubuh Fariz dengan erat dan Fariz pun membalasnya.
"Maaf Ya. Maaf telah membuat kamu menangis dan bersedih menunggu lama. Maaf telah membuat kamu merindu. Kita akan segera halal. Aku sedang mempersiapkannya."
"Aku memaafkanmu, Mas. Jangan pergi jauh dariku lagi! Aku mencemaskan kamu. Aku akan bicara sama mbak Diah, jika kita saling mencintai. Aku rela menjadi madu."
"Iya sayang, jangan khawatir!"
Fariz sedikit merenggang pelukan. Lalu ditatapnya lekat manik mata yang terbingkai titik titik air hujan, di luar jendela terlihat hujan deras turun. Tanpa menyadari jika Diah berada di depan pintu kamar dengan wajah sangat sedih, tertampar kenyataan. Jika dirinya sudah akan tergantikan.
"Apa aku harus merelakan mas Fariz menikah lagi." deru Diah berbicara dengan berlinang air mata.
Dimana kali ini, ibu mertuanya mengizinkan putranya yang belum halal membawa perempuan, dan diam saja di rumah.
'Imam apa yang aku jadikan suami, bahkan ia kumpul kebo di kamar yang notabane aku istri sah, dan dia wanita itu belum sah berada di kamarku.' batin Diah, serasa sesak.
__ADS_1
Terlalu dalam rasa cinta Diah, bahkan membuat mata hatinya masih ingin saja mempertahankan. Berharap Fariz mau mengulang, agar pernikahan ini tanpa ada orang ketiga dan kembali harmonis seperti dahulu.
Tbc.