
Mira sendiri sedikit gugup, entah bagaimana jika Ikhsan siuman dan ingat. Apalagi dirinya sedang membuat gugatan, agar dirinya dan ikhsan benar benar bercerai. Sejujurnya benih kandungannya kini adalah milik Fariz, sebab sudah sejak satu bulan ia tidak nyampur dengan Ikhsan, hanya saja ia kabur dan pergi mendapatkan Fariz dan dinikahi adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
Tapi Mira syok, ketika tahu jika suaminya itu partner kerja Diah, yakni istri bang Fariz saat ini. Sungguh, semoga keberuntungan hadir padanya, Mira tidak ingin semuanya kacau. Bahkan beberapa kali melihat pesan, dimana tak ada satu pun kabar dari perawat Ikhsan, karena Mira meminta sepupunya handle urusan dirinya dengan Ikhsan benar benar berakhir, sebelum Fariz dan ibu mertuanya tahu siapa dirinya.
Dari sudut manapun, Mira menatap cermin setelah membuka mukenanya. Terlebih Mey yang saat ini, dari belakang mencium tangannya, layaknya sang ibu membuat Mira tersentuh. Mbak Diah benar benar menjadi panutan dirinya sebagai seorang istri, dan ibu untuk anak anaknya kelak. Entah Mira tidak tahu, apakah ia bisa mendidik anaknya nanti sama seperti mbak Diah
Mey sendiri tumbuh menjadi anak yang ceria, bahkan solehah nya yang di usia tujuh tahun, sudah fasih dalam melantunkan ayat suci. Bahkan selain materi yang cukup, mbak Diah tidak lupa membekali agama untuk Mey. Mira tak lupa berdoa di sepertiga malam, meminta allah swt memberikan yang terbaik. Mira pernah sesekali dan sering membuat bang Fariz lupa pulang ke rumah mbak Diah, seolah merebut cintanya yang begitu dalam pada Bang Fariz. Selalu ada terus menerus di dekatnya. Namun kejadian ini, membuat Mira tertampar jika cintanya yang berlebih akan membuat pencipta murka menyentilnya.
"Mey kalau sudah letih, langsung tidur ya!"
"Iya bunda. Tapi bunda Mira janjikan, besok kita jenguk bunda Diah di rumah sakit. Mey mau jenguk bunda, dan ngaji di samping bunda .. biar bunda cepat sembuh."
"Iya sayang." peluk Mira.
"Masyallah, kamu anak baik Mey sayang. Kamu begitu sholehah, terus kamu doakan bunda cepat sadar ya! biasanya, anak baik seperti Mey, sholehah seperti Mey cepat sampai dikabulkan."
__ADS_1
"Iya Nek. Bunda Mira, Mey ke kamar duluan." di anggukan Mira kala itu.
Bahkan kala ini, setelah Mey keluar dari musholla dalam rumahnya yang sederhana itu. Mira menatap ibunya dan memeluk dipangkuan sang bunda.
"Bu! Mira rasanya ga sanggup, bagaimana sosok mbak Diah dan ibunya yang begitu baik pada Mira. Bahkan Mira sempat jahat, ternyata saat mengantar bang Fariz ke kantor, Mira sempat lihat mobil mbak Diah, Mira ga tahu kalau mbak Diah juga membuat kemeja untuk bang Fariz. Padahal jelas saat itu Mira sempat melihat mbak Diah, pergi menjatuhkan paper bag. Mira sendiri sempat lihat itu adalah kemeja batik, tapi Mira letakkan lagi dan berlalu menuju rumah sakit. Mira sudah menjadi penghancur dalam pernikahan oranglain, dimana Mira juga menalak Ikhsan diam diam." isak Mira menyesali.
