AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
MENUJU RUMAH SAKIT


__ADS_3

Diah telah berada dalam mobil. Ia masih menunggu Sinta yang pergi menuju parkiran. Diah termangu, ketika supir itu melajukan mobilnya.


"Tunggu Pak. Teman saya belum naik, dia masih di loby, mohon menunggu sebentar!"


"Maaf. Tapi perintah bos anda harus lebih dulu. Ini perintahnya."


Diah terkejut, ia memegang ponselnya dan berkata dalam voice note. Hingga berkali kali ia mengirim. Tapi belum juga ada balasan, bahkan di baca pun belum.


"Sin. Kamu dimana, please jawab pesan aku. Kamu di mana?"


Diah memegang gagang pintu mobil. Suasana dalam mobil membuatnya takut dengan orang yang tak asing. Sehingga supir pribadi itu melirik dalam spion dan membalas rasa khawatirnya, karena mobil itu pergi tanpa menunggu Sinta, teman kerjanya.


"Sudah sampai Nona!"


Diah yang tadinya gugup, ia membuka hordeng kaca. Lalu menatap gedung yang tak asing. Gedung yang selalu ia hampiri.


"Oh. Terimakasih, saya sudah boleh turun. Sampaikan pada bos anda. Meski saya tidak mengenalnya. Terimakasih atas bantuan nya!"


Diah pun berlari menuju ruangan tujuh kosong tujuh. Di mana ia yang masih memakai piyama, ia tak membawa apapun untuk menjenguk ruangan sang mama angkat. Hingga di mana mobil itu baru berjalan, ketika ia telah masuk kedalam rumah sakit.


"Aneh. Kenapa bantuan itu tepat, aku baru sampai. Dia baru pergi, sungguh aneh. Sinta kemana sih? kenapa dia belum balas juga." benak Diah. Setelah pulang dari mall, Sinta ijin pergi, ia meminta Diah lebih dulu masuk ke dalam mobil, karena ia ingin menjenguk bu Riris.


TLING PESAN SUARA.


Diah berfikir itu adalah balasan dari Sinta. Tapi itu adalah email dari perusahaan ia bekerja.


"Hah. Apa, ini ga adil. Kenapa, a-aku di rumahkan sementara, proses cutiku kan masih lama?"


Diah hampir menjatuhkan ponselnya, sungguh ia lemas dan duduk di kursi kamar pasien. Ia menatap bu Ris yang masih mengenakan infus di beberapa titik tubuhnya. Lalu menatap nakas meja, terdapat parcel buah.

__ADS_1


Sepertinya banyak sekali buah, tapi kalau di lihat. Ada yang baru menjenguk, Diah pun berlalu keluar menanyakan pada suster, apa ada seseorang yang menjenguknya sebelum ia tiba.


Beberapa menit, Diah tiba dengan nafas yang terengah engah.


"Sus, apa ada yang menjenguk selain saya. Kamar tujuh kosong tujuh?"


"Sebentar ya bu. Saya cek dulu."


Selama lima menit lebih, suster itu mengatakan. Jika seorang pria belum lama menjenguk dan dia bicara masih kerabat keluarga Feli.


"Apa anaknya. Sus, Fariz datang?'


"Sepertinya saya baru pertama kali melihatnya. Karena saya baru bertukar sift."


Mendengar penjelasan itu. Diah berterimakasih lalu kembali ke ruangan kamar bu riris. Diah pun menatap sebuah destop untuk mengecas. Ia yakin, dia dan Fariz tak pernah mempunyai model pengisi daya ponsel seperti itu.


TRIIIING. VOICE NOTE MASUK.


"Diah. Lo udah sampe di rumah sakit, gue baru tau kalau kediaman lo sekarang ga aman. Banyak wartawan, juga rumah gue. Untuk saat ini rumah sakit adalah yang teraman. Lo jangan keluar dari sana. Pagi dan sore gue bakal anter beberapa pakaian ganti ya! gue sahabat yang bakal selalu ada bantu kesulitan lo."


