
Menuju pulang, Diah terkejut mendapati Ray yang menyusul.
"Sinta tidak bisa hadir, bagaimana luka operasi itu bekasnya apa sakit?"
"Tidak pak, terimakasih."
"Ayo, aku antar ke tempat aman. Jika Fariz tahu kamu disini, dia akan bingung karena wajahmu berbeda."
"Baik, makasih pak Ray."
Dalam hembusan angin, Ray membawa Diah dan menuangkan sesuatu dalam cangkir kecilnya. Tanpa sadar, jika Fariz masih mengamati Diah, andaikan Diah mau memberinya satu kesempatan, mungkin dirinya berada di samping Diah. Di saat Diah sedang syuting iklan, dan Ray terlihat berbicara. Sakit, bagi Fariz saat ini melihat Diah dengan orang lain, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Mira yang telah ia nikahi diam diam dari Diah.
Ray juga jujur, jika ia terlalu larut, mengatakan semua segala kekesalan dan kecemburuannya pada Diah. Sehingga ia terlalu memaksa, dan membuat Diah teringat, jika luka batin Diah masih basah dan pria yang bernama Fariz itu, harus ia hancurkan.
Ray yang telah duduk, Diah yang sedang break! Ia kembali bersenda gurau. Bahwa saat ini Diah berada di sisinya adalah suatu kebahagiaan, hanya butuh waktu untuk Diah sadar dan membuka hatinya untuk dirinya saat ini. Ray berharap, Diah sadar akan sikap dan ketulusan nya. Ia harus sadar, jika ia ingin sekali menikahi Diah dan menceraikan Fariz yang sudah menikah lagi, Ray tulus, dan bukan dengan pura pura. Hanya saja saat ini sebatas project ia bersama Diah.
"Ini adalah jahe rendah, sedikit hangat jika di minum sore seperti ini!"
"Hahaha. Apa aku harus memanggilmu Pak bos, pak Ray. Atau nama saja ..?" senyum Diah, ketika sudah selesai pemotretan.
"Terserah kamu Diah. Aku berharap, setelah proyek berjalan ini. Tidak ada lagi, wanita modus yang mendekatiku. Sudah lama aku tidak mencukur jambang dan kumis. Jadi aku harap, kamu tetap di sisiku. Perfect selalu, agar segalanya lancar bukan." lirik Ray pada tatapan Diah.
"Modus, aku senang jika kita seperti ini. Aku jadi tidak sepi, aku punya tempat mengobrol. Karena project ini, aku bisa mengumpulkan pundi untuk masa depan anak ku." senyum Diah.
"Jika aku jadi Fariz. Aku tidak akan menyianyiakan kamu Diah. Aku salah, menemukanmu dengan terlambat." ucap Ray.
"Hanya saja kita tidak berjodoh, mau bilang apa Ray." balas Diah.
__ADS_1
Tak lama Diah semakin pusing, ia sedikit rabun akan pandangannya. Sehingga perkataan itu semakin meracau, aksi Diah saat ini adalah telah mual parah. Hingga saat berbicara serius, di jawab tak seimbang dan aneh.
"Ayo kita masuk Diah. Aku akan antar kamu pulang!"
"Tidak perlu, aku hanya lupa minum vitamin. Sebentar lagi Riky dan Hanung pasti akan menjemputku! atau Sinta segera sampai." balas Diah.
Pandangan Diah semakin tak karuan, ia lesu dan pasrah. Hingga akhirnya ia meminta bantuan juga.
"Ray, bantu aku! Aku ingin berbaring di sofa. Keram perutku, terkadang sering lemas dan ingin memejamkan sedikit mata. Agar aku bisa kembali fit."
"Benarkah? apa kehamilanmu tidak terlalu serius Diah, kita ke dokter ya? apa Fariz tahu kamu sedang hamil?" tapi Diah masih sadar, ia menggeleng, Diah hanya meminta di rebahkan di sofa sejenak.
Ray membopong Diah, lalu tangan kanannya menutup tirai dengan remot. Hingga di mana, Diah masih meracau dan menoleh pipinya.
