
Diah telah meninggalkan suami dan kekasih calon madunya, begitu juga tatapan ibu mertua. Bagi Diah, dirinya hanyalah derita bagi keluarga Fariz.
"Tega kamu mas, aku berjuang mati matian untuk menghidupi semuanya. Tapi kamu dengan mudah bilang semua kamu yang cukupi?" isak tangis Diah dalam taksi. Apalagi mengingat sikap ibu mertuanya, yang Diah harapkan bagai malaikat, tidak seindah dalam novel yang pernah ia baca.
Jujur Diah pernah membaca, berjudul love my flaws hubby, dimana mertua yang sangat menyayangi menantunya, dibanding anak semata wayangnya yang menjadi suaminya, dimana berbanding terbalik dengan rumah tangganya.
Hingga beberapa jam, Diah tak angkat panggilan dari mas Fariz. Berkali kali, mungkin belasan panggilan tak ia angkat.
Di mana Diah berusaha fokus akan catering luar kota, sebagai bentuk bonus tambahan yang ia perlukan. Bagi Diah, ia harus memilih antara karier atau pasangan. Tapi Diah sangat mencintai mas Fariz.
Tak menyangka jika mas Fariz sangat keterlaluan padanya, hingga berkali kali ia melihat dengan mata kepalanya. Ia bersama orang yang ia anggap adik, malah khianat dengan suaminya sendiri.
"Fokus Diah, sebentar lagi sampai bandara. Bertemu pak Ikhsan, aku harus fokus pada pekerjaan. Harapanku adalah tetap berjalan pekerjaan." gumam Diah saat ini.
Keesokan harinya.
Melupakan suami di rumah yang bisanya bergumul banyak bicara, Diah saat ini bekerja dengan fokus pada usaha catering mengurus beberapa wo yang bekerja sama pada perusahaannya. Tidak sedikit langganan perusahaan Diah, dari pengusaha dan kalangan selebriti. Bahkan keluarga ningrat sekali pun memakai jasanya.
"Memang apa yang kamu pikirkan si Diah? bukankah mendapat pekerjaan itu baik? kenapa kamu berencana resign?" ucap ikhsan .
"Ak- aku ga suka melihat wajahnya menyebalkan mas ikhsan, apa aku sanggup bertahan bekerja disana. Bahkan saya udah lupakan saja pembicaraan saya tadi!" balas Diah.
Ikhsan adalah wakil manager Diah, jika tak ada orang lain, mereka memanggil sangat akrab. Bukan berarti mereka ada hubungan spesial, Diah dan Ikhsan masih sepupuan dari keluarga sang mama.
Ikhsan pun merahasiakan. Ia berusaha memberi semangat pada Diah saat ini.
"Lupain ajalah, banyak tugas kita bukan!"
"Ok bos." senyum Diah.
"Mas Ikhsan, ko melamun ada apa?"
"Enggak apa apa Diah, perlahan juga kamu pasti nyaman bekerja tanpa memikirkan suami gila kamu, maaf nih ya. Aku malu kalau jadi Fariz. Sekarang kamu naik ke lantai 17, bos baru kita tidak seseram yang kamu bayangkan!"
"Ok! baiklah." lemas Diah.
Namun Diah dalam batin berkata, semoga saja, tapi semenjak kejadian salah custumer beberapa bulan lalu, rampok pada acaranya kecolongan dan sang bos menyelamatkan orang yang salah, membuatnya ilfill, karena saat itu memalukan, dimana Diah dianggap orang luar yang merampok curian beberapa hantaran, dimana Diah saat itu karyawan baru.
__ADS_1
"Diah, maaf gue boleh tanya?"
"Heuum, soal apa?"
"Pria diponsel mu itu siapa?" tanya Ikhsan kepo, namun Diah terdiam dan menjawab.
"Suami pertama gue,"
"Apa, suami?" Ikhsan melemas dan mengigit jari.
Sehingga Diah tertawa menatap pandangan mas Ikhsan.
Hahaha, kagaklah. Dia aktor korea tahu, mana mungkin gaya ala korea, mau sama gue! tertawa Diah. Padahal ikhsan mencari tahu kedekatan dan masa lalu Diah, selain karena sesuatu tetapi suruhan memata matai Diah, apakah bibinya itu bahagia dengan pernikahannya.
"Kenapa kaget?" Diah tersenyum dan menepuk pundak ikhsan. Tapi sayangnya itu tidak terwujud, Doi kecelakaan dihari lamaran. Dia pergi lebih dulu, sama perempuan lain." jelas Diah, yang mengingat.
lalu Diah menampakkan kesedihan diwajahnya. Andai saja dulu tak jadi pergi jauh, dan selamat dalam perjalanan saat itu. Mungkin ia sudah hidup bahagia bersama seseorang, bukan mas Fariz suaminya kini. Benak Diah saat ini berada dalam zona kebingungan.