Diah yang memakan apel merah. Ia tersedak kala mendengar pesan suara Sinta. Ia memutar mata dan kesal, hingga rasa laparnya tertunda. Tubuhnya menjadi tak berdaya kala mengingat satu indonesia yang menjadi bahan perbincangan tentang dirinya.


'Lara. Kamu selebgram terkenal, tapi piciknya kamu. Kembali naik dengan cara menindasku. Apa belum cukup untuk bermain denganku.' emosi Diah, ketika melihat situs resmi.


Diah pun duduk tertidur dan bercerita banyak dan mengelus lengan ibu mertua kedua sambil bercerita.


Hal yang Diah lakukan setelah merawat bu Ris. Mengelap sekedar menghangatkan tubuh untuk menggantikan pakaian, dan ia kembali bercerita tentang dirinya pertama ia bertemu.


Bu, apa saat ini ibu mendengar. Ibu tau, jika aku saat ini sedang sulit mencari cara melawan madu mas Fariz adalah Mirra. Ibu tahu, jika mas Fariz tak pernah mencintai Diah dengan tulus. Apa kurangnya Diah, bu. Ya. Diah sadar, Diah tau diri. Hingga Diah mengoplas wajah, demi melihat Fariz. Agar Fariz tidak jijik dengan wajah Diah yang rusak.

__ADS_1


Tapi sayang. Mas Fariz hanya menganggap aku sekedar teman di kala waktu ia menatap langit dan mengerjakan pekerjaan. Begitu tahu mendengar perkataan mas Fariz tidak suka jika kita menikah.


Diah sangat kecewa, tapi Diah berusaha sabar dan menerima. Berharap Fariz bisa membuka hati karena ia gila kerja. Seiringnya waktu, Diah menyerah hingga akhirnya mas Fariz mengejar dan meminta Diah menjadi ratunya, dan menyadari ia sangat mencintai. Tapi kenapa mas Fariz menodai pernikahan ini.


Lambat laun, Diah mengerti. Mas Fariz bukan gila kerja. Mas Fariz mencintai seseorang, seseorang yang lebih sepadan untuknya. Diah terlalu serakah bu, hingga kesulitan ini, Diah bingung untuk mencari cara agar madu mas Fariz tidak mengusik Diah. Karena masalah ini, Diah pasti akan kesulitan bekerja.


Diah masih bercerita, hingga di mana ia tidur dengan posisi duduk, sambil menangis tak biasa. Ia melupakan gerakan jari yang bergerak tanpa ia sadar.


'Maafkan Mama nak. Semua salah kami yang memaksamu. Kamu terbaik dan sepadan, tidak ada yang lebih baik. Mama menginginkan kamu menjadi menantu mama, bertahanlah. Rebut hati Fariz kembali nak!' deru batin ibu pasien paruh baya. Sementara Diah sedang tertidur pulas dikamar rumah sakit.


Akan tetapi, berbeda dengan pasien bu Ris dari alam bawah sadar, ia mulai bisa menggerakan jari, tapi matanya sulit untuk ia buka dan gerakan untuk menoleh.


Hanya sebuah pendengaran yang masih jelas ia tau. Sehingga ia mengeluarkan air mata dan kembali lemas. Kala suara Diah sedang berkeluh kesah, mengalami konflik.


DI PAGI HARINYA.


Diah terkejut akan aroma mie instan yang panas. Ia mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke sampingnya.


Terlihat suster sedang merawat bu Ris. Dan Sinta sahabatnya telah tersenyum duduk di sampingnya.


"Sin. Di sini, dari kapan. Kok gue .. ?"


"Ia gue pindahin lo ke sofa. Gue udah bawain makanan kecil, gue taro beberapa di kulkas Ya! bentar lagi mertua lo dateng, Riky sama Hanung bakal hubungi lo. Katanya mulai pagi ini, semua berita Lara bakal berbalik. Kita pastiin aja ya, kalau semua sosmed berita nama kamu yang hancur, berbalik ke lara." jelasnya.


"Benarkah?"


"Betul, coba lo liat ponsel. Hanung juga berkali kali telepon, tapi lo pules banget. Jadi ga gue bangunin deh. Lo udah terlalu sulit tidurkan akhir akhir ini?"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2