Jauh dari dalam hatinya, Ray ingin meresapi kecupan manis bibir tipis indah Diah. Saat sekolah dulu, pertama kalinya ia memberi nafas buatan, hingga kedua kali nya ia semakin lama, dan sedikit menikmati membuat Ray, candu ingin mengulang.
'Andai saja. Aku bisa memilikimu, dan bersabar menunggu hatimu terukir namaku Diah. Aku akan cukup bersabar dan melindungimu.' gemuruh Ray.
"Diah, Diaah .." menepuk pipi.
Ray berteriak, ia meminta security membukakan pintu. Lalu meminta Ken, segera cepat mengendarai mobilnya. Rasa panik itu membuat Ray, membopong dan tak menghiraukan tatapan orang lain.
"Minggir kalian!! teriak ray!" pada seluruh yang terpana melihat sang bos, membopong Diah.
"Ken, cepat bawa dengan cepat! kita ke rumah sakit terdekat!" titah Ray, pada keponakannya itu, melempar kunci mobilnya.
Hingga sampai beberapa puluh menit, mereka sampai di rumah sakit. Tak lupa kala Fariz yang mengikuti juga dari belakang. Sehingga kala panik melihat Diah yang di dorong oleh Ray. Tangan Fariz ikut mendorong dan saat itu juga Ray dan Fariz saling menatap tajam, bersamaan dengan mendorong ranjang Diah yang segera masuk ruangan Ugd.
__ADS_1
"Bapak tunggu di sini, pasien segera kami periksa!" ucap suster yang terlihat bingung, apakah dua pria ini suami dari wanita yang akan di tangani dokter.
***
KAMAR MIRA
Diah bermimpi dalam alam bawah sadarnya, mereka sempat mempunyai bayi bersama mas Fariz. Mereka juga menatap bayinya. Ia segera meletakkan baby di ranjang bayi. Sementara mereka saat ini, menunggu kedatangan pengasuh yang sedang belanja bulanan bersama mama mertua.
Tapi Fariz masih saja memeluk Diah dari belakang.
"Sayang, gimana kalau kita berikan adik untuk si handsome?"
"Mas, masih kecil. Aku ga mau, masih terlalu sakit aku rasakan."
Fariz, yang sedikit tergoda, ia membuka dan menyentuh gunung kembar Diah. Bibir Diah sedikit membuka, tanpa menunggu aba aba. Fariz menyesapi, dan mereka masih sesekali menatap ranjang bayi yang sedikit pengertian.
Fariz sangat nakal, ia terbawa suasana dan menyesapi tutup botol milik Diah. Hingga di mana, Diah membuka matanya dan menarik tubuh saling beradu.
Fariz tak tahan, hingga di mana jelas ia menatap seluruh milik Diah bulat, silau lampu ia remangkan. Namun ia sedikit sadar, ia tak mungkin melakukannya saat ini, tak ingin mengambil hak tanpa persetujuan Diah. Fariz menyudahi aksinya yang hampir lama membuat Diah lemas.
"Sayang, apakah kita bisa melakukanya. Si baby, tidak akan haus lagi kan?"
"Sepertinya, mas Fariz harus sedikit cepat! jika bayi kita menangis. Maka aku harus menyudahinya." bisik Diah, membuat tatapan Fariz lemas.
Tubuhnya merasa lelah saat ini, bahkan ia merasa ada sesuatu yang aneh padanya. Ia merasakan bagai mimpi, kecupan nikmat tapi ia seperti terlelap.
"Baby, jangan rewel. Papa butuh momy kamu sejenak sayang." Fariz menatap ranjang bayi.
__ADS_1
Akan tetapi monitor kembali terpampang dan kembali lagi terdeteksi. Diah mulai sadar jika hubungannya dengan mas Fariz akan berakhir. Sudah ada wanita bernama Mira, yang menggantikan posisinya. Sehingga Diah semakin yakin, jika dirinya tidaklah berguna bagi mas Fariz saat ini. Lagi pula, wajah Diah saat ini benar benar tidak akan dikenali meski belum bercerai pun, sudah putus harapan.
Tbc.