"Kamu bukan pelako-r sayang! sosok kamu dan Diah sama sama setara. Hanya saja, sudah garis tuhan. Karena Fariz yang memilih kamu, itu karena petunjuknya. Jangan menyalahkan diri Nak! berdoalah meminta ampunan, letakkan diri kamu ikhlas sebagai seorang istri. Bukan merendah hanya karena kamu seorang istri kedua. Kamu mengabaikan tugasmu, besok buatkan sarapan untuk Fariz! ikhlaskan diri kamu, jika ibu berada di posisi kamu dan Diah. Bahkan ibu mana yang tidak sedih, para ibu yang melahirkan kalian tidak siap menerima semua ini."
"Tapi Mira berdosa bu! harusnya Mira tidak pernah menerima pernikahan ini. Ini sama saja, Mira bahagia di atas penderitaan Diah karena merebut suaminya hanya karena Fariz masa lalu Mira. Bahkan Mira rasanya tidak sanggup, jika tahu sebelumnya Diah sakit. Seolah orang pasti mengatakan, jika Mira pasti bahagia jika istri pertamanya sakit keras. Terlebih kemarin lalu di rumah sakit, ada bang Rey, yang tak lain partner kerja bang Fariz dan Diah juga." jelas Mira, membuat hati ibu mana yang merasa ikut sakit batinnya.
"Jangan sedih nak! berwudhu lagi, dan shalat sunnah. Minta keikhlasan agar diri kamu lebih lapang menerima semua ini, yang kita anggap terbaik belum tentu yang terbaik. Jangan banyak sedih! kasian jabang bayi di dalam perutmu. Ingat minum susu dan buah sehabis ini ya!" pinta sang ibu, membuat Mira menurut.
"Pak, ini harus ditanda tangani oleh bu Diah dengan pak Ihsan saat itu juga tak ada. Terkait pesanan seribu pcs tempo lalu sudah di bayarkan 60 persen. Sisanya meminta design yang harus bu Diah kirim, tapi klien menunda pembayaran, sampai bu Diah kembali sehat, dan mengirimnya."
"Baiklah! tentukan saja semuanya, tetap berjalan seperti biasa saya dan istri saya akan handle design ini besok. Kalian tetap semangat bekerja, bantu doakan bu Diah kembali siuman!"
__ADS_1
"Maksudnya bapak dan istri bapak? gimana ya ..pak?" tanya Reya, staff karyawan yang Diah percayakan, seolah bingung.
Deg!
Fariz hampir lupa, seketika ia ingat Mira yang saat ini istri keduanya, yang bekerja di butik bagian design logo catering. Tidak mungkin juga Fariz katakan jika Mira akan membantu, kembali bergabung menghandle kerjaan Diah dan katakan dia istrinya juga di saat kondisi saat ini, jika jujur sekarang.
'Ya rabb! bahkan seperti ini rasanya mempunyai dua istri. Maafkan saya sebagai suami yang masih lalai, dan tidak adil akan segala hal.' batin Fariz sebagai suami begitu munafik.
"Maksud saya! Mira biasa membantu pekerjaan bu Diah kan. Tolong kirim email surel Mira pada saya ya Reha!" titah Fariz, seolah agar karyawan tidak perlu tahu saat ini, padahal ia bisa saja menghubungi langsung Mira, dari ponselnya kapanpun.
"Baik pak."
Fariz pun kembali menuju rumah sakit, ia sedikit membeli buah dan membawakan pakaian baru untuk Diah di rumah sakit. Fariz begitu telaten, menjaga Diah meski Diah saat ini terbaring masih koma.
"Diah, cepatlah siuman. Maafkan abang Diah." lirihnya setelah masuk ke dalam mobil. Lalu sesekali menatap ponselnya, melihat nama Mira.
__ADS_1
Jujur kegilaan Fariz pada Mira, namun di saat Diah terpuruk sakit, ia merasa ketakutan saat ini, dimana Diah lah yang berperan membantu semua hal, dan sadar akan perlakuan kejamnya pada Diah.
TBC.