AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
SALING MEMBANTU


__ADS_3

"Jangan sedih Diah, saatnya gue ajak lo ke tempat sesuatu, beri pelajaran Fariz. Lo cerai harus dengan tampilan beda." ujar Sinta, yang tidak ingin Diah terus mengingat Fariz yang menikah lagi.


Sementara Sinta membawa Diah ke salon kecantikan. Diah mulai melihat lihat perlengkapan kecantikan apa saja yang ada di gerai Story. Sinta mulai mengenalkan sebuah herbal, make up dan sebuah pakaian untuk menutup lemak di bagian pinggangnya.


"Sin, untuk apa bawa aku kesini, aku tuh udah bilang ga akan bisa kurus putih."


"Diah, kita wanita. Aku sama sepertimu, tapi setelah aku bercerai dari suami bule. Aku berubah dan mulai menjaga pola makan. Diet ketat sih gak harus. Tapi setidaknya buat pria yang mencemooh kita menyesal!"


Diah mulai di dandani sebuah make up, dan pakaian casual yang terlihat dirinya lebih ramping. Jujur saja karena Diah saat ini selalu memakai pakaian gombrong. Bahkan tubuhnya terlihat sangat lebar, benar saja Diah sangat elegan dan cantik ketika Sinta mendandani.


"Gimana, baguskan?"


"Cantik Sin. Makasih ya! Yes, Diah janji akan buat pria itu menyesal. Gara gara dia, hidup Diah berantakan."


Penjelasan Diah membuat Sinta memberikan sebotol herbal. Ia meminta Diah rutin, dan efeknya emang berbeda beda. Ada yang tumbuh banyak jerawat, kusam ataupun semakin lebar. Tapi itu hanya akan bertahan dan merubah selama tiga bulan tergantung imun tubuh menerima dari herbalnya.


"Mbak yakin ini berhasil?"


"Yes! semoga berhasil, untuk kamu dan untuk wanita yang selalu di bully karna fisik hitam. Jadi aku mau kamu telaten ya rutin minum herbalnya. Meski pahit tujuh kali lipat dari buah pare telur. Tetap saja, cantik itu mahal dan butuh proses." jelas Sinta, membuat Diah memeluk rasa terimakasih.


***


DI RUMAH.


"Lho, apa kak Lilis sudah kembali?" tanya Diah pada asistennya.


Terlihat jelas, jika Diah melihat sang kakak sedang beradu mulut. Diah meletakkan barang dan tas nya. Lalu dengan tak sengaja, ia beranjak pada wajah sang ibu.


"Pokoknya Lis ga mau di jodohin ya pah!"


"Lis, tapi ayah sudah janji mengenalimu pada teman ayah. Jika salah satu putri ayah, harus menikah dengan putranya. Lagi pula anak paman Jek adalah teman ayah dan teman mama kamu juga."

__ADS_1


"Jadi ini alasan papa pinta aku pulang ke indonesia, karena aku harus di nikahkan. Pokoknya aku ga mau. Aku ga mau perjodohan itu terjadi, papa harus batalin."


"Nak, setidaknya pendekatan dulu. Kamu harus mengenalnya!"


Diah menatap sang mama, lalu ia mencoba bertanya pada sang mama. Tatapan Lis, kembali pada Diah dengan wajah sendu, sadar sedang di bicarakan.


"Maafkan aku dik! aku harus kembali ke paris. Jika ayah sudah bicara untuk membatalkan perjodohan, aku akan kembali."


Jujur saja Lis, sang kakak, sangat keras kepala. Tidak sedikit bahkan sering sekali sang papa selalu beradu argumen tak ada yang mau mengalah.


"Kak, kamu akan meninggalkanku. Bukankah kamu baru sampai?" tanya Diah.


"Pokoknya setelah perjodohan berhenti. Aku baru akan temani kamu, dan aku ga mau papa buat aturan untuk masa depanku. No!"


"Tapi kak, setidaknya jangan lagi ke paris. Rumah ini terasa sepi, aku mohon."


"Jika bukan karena paman Jek. Kita tidak bisa hidup semewah ini, setidaknya kamu turuti permintaan papa Lis!"


