AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
INGKAR JANJI


__ADS_3

Mira yang tadinya merebut Fariz, hari ini ia kesal karena setelah Diah sakit, kesetiaan Fariz mulai kembali, dan hal inilah yang membuat Mira sedikit kesal.


“Nak, biarkan Mira menenangkan diri.” Ibu Mira hadir menghampiri Fariz yang terpukul, dimana dalam kandungan Mira lemah.


Ia tak sengaja melihat pertengkaran mereka yang dirinya sedang berada di dapur. Wajar, pernikahan mereka yang membuat kesalahan menyakiti istri pertama, begitupun ibu Mira sudah sulit memberi wejangan jika hubungan mereka itu sudah salah, sehingga hal seperti ini pasti akan terjadi.


Pasalnya, Mira merasa terabaikan karena posisinya menjadi seorang madu, tetapi kedatangan ibu bukan maksud untuk ikut campur. Melainkan menenangkan dan harus mengalah salah satunya.


“Mira suka seperti ini jika hatinya lelah, tetapi nanti dia balik lagi dan meminta maaf.”


Wanita paruh baya memberikan statement kepada Fariz untuk menguatkan. Ibu Mira sendiri tahu perihal masa lalu Fariz dan putrinya, ketika besannya itu datang menemuinya dan seolah ingat tetangganya dulu yang sempat terjalin akrab. Karena dipindahkan tugas membuat dua tetangga itu terpisah.


Sebagai ibu, paham betul bagaimana sikap putrinya. Apalagi Mira memang sering mengurung begitu untuk menenangkan hatinya. Setelah sekian lama menutup diri, tidak sangka putrinya dinikahi oleh masa lalu yang tak ingin putrinya kembali.

__ADS_1


“Maafin Fariz, ya, Bu, sudah membuat putri Ibu bersedih,” kata Fariz lesu. Ia tidak tahu jika Mira akan semarah ini.


“Ibu mengerti, Nak, tidak ada yang salah. Hanya saja kalian harus lebih dewasa lagi, terutama kamu itu, posisi kamu memang berat karena memiliki dua orang istri saat ini, kamu menikah tanpa istri pertama tahu dan setelah kejadian seperti ini. Namun, kamu harus ingat, Nak, kedudukan istri kedua sama halnya dengan istri pertama. Nggak ada salahnya jika Mira khawatir sama kamu, karena batin seorang istri tak pernah salah.


“Ibu bicara seperti ini bukan berarti menyudutkan kamu. Ibu sayang sama kamu, Nak, ibu hanya nggak mau kalian terpecah belah karena keegoisan.”


Sang ibu dari Mira, memberi sedikit wejangan dan keluasan hati agar Fariz bisa lebih terbuka dan berfikir banyak hal.


“Fariz pamit ke belakang kalo gitu, ya, Bu,” katanya sebelum melangkah pergi.


Menghadap sang Ilahi rabbi memang jalan terbaik. Selain membuat hati tenang juga mendapat petunjuk menuju keberkahan.


Sementara Mira yang meringkuk di balik pintu, sudah tak mendengar lagi suara Fariz. Hening dan sunyi, sepertinya dia sudah pergi dari depan kamarnya. Setelah Mira siuman dari rumah sakit, ia mengurung jaga jarak pada Fariz.

__ADS_1


“Inilah yang aku takutkan, berusaha berjalan di atas takdirnya dan ternyata aku sendiri yang terlalu berharap,” lirih Mira menekuk lututnya malas, sejujurnya kata kata Fariz akan menceraikan Diah, gagal karena Diah sakit.


Rasanya tidak mungkin jika Mira hanya diam tanpa perasaannya yang bergelut tentang keadaan Fariz.


“Bagaimana kamu bisa kuat, Mba? Aku merasa nggak mampu untuk bertahan,” kata Mira mengadu. Ingin sekali berbicara empat mata padanya.


Tok! Tok!


“Mira, Ibu boleh masuk?” Suara ibu lembut mengetuk pintu kamar sang putri.


"Mira, dengar Ibu, Nak. Kamu bukan lagi seorang gadis yang ketika marah harus mengurung seperti ini. Semua masalah bisa diselesaikan tanpa mengasingkan diri.”


Ibu beralih menasihati Mira. Tahu betul, perasaannya sangat terpukul. Berat menjadi Mira, dimana ia harus tahu diri ketika dirinya harus jadi istri kedua, karena Fariz ingkar janji tak akan menceraikan Diah.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2