
Meninggalkan beberapa pekerjaan, yang disambung ke face wajah Diah. Setelah selesai, Diah ingat kebersamaan dahulu dengan Fariz yang manis, dimana saat di kamar ia segera menemui istrinya.
"Hubby, kejutan apalagi ini, apakah cara memanjakan istrimu seperti ini, agar aku tidak berpaling?"
Diah, menyusuri perlahan ke arah kamar sebelah, setelah ia meminum susu seteguk gelas, mencuci wajahnya dan menumpahkan satu dua tetes skincare agar wajahnya fresh.
Cekrek. Pintu pun dibuka.
Terlihat bungkusan besar coklat dan kotak merah, terlihat di meja ruangan kamar kedua.
Perlahan membuka pita merah kecil, ia melihat sebuah cincin dan gelang yang cantik.
"Sayang semoga kamu menyukainya, bukalah dan lihatlah kejutan besar berikutnya!"
Diah membuka pita besar itu, dan merobek perlahan kertas coklat itu, Hingga terkejut dengan mata berbinar binar.
"Apa kamu menyukainya sayang?"
Lirih Fariz, yang masih bertelanjang dengan handuk kecil dilehernya saja menempel, dan menghampiri Istrinya.
"Mas Fariz, ini lukisan pertama kali kita project bareng kamu buat kan? Aku tahu, bukankah saat itu aku bekerja di museum yang didirikan oleh mendiang ayahmu, hingga kita berpisah dan aku tidak sangka, selama itu kamu memperjuangkan hubungan kita."
"Iya sayang, kamu ingat buku remaja karya kita judulnya, saat perusahaan dimulai, aku masih sangat belia. Menghilang dan sekian lama, aku baru tahu jika kamu menjaga dirimu, tidak dekat dengan pria manapun."
"Yap, aku mengingatnya Fariz, kamu selipkan gambar sketsa itu dan di tulis di buku itu kan?"
"Good, sayang kamu mengingatnya. Dan ini adalah dua tahun hari jadi lukisan dan buku itu meledak, tepat ditanggal hari ini, kamu tahu aku memajang lukisan dan benda antik ini di luar negri saat kita jarak jauh, banyak menyukai hasil karyaku ini, semua itu karena kamu sayang."
"Bukankah ini saat aku, meneguk coffe hangat, baju rajutan ini, ah saat kamu tenggelam dan membeli pakaian dadakan di butik saat itu?"
"Heumph, ia sayang benar sekali, terimakasih ya, sudah hadir selalu mengisi kehidupan berwarna."
"Terimakasih sudah mengagumi berlebih tuan tampan." Diah mencubit pipi gemas Fariz.
Diah membalikkan badan ke tatapan suaminya, Fariz saat itu manis memakaikan gelang dan cincin hadiah kecil, Diah terpana dan mengecup bibir suaminya dengan lembut memulai.
Tak lama pesan chat group itu, membuat Diah senyum senyum sendiri, di sudut lain seorang pria memandang dengan menggelengkan kepalanya.
"Ayo sayang, sarapan mu sudah aku siapkan!"
"Terimakasih mas."
"Sayang, apa rencana mu hari ini libur, apa kita akan di rumah saja. Atau kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
__ADS_1
"Fariz, sebenarnya aku mau izin ke cafe yang di share lock temenku tempo di kantor .. Tapi apa kamu mengizinkan?"
"Tentu saja, kenapa tidak. Tapi jangan lelah, dan perhatikan kandunganmu."
Dengan suapan daging besar Fariz melahap, dan, Diah menunjukan percakapan group pada Fariz sebagai pertimbangan.
Eum ..
Fariz mengelap dengan tissue saat terlihat ada nama Ikhsan.
"Pria gorila itu apa akan datang sayang?"
"Fariz, please kamu tahu kamu percaya padaku, Mira hanya akan bertukar pendapat. Jika kamu sebal padanya, kata pepatah mengatakan istri yang hamil, jika sepasang itu membenci seseorang, bayinya akan terlihat mirip pada yang dibencinya. Apa kamu ingin anak kita mirip orang lain hubby?"