Mendengar nada keras itu, membuat Papa Aran sesak, lalu dengan kilat mama mendekat dan Diah berbicara lembut.


"Pah, lagi pula aku tidak magang lagi. Pekerjaan sebagai pengganti mbak Sinta, sudah selesai. Bagaimana jika papa kenalkan aku dengan putra paman Jek. Setidaknya aku akan gantikan kak Lis."


"Apa, tapi kamu baru lulus sekolah Diah. Bagaimana dengan rencana kuliahmu. Pernikahan itu bukan untuk main main. Papa tidak ingin semua jadi permainan."


"Pah, lagi pula salah satu anak papa kan. Diah gantikan kak Lis, lihat saja face dan postur aku dengan kak Lis. Jika aku yang di sodorkan, belum tentu putra paman akan menerimanya. Aku gadis gendut, jelek dan lemak kotak kotak serta hitam ini sangat membuat pria lain ilfill. Dengan begitu janji papa telah terpenuhi, ketika anak dari paman Jhoni menolak kan?"


"Diah, kenapa kamu merencanakan semua ini. Papa tidak terpikir dengan cara seperti itu, papa yakin itu akan jadi boomerang untukmu. Bagaimana jika kelak pria itu menyetujuinya?"


Semua terdiam, lalu entah kenapa Diah sedikit gugup. Lalu ia senyum untuk mencairkan suasana.


"Jika ia menerima, Diah yakin dia akan cepat memutuskannya pah. Mengingat fisik aku."

__ADS_1


Papa Aran segera memeluk putri bungsunya, seraya ia bicara untuk meminta Diah percaya diri. Jika putrinya bukanlah gadis yang buruk rupa. Kecantikan Diah sedikit tersembunyi di balik tubuh hitamnya. Meski sang papa telah membantu herbal tetap saja tak kunjung mengurangi keindahan tubuh Diah.


Sementara sang mama, ia tak ingin anaknya benar benar diet ketat tak sedikit pun tidak memakan nasi. Karena itu memicu stres dan itu pernah terjadi pada Diah.


"Setidaknya aku menyelamatkan kak Lis, Pah! Mah. Izinkan aku menggantikannya, sebagai bentuk kasih sayang dan papa tidak perlu merasa bersalah balas budi lagi."


"Setidaknya anak kita membuat pernyataan dan perjanjian yang kau buat Aran." lirih Rita sang istri pada suaminya.


Hal itu juga membuat Aran memeluk Diah. Ada rasa kehangatan dan sejuk bagi Diah saat mendapat pelukan dari sang papa angkat. Namun tidak dengan Lis, yang masih egois, ia merasa lega karena dirinya tak perlu lagi di jodohkan. Belum lagi fans setia di sosmednya, jujur saja Lis? cantik terkenal dari berbagai endorse yang memintanya.


"Tunggu! Diah, kenapa kamu bau parfum pria?" tanya Papa.


Hal itu membuat semua mata terdiam, lalu membuat gelagap bergetar kala sang papa menanyakan hal aneh. Jujur saja Diah tak mungkin bicara jika ia telah bertemu dengan seseorang dan mengatakan kejadian beberapa jam lalu ia bertemu dengan pria yang telah merusaknya.


'Tidak, aku katakan nanti saja. Aku harap semesta menolongku! maafkan aku Pah! Mah.'


"Katakan pada papa, apa yang kau lakukan Diah?"


"Aku melakukan apa? Maksud papa..?" berlaga tak mencium parfum, ketika Diah mencium baju lengannya.


Diah segera bangkit dan masuk kedalam kamar. Ia izin pamit ketika alasan bau busuk berasal dari badannya, bukan parfum.


Tak lama Lis memegang tangan Diah.


"Kamu yakin ingin membantuku?" bisik Lis pada Diah di kamar.


"Aku akan membantumu menggagalkannya Lis, jujur aku tidak bisa menikah karena aku masih berstatus istri orang, lagi pula jika pria itu tidak baik, aku bertanggung jawab membantumu Lis. Karena kamu, aku berada di keluargamu yang baik ini. Sudah semestinya kita saling membantu bukan?"


"Thanks Diah." peluk Lis.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2