"Owh, maaf aku turut prihatin. Lalu kamu gagal menikah, bagaimana apa kamu baik baik saja setelah dia pergi Diah?"
"Eeeum! ga bisa dijelaskan secara detail ikhsan, disaat dia pergi juga ada satu ruangan bersebelahan kecelakaan yang sama, tapi entahlah aku ga bisa jelaskan karena aku fokus dan bersedih saat itu, yang jelas dia orang paling terbaik terindah, tapi adanya seseorang dia pergi ma tuh cewe."
"Benar, mas ikhsan. Memangnya kenapa?"
Tak lama Ikhsan merasa sesak dan selama sepuluh menit ia pingsan, Sehingga Diah meminta pertolongan dan beranjak ke rumah sakit dibantu security memapah ke arah taksi.
Mas Ikhsan, bertahan lah. Jangan seperti ini!
Dengan bantuan orang terdekat meminta bantuan. Diah segera melarikan ke rumah sakit managernya itu.
Satu jam kemudian dokter keluar.
"Apa anda keluarga pasien?" ucap dokter spesialis jantung. Ia menatap nametag dan terlihat dokter ahli jantung.
"Apa yang terjadi dokter?" Diah menayakan, lalu dokter memberi penjelasan.
"Maaf nona, mohon diperhatikan agar pasien lebih di perhatikan kondisi imun tubuhnya, jika keadaannya lemah, dan tidak boleh lelah serta sedikit panik. Tidak baik untuk kesehatan jantungnya."
__ADS_1
"Apa jantung dok?"
Diah terdiam, sejenak ia meninggalkan pekerjaan, dah di handle sementara oleh pihak kedua.
Ya apa anda tidak tahu, jika pasien ini, ya pak Ikhsan menderita jantung dan sedikit rabun penglihatan jika terlalu lelah, itu tidak baik. Mohon bantuan, dijaga ya nona, kalau begitu saya permisi!
Setelah dokter Anton berlalu Diah diam, dan mengingat akan seseorang dan menyalahkan dirinya sendiri. Diah tidak pernah tahu, jika sepupunya mempunyai riwayat penyakit komplikasi, padahal sepertinya baik baik saja jika dilihat, seperti orang sehat.
Apa yang salah dengan diriku. Mengapa kabar seperti ini aku tidak senang. Batin Diah yang duduk di depan kamar ruang pasien, Ikhsan berada. Jujur ikhsan sangat supel dalam cerita keluhnya.
"Sedang apa kamu disini tidak bekerja?" ucap dirut Steno.
Diah pun menaikan kepala dan menatap atasannya sudah ada dihadapannya.
"Oh, jadi beneran dia itu ga minta minta duit." cetus wanita di sebelah Steno.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Steno.
"Ah! aku sedang menunggu keluarga seseorang dari rekan kerja ku Pak, mas Ikhsan kantor yang berbeda lantai kami bekerja, sudahlah anda pergi saja untuk apa disini! saya akan menyelesaikan tugas yang tertunda tadi, atau anda menyusul karena saya meminta izin dan mau menghukum saya kesini kan?"
"Banyak sekali kamu bicara, saya kesini karena seseorang adalah teman baik saya. Pergilah kekantor selesaikan tugas yang tertunda! Wo sudah menunggu!" ketusnya, membuat Diah sebal, jika bertemu atasan beda perusahaan yang sok nge bos.
Diah pun terkejut mendengar perkataan pak Steco.
"Apa, di..?" Steco mulai mencerna beberapa hari lalu, pantas saja ketika saya makan bersama semua orang memandang berbeda.
Diah pun menoleh ke arah belakang, karena pembicaraannya terdengar juga menatap seseorang disampingnya yang tertawa kecil. Diah pun sinis pandangan.
"Awas berani menertawakan lagi kamu sok bos." ucap Diah.
"Hah!! taubat aku melihat wanita kejam seperti dia, pengawas catering saja belagu di perusahaan yang berbeda." ujar Steco, dimana setiap Diah bertemu dengannya selalu adu mulut, akibat tidak sejalan dalam decor dan menu makanan.
"Sepertinya anda tidak membutuhkan bodyguard pak Steco. Sudah ada nona itu?" ucap seseorang di samping Steco berbisik.
Namun Steco menatap Diah dengan tajam dan diam menutup rapat bibirnya.
"Hanya karyawan pengawas catering dan dekor, mana bisa aku berselera." sombong Steco yang sedikit benci pada Diah.
__ADS_1
Tbc.
Dukung Diah ya all.