"Ah, benarkah seperti itu, pasti tidak masuk akal, benih itu milik ku, mengapa bisa jadi mirip orang lain sayang?"
Fariz menatap istrinya yang sedang melahap buah pisang, ingin sekali tak peduli akan perkataan istrinya.
"Baiklah aku mengizinkan."
"Makasih mas Fariz." senyum Diah.
"Bagaimana soal di korea sayang?"
"Sudahlah sayang, semoga hasilnya baik baik saja."
Pagi hari mereka masih habiskan bersama. Di hari libur, sedang Diah ada janji di jam empat sore nanti.
"Seperti ini sayang, angkat sedikit, tarik dan lepas ... oke seperti itu ulangi lagi!"
"Baiklah, terimakasih mas Fariz."
Fariz menggenggam tangan Diah, melatih olahraga menusuk anak panah pada bulatan dinding yang dituju.
Setelah itu Fariz menemani pemanasan untuk olahraga yoga, dan senam ibu hamil yang ringan.
"Mas, kamu ganti celana itu ketat sekali!"
"Apa ada yang salah, aku sama padamu sayang kita sedang yoga."
"Tapi kamu memakai celana legging ku. Bagaimana jika nanti melar dan itu tidak bagus ketika aku pakai lagi akan bergelambir diterpa angin."
"Kenapa tidak bagus sayang?"
__ADS_1
"Kamu masih ingin tanya?" ujar Diah menatap arah bawah.
Fariz menatap bagian kepunyaannya yang menonjol jelas. Meski legging itu hitam, jika Diah tak protes menunjuknya. Ia pasti malu kelak jika senam yoga hamil ini diberikan kelas hamil di rumah.
Bagaimana bisa, bagus saja aku lakukan di rumah dan berlatih karena pelatih senam sedang libur.
"Mas Fariz, kamu membuat aku malu jika ada pelatih datang."
"Celana ini terlalu nyaman, jadi aku tidak sadar jika membuatnya menonjol." tawa renyah, membuat Diah mengedipkan mata syok.
"Sudah ayo ganti, please mas! aku risih atau aku akan menggenggam itu mu."
"Tidak sayang, baiklah aku akan ganti."
Fariz menurut jika istrinya tidak sedang hamil, ia pasti sudah menghukumnya nikmat. Hingga istrinya itu meminta ampun.
"Aku seperti ini rendah dimata istriku terlalu bucin, karena takut calon anakku terjadi sesuatu." gumamnya.
Diah masih rileks dengan bola hamil ia duduk bergoyang, Lalu menatap suaminya hanya memandangnya dengan boxer dan singlet putih kaos tanpa lengan itu.
"Diah, Fariz Kalian dimana?" teriak lembut ibu mertua.
"Aku disini Bu, diruang gym mas Fariz"
Terlihat antusias ibu mertua menghampiri.
"Lihatlah lah ibu membawa sesuatu untuk kalian, loh tapi Fariz kamu, kenapa pakai celana boxer, tapi dalaman celana ketat apa itu legging istrimu?"
Diah tertawa, akan suaminya yang mengenakan celana legging, tapi begitu disindir, ia mulai mencari boxer baru.
Bagaimana tidak lucu seorang pria memakai celana legging wanita, dan ditutupi boxer mickey mouse kuning cerah nan kecil miliknya.
"Ya sudahlah, Fariz memang aneh saat memilikimu Diah." ketusnya.
Benar saja saat melewati cermin, Fariz syok melihat dirinya sendiri.
"Sayang, setelah aku antar ke cafe. Aku harus ke gerai. Doakan semua project terlelang dengan sempurna."
"Iya pasti mas."
Diah menatap gambar usg, dimana kelembutan ibu mertuanya dahulu dan mas Fariz begitu lembut, jauh sebelum tragedi keguguran Diah yang jatuh dari anak tangga saat itu.
Diah duduk lemas, sejujurnya ia pernah bahagia bersama Fariz. Tapi kali, ini benar benar Diah harus rela jika di madu.
__ADS_1
